MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Pernahkah Anda merasa bangga dan merasa memiliki sepenuhnya atas rumah, mobil, jabatan, atau harta yang saat ini Anda kuasai? Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuk Palimo Basa, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, mengingatkan sebuah fakta mendasar namun kerap dilupakan banyak orang: semua yang kita anggap “milik” sejatinya hanyalah titipan sementara.
Dalam kajian rutin di Masjid Ansharullah Muhammadiyah belum lama ini, Buya Gusrizal membedah makna mendalam dari kalimat “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin” dalam surat Al-Fatihah. Menurutnya, kalimat yang dibaca umat Islam minimal 17 kali sehari dalam salat ini menyimpan pesan tauhid yang sangat kuat tentang kepemilikan hakiki.
“Allah ketika mengatakan diri-Nya sebagai Rabbul ‘Alamin, Dia adalah khaliquun mubdiun—pencipta yang menjadikan dari tidak ada menjadi ada. Itu kepemilikan hakiki. Sedangkan kita? Kita hanya mustakhlaf, penerima titipan,” tegas Buya Gusrizal dengan lugas.
Buya mengajak jamaah merenungkan Surah Al-Hadid ayat 7 yang menyebut kata mustakhlafin. Artinya, manusia hanyalah pelanjut atau penerima warisan dari generasi sebelumnya. Bukan pemilik pertama, apalagi pemilik abadi.
“Bapak-ibu punya rumah, punya tanah, punya mobil. Apakah kita pemilik pertama? Tidak. Itu karena ada orang sebelumnya yang meninggal atau berpindah. Kalau seandainya mereka abadi, tidak akan pindah ke tangan kita. Maka jangan pernah bermimpi harta itu akan kekal di tangan kita,” ujarnya mengingatkan.
Lebih lanjut, Buya menyebut bahwa klaim kepemilikan manusia sangat rapuh. Bahkan diri kita sendiri, kata beliau, bukan milik kita. Inilah makna mendalam dari kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” yang sering diucapkan saat musibah.
Dalam kajian yang cukup menggelitik itu, Buya Gusrizal juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang gemar mengirim karangan bunga untuk orang yang terkena musibah kematian. Beliau menyebut hal itu sebagai pemborosan yang tidak diajarkan Rasulullah.
“Kalau awak kebelet ke orang kena musibah, tak perlu pakai karangan bunga. Sekarang ada WA. Kirim pesan takziah, ucapkan seperti yang diajarkan Nabi: ‘Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha,'” jelasnya menirukan doa Rasulullah.
Menurut Buya, pesan Nabi kepada putrinya saat cucu beliau sakaratul maut justru menegaskan bahwa milik Allah yang diambil, dan milik Allah pula yang diberikan. Tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi hak milik mutlak manusia.
Buya Gusrizal kemudian memaparkan tiga makna penting dari kata Rabbul ‘Alamin yang terkandung dalam surat Al-Fatihah:
1. Pencipta — Allah menjadikan seluruh alam dari tiada.
2. Pemilik — Dialah pemilik hakiki, berbeda dengan kepemilikan manusia yang hanya warisan.
3. Pengatur — Tidak satu pun makhluk yang lepas dari kontrol dan ketentuan Allah.
“Dari sini lahir tauhid. Orang yang membaca Al-Fatihah dengan penghayatan akan bertambah ketauhidannya. Dia sadar bahwa apapun yang dia klaim sebagai miliknya—jabatan, kekuasaan, harta—hanyalah titipan yang pasti akan ditinggalkan atau meninggalkannya,” papar Buya.
Dengan logika sederhana, Buya menjelaskan: “Kalau kekuasaan itu kekal di tangan Soekarno, maka Soeharto tidak akan jadi presiden. Kalau kekal di tangan Soeharto, Habibi, Megawati, Gus Dur, apalagi Jokowi dan Prabowo, tidak akan jadi presiden. Nah, ketika kita sedang menjaga titipan, jaga pulalah. Jangan mantang-mantang (besar kepala) seolah akan berpunya selamanya. Itu kekeliruan manusia.”
Di akhir kajian, Buya Gusrizal mengaitkan pemahaman Rabbul ‘Alamin dengan fungsi shalat yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar.
“Kenapa shalat bisa mencegah keji dan mungkar? Karena saat shalat kita membaca Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, maka hilanglah rasa sombong, angkuh, hasad, dan iri. Orang yang yakin bahwa rezeki, jodoh, dan mati sudah diatur Allah, tidak akan sakit hati melihat orang lain dapat. Tidak akan rabut-rampe (serakah) dalam hidup,” jelasnya.
Sebaliknya, jika shalat hanya gerakan tanpa penghayatan, Buya mengingatkan bahwa karat-karat hati akan menumpuk seperti besi berkarat. “Basi hati itu ibarat karat. Kalau dibiarkan, akan menggerogoti. Obatnya adalah zikir, salah satunya dengan menghayati subhanallah wa bihamdihi,” pungkasnya.
Di akhir pengajian, Buya Gusrizal menambahkan bahwa dirinya akan bertugas ke Tanah Suci sebagai musyrif (pengawas) dan konsultan haji atas penunjukan Kementerian Agama. Beliau berangkat pada hari Selasa mendatang dengan masa tugas sekitar 25-27 hari, tidak sampai 40 hari seperti jamaah umum.
“Doakan saya supaya amanah ini bisa terlaksana dengan baik. Dan doakan juga saudara-saudara kita yang menjalankan ibadah haji supaya lancar, mendapat ridha Allah, serta meraih haji yang mabrur,” pintanya.
Jamaah pun serentak mengaminkan doa yang dipanjatkan di akhir kajian tersebut. Amin ya Rabbal ‘alamin.






