Buya Gusrizal Ingatkan Perda Anti LGBT Cuma Proyek Habiskan Pitih! Solusinya di Nagari, Bukan di Jakarta!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Seorang ulama kharismatik sekaligus Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, melontarkan kritik tajam terhadap kebiasaan membuat peraturan daerah (Perda) yang dinilainya hanya membuang anggaran tanpa menyelesaikan akar masalah.

Dalam tausiah pengkajian Fiqh Keluarga di Masjid Surau Buya Gusrizal, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, pekan ini, Buya menyoroti wacana pembuatan Perda anti LGBT yang justru menurutnya tidak efektif.

“Habis pitih untuk membuat Perda, tim ahli dari Jakarta bolak-balik, studi banding ke mana-mana, tapi maksiat semakin pekat juga,” ujar Buya dengan logat Minang yang khas.

Ia mengungkapkan bahwa selama lebih 10 tahun dirinya telah mengingatkan bahwa solusi sejati bukanlah Perda, melainkan aturan di tingkat nagari (desa adat).

“Instruksikan masing-masing nagari membuat peraturan negerinya. Kalau ada orang yang separuh masak—jantan indak batino, batino indak bajantan—pulaukan dalam nagari. Sisihkan. Jangan buat malu di hadapan Allah,” tegasnya.

Anak Adalah Fitnah, Bukan Sekadar Nikmat

Mengawali kajian dengan Surat Al-Munafiqun ayat 9, Buya mengingatkan agar umat tidak dilalaikan oleh harta dan anak-anak dari mengingat Allah. Ia menjelaskan bahwa anak bagaikan dua sisi mata uang.

“Di satu sisi dia nikmat, anugerah dari Allah. Tapi di sisi lain Allah mengingatkan bahwa anak keturunan itu fitnah,” katanya.

Karena itu, sambung Buya, menyambut kelahiran anak dengan senyuman kebahagiaan harus dibarengi kesadaran bahwa tanpa pendidikan yang baik, suatu saat anak bisa membuat orang tua menangis kehilangan harapan.

Ketakutan yang Hakiki: Bukan Hanya karena Hukum

Mengupas Surat An-Nisa ayat 9, Buya menjelaskan perbedaan mendasar antara khauf (takut karena akibat) dan khasiah (takut berdasarkan ilmu dan kesadaran mendalam).

“Hari ini banyak tokoh yang rajin tampil di TV, sorak-sorai di depan kamera. Tapi ketakutannya temporer, hilang begitu kamera dimatikan. Padahal tantangan ini tidak berhenti,” sindirnya.

Ia mengutip firman Allah: Innama yakhsyallaha min ibadihil ulama—yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah para ulama. Ketakutan itu muncul dari ilmu dan pemahaman, bukan sekadar ancaman neraka.

Tiga Tanggung Jawab Orang Tua

Buya menegaskan bahwa mendidik anak bukan aktivitas seremonial, melainkan tiga hal sekaligus:

1. Menunaikan konsekuensi akad nikah – Begitu ijab kabul diucapkan, beban itu langsung melekat.
2. Mewujudkan syukur atas anugerah – Bentuk syukur atas karunia anak adalah membimbingnya ke jalan yang diridhai Allah.
3. Menyelamatkan diri dari neraka – Kelalaian mendidik anak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Ia mengingatkan kisah Umar bin Khattab yang justru menghardik seorang ayah yang mengadu anaknya durhaka. Setelah mendengar sang ayah tidak memilihkan ibu yang baik, tidak memberi nama yang bagus, dan tidak mengajarkan Al-Qur’an, Umar berkata: “Engkau telah durhaka kepada anakmu sebelum ia durhaka kepadamu.”

Pondasi Pendidikan: Tauhid, Bukan Paket Parenting Mahal

Buya menyayangkan fenomena orang tua yang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk seminar dan paket parenting modern, tapi melupakan sumber primer: Al-Qur’an dan sunnah.

“Habis pitih beli paket ini itu, tapi di rumah berapa Al-Qur’an? Banyak, Pak. Tapi pernah baca model-model pendidikan dari para nabi dan rasul? Itu pendidik terbaik yang dipilih langsung oleh Allah,” ujarnya.

Ia mencontohkan Nabi Ibrahim yang mewasiatkan kepada putra-putranya: Fala tamutunna illa wa antum muslimun—janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.

“Inilah yang hilang dari pendidikan kita hari ini. Landasan tauhid. Dulu anak tidak salat, orang tua tak segan memukul dengan ranting. Sekarang? Anak ikut tari-tarian, orang tua bangga. Tapi kalau tidak salat, biasa saja,” sindirnya.

Soal Konflik AS-Iran: Jangan Terpecah oleh Perbedaan Sunni-Syiah

Dalam sesi tanya jawab, Buya juga dimintai pandangan tentang konflik Amerika Serikat dan Iran. Ia mengingatkan agar umat Islam Indonesia tidak mengedepankan perseteruan Sunni-Syiah dalam konteks ini.

“Dalam situasi tertentu, kalau kita kedepankan perbedaan itu, bukan Syiah di Iran saja yang habis. Semua wilayah yang dihuni kaum muslimin terancam. Karena kita sedang berhadapan dengan orang yang tidak punya peri kemanusiaan—Yahudi Zionis,” tegasnya.

Ia menceritakan pengalamannya dalam pertemuan dengan Duta Besar Saudi Arabia di hadapan rombongan Majelis Ulama Indonesia. Tiga prinsip yang disampaikan: tidak menjadi bagian dari konflik, membangun komunikasi dengan tetangga, dan selalu berpihak kepada kebenaran serta melawan kezaliman dari mana pun datangnya.

“Jangan beri cek kosong kepada negara Teluk maupun Iran. Kami tidak setuju serangan yang menyasar warga sipil, tapi kami juga tidak setuju kedaulatan negara mana pun dipermainkan oleh Amerika yang merasa jadi polisi dunia,” pungkasnya.

Wallahu a’lam.

Related posts