Gak Cuma Dilihat! Buya Gusrizal Gazahar Bongkar Rahasia ‘Tes Keimanan’ Calon Pasangan Hidup – Wajib Tahu Sebelum Tunangan!

  • Whatsapp
Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Sebuah tausiah menarik disampaikan oleh ulama kharismatik sekaligus Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, di Masjid Surau Buya Gusrizal, Kota Bukittinggi. Beliau mengupas tuntas rahasia di balik Surat Al-Mumtahanah ayat 10 yang ternyata menyimpan pelajaran luar biasa bagi kehidupan rumah tangga, khususnya soal masa pertunangan.

Ayat dengan terjemahan “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang wanita-wanita beriman yang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji keimanan mereka” ini menjadi kunci jawaban bagi mereka yang bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin menguji sesuatu yang tersembunyi di dalam dada?”

Buya Gusrizal mengajak jamaah untuk menyelami sejarah Perjanjian Hudaibiyah tahun ke-6 Hijriah. Saat itu, Rasulullah SAW bersama para sahabat berangkat ke Makkah dengan damai untuk beribadah umrah. Namun kaum musyrik Quraisy menghalangi kedatangan mereka hanya karena rasa tidak suka.

“Ukurannya adalah kebencian dan ketidaksukaan. Ini standar jahiliah,” ujar Buya dengan nada sinis meniru sikap kaum musyrik.

Perjanjian Hudaibiyah yang dihasilkan pun tampak berat bagi umat Islam. Salah satu poinnya menyebutkan bahwa jika ada muslim Makkah yang lolos ke Madinah, harus dikembalikan. Namun jika ada musyrik Madinah yang lolos ke Makkah, tidak wajib dikembalikan.

Umar bin Khattab RA sempat memproses keputusan ini kepada Abu Bakar. Namun Abu Bakar hanya menjawab tegas: “Innahu Rasulullah” – sesungguhnya dia adalah Rasulullah, yang seluruh sikapnya dituntun oleh Allah SWT.

Kisah haru pun terjadi ketika Abu Busair, seorang muslim yang lolos dari Makkah, harus dikembalikan sesuai janji. Meskipun dia menangis dan memohon, “Ya Rasulullah, mereka akan memfitnah agama saya, merongrong akidah saya,” Nabi tetap komitmen menunaikan janji.

Namun di perjalanan, Abu Busair berhasil memperdaya dua pengawalnya. “Sepertinya pedang engkau itu kurang tajam ya?” ujarnya memancing. Begitu pedang diserahkan, ditebasnya mati satu. Yang satu lari ketakutan.

Ketika putri Nabi, Zainab, melarikan diri ke Madinah, muncul pertanyaan: Apakah wanita termasuk dalam butir perjanjian? Di sinilah Allah menurunkan Surat Al-Mumtahanah ayat 10.

“Kenapa wanita harus diuji?” tanya Buya retorik. “Karena wanita sering dijadikan alat oleh musuh untuk menyelusup ke dalam masyarakat kita. Sejarah spionase dunia membuktikan, tidak sedikit mata-mata sukses adalah perempuan.”

Kehebatan wanita, lanjutnya, bukan pada pisau atau pedang, melainkan pada senyuman. “Senyumnya berbahaya. Ada benteng-benteng yang tidak tembus oleh laki-laki, tapi wanita bisa lolos melewatinya dengan senyuman.”

Buya mengaitkan pelajaran menguji ini dengan syariat pertunangan dalam Islam. “Mengapa disyariatkan calon suami melihat calon istrinya, dan sebaliknya?” jelasnya.

“Islam tidak mengajarkan ‘nikah pagi-cerai malam’ atau ‘dapat malam nikah pagi diceraikan’ namanya nikah kaget. Islam mempersiapkan rumah tangga dengan matang.”

Bahkan, lanjut Buya, tidak cukup hanya melihat. Dianjurkan pula untuk mencari informasi, menanyakan kepada orang-orang terdekat calon pasangan. Inilah wujud implementasi perintah “menguji” dalam ayat tersebut.

“Senyumlah, tapi pilih-pilihlah. Jangan senyum ke mana-mana,” pesan Buya disambut tawa jamaah. Namun di balik kelakar itu, tersirat pesan serius tentang kewaspadaan dalam membangun rumah tangga.

Tausiah yang berlangsung hangat ini dihadiri puluhan jamaah yang tampak serius menyimak setiap butir nasihat dari ulama yang juga dikenal sebagai pakar fikih keluarga ini.

Related posts