MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Sebuah kabar duka merobek hati publik. Peristiwa nahas menimpa Kereta Rel Listrik (KRL) yang ditabrak Kereta Api Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur tidak hanya merenggut 14 nyawa. Lebih dari itu, tragedi ini menghancurkan masa depan anak-anak yang ibunya menjadi korban.
Seluruh korban meninggal adalah perempuan dewasa. Tak ada satu pun anak-anak yang ikut melayang. Namun justru di situlah letak pilunya—di balik para perempuan itu, ada anak-anak kecil yang kini kehilangan sosok pertama dalam hidup mereka.
Satu kisis tragis datang dari almarhumah Ibu Nuryati. Ia pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan anak kembar yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Ada pula cerita yang viral di media sosial, dari akun X @Bunaspace yang mengutip unggahan @dearahardjo. Seorang ibu baru saja kembali bekerja usai cuti melahirkan. Hari itu adalah salah satu hari pertamanya mencari nafkah. Takdir berkata lain. Ia ikut menjadi korban.
“Artinya, bila benar peristiwa ini, maka ada seorang bayi yang kehilangan secara tiba-tiba. Ada suami yang kehilangan begitu cepat, tidak pernah ia bayangkan,” ujar Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, dengan suara bergetar.
Total 14 jenazah telah ditemukan. Semuanya perempuan. Selain itu, 84 orang luka-luka, juga didominasi kaum hawa. Sejumlah korban laki-laki dari Kereta Argo Bromo juga dilaporkan terluka. Namun perhatian utama tertuju pada para perempuan tangguh yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
“Mereka bukan sekadar penumpang. Mereka adalah ibu, istri, dan harapan masa depan keluarganya. Kehilangan mendadak ini membawa duka yang sangat dalam dan berdampak luar biasa,” imbuh Jasra.
KPAI kini menyoroti satu hal yang kerap terlupakan: masa depan anak-anak yang ditinggalkan. Terutama bagi korban yang memiliki buah hati, hak pemulihan, ruang batin, dan kehidupan mereka di keluarga harus mendapat perhatian jangka panjang. Bayi yang baru lahir, anak kembar yang kehilangan pelukan hangat ibunya—mereka butuh lebih dari sekadar santunan.
“Maka kami menuntut banyak pihak untuk ikut peduli, bergandengan tangan mengurangi penderitaan anggota keluarga, khususnya demi menyelamatkan masa depan anak-anak,” tegas Jasra.
KPAI mendorong perusahaan tempat para korban bekerja memberikan kebijakan berpihak pada kemanusiaan: cuti yang memadai untuk pemulihan, dukungan moril dan materiel, serta jaminan hak ketenagakerjaan bagi korban luka. Untuk korban meninggal, santunan penuh harus segera mengalir ke keluarga.
Tak hanya itu, pendampingan psikologis atau trauma healing yang berkelanjutan dinilai mutlak diperlukan. Para suami yang kini harus memikul beban ganda—mengurus anak sendiri sambil bekerja—berisiko mengalami tekanan luar biasa.
“Ada situasi panjang yang harus kita mengerti. Masa perawatan, pemulihan, rasa kehilangan. Semua diterima secara tiba-tiba tanpa persiapan,” pungkas Jasra.
KPAI berjanji akan terus memantau dan memastikan hak-hak anak dari para korban tragedi Stasiun Bekasi Timur tetap terpenuhi di tengah masa sulit ini.
Sementara itu, satu pertanyaan masih menggantung di udara: sudahkah tangis bayi itu didengar oleh mereka yang berwenang?






