Buya Gusrizal Bongkar Kebenaran Soal Pernikahan Nabi di Surga: Hati-Hati, Ini Peringatan Keras untuk Para Da’i!

  • Whatsapp
Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Belakangan ini, jagat maya dihebohkan dengan pernyataan ustadz Maulana yang mengklaim akan ada dua pernikahan agung di surga. Klaim itu sontak memicu perdebatan panas di tengah publik. Kini, ulama kharismatik sekaligus Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Gusrizal Gazahar, angkat bicara. Dan peringatannya cukup tegas: jangan asal menyebarkan kisah tanpa dasar yang kokoh!

Semua bermula dari sebuah podcast di kanal YouTube C8 Podcast yang dipandu Ivan Gunawan. Dalam acara tersebut, seorang pendakwah yang akrab disapa Ustadz Maulana dengan lantang menyebutkan bahwa kelak di surga akan berlangsung dua pernikahan luar biasa. Pertama, Nabi Isa AS menikah dengan Asia binti Muzahim. Kedua, Nabi Muhammad SAW menikah dengan Siti Maryam. Bahkan, ketika Ivan Gunawan mempertanyakan kebenarannya, Ustadz Maulana bersikukuh bahwa informasi itu berasal dari hadis dan kitab-kitab para ulama.

“Sebenarnya tahayul itu karena tidak berdasar. Tapi ini kan semua ada dasarnya. Kenapa orang berkata, ‘Ah, kok enggak ada,’ karena dia malas membaca,” ujar Ustadz Maulana dalam cuplikan video yang viral tersebut.

Namun, pernyataan itu nyatanya tidak serta-merta membuat Buya Gusrizal ikut membenarkan. Setelah melakukan penelusuran mendalam terhadap sanad dan riwayat yang diklaim sebagai dalil, Buya yang dikenal alim itu justru menemukan fakta yang sangat berbeda.

Dengan nada bijak namun tegas, Buya Gusrizal menjelaskan bahwa dirinya paham betul ada sejumlah da’i yang merujuk pada riwayat-riwayat tertentu, termasuk yang mengaitkan pernikahan di surga dengan Asia binti Muzahim, Maryam binti Imran, hingga saudari Nabi Musa. Tapi, setelah ditelusuri, semuanya tidak sampai ke derajat sahih.

“Bahkan, tidak sedikit dari riwayat-riwayat yang bertebaran itu jatuh kepada dhaif jiddan (lemah sekali), munkar, bahkan palsu,” tegas Buya Gusrizal dalam keterangannya, Rabu (14/5).

Menurut Buya, memang ada sebagian kitab, termasuk yang dinukil oleh Al-Imam As-Suyuti, yang menyebut kisah-kisah semacam itu. Tapi hal itu tidak lantas menjadikan riwayat tersebut layak dijadikan pegangan dalam berdakwah. Apalagi untuk perkara sebesar pernikahan di akhirat yang tidak pernah secara gamblang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih.

“Jadi, sebaiknya cerita seperti itu tidak dijadikan sebagai rujukan untuk disampaikan kepada umat,” pesan Buya dengan tegas.

Buya Gusrizal pun mengingatkan para penceramah dan ustadz agar jauh lebih selektif. Meskipun niat mereka mungkin mulia, yakni ingin mengangkat kemuliaan Rasulullah SAW, kehati-hatian tetap wajib diutamakan. Jangan sampai umat justru bingung dan salah paham karena mendengar kisah-kisah yang tidak jelas pangkalnya.

Yang terpenting, Buya menegaskan bahwa segala hal yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW—baik tentang keutamaan, kisah, maupun perkara gaib akhirat—harus merujuk pada dalil yang sahih. Bukan sekadar cerita yang viral di podcast atau media sosial.

Pesan Buya ini tentu menjadi cambuk keras bagi para pendakwah di era digital. Karena di tengah gempuran konten instan, umat butuh penjelasan yang benar, bukan sekadar spekulasi yang dikemas secara menarik. Wallahu a’lam.

Related posts