MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Seluruh ruangan Kantor MUI Pusat Jakarta sempat hening ketika Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar, Lc., M.Ag., Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, melontarkan sebuah kalimat Arab pendek namun menusuk langsung ke arah Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman.
Kalimat itu bukanlah bacaan biasa. Itulah inti pesan misterius yang hingga kini masih diperbincangkan para elit politik dan ulama.
“صلاح الوالي بصلاح البطانة”
Buya mengulangnya dua kali. Sekali dengan suara pelan di sela-sela dialog, dan sekali lagi saat menuliskan status di akun Facebook pribadinya setelah kunjungan usai. Lalu beliau menerjemahkannya sendiri di hadapan sang jenderal:
“Kebaikan seorang pemimpin, tergantung pada kebaikan orang-orang yang selalu berada di sekitarnya.”
Kalimat itu, menurut Buya, adalah rumusan dari sebuah hadis Nabi yang beliau hafal di luar kepala. Namun yang membuat hadis ini menjadi “misterius” adalah konteks penyampaiannya: Buya menyebut KSP sebagai “ring satu” dan “pembisik presiden”.
“Saya melihat secara formal, KSP adalah bithanah (orang-orang terdekat) presiden. Dalam bahasa Arab, ada dua jenis bithanah:
بطانة تأمره بالمعروف – yang menyuruhnya kepada kebaikan,
dan بطانة لا تألوه خبالاً – yang tidak henti-hentinya merusak.”
Lalu Buya menatap Jenderal Dudung dan melanjutkan:
“Pesan saya sederhana, Pak Jenderal. Jadilah بطانة الخير (lingkaran kebaikan). Dorong presiden ke maslahat. Jangan jadi pembisik yang merusak.”
Buya juga tak ragu mengingatkan satu contoh konkret: penggunaan diksi kontroversial oleh presiden beberapa waktu lalu.
“Kata ‘Yaman’ itu لا فی محله (tidak pada tempatnya). Tidak perlu-perlu amat. Itu contoh kecil dari bisikan yang keliru. KSP bisa aktif meluruskan, jangan malah diam.”
Menurut saksi mata di lokasi, Jenderal Dudung tersenyum tipis mendengar kalimat Arab itu. Beliau dilaporkan hanya mengangguk dan menjawab singkat:
Jendral Dudung berkilah bahwa dia bukanlah pembisik karena untuk bertemu presiden juga tidak mudah walaupun beliau seorang Kepala KSP.
Namun Jendral Dudung menyatakan memang tugas KSP mengawasi program unggulan, melakukan evaluasi dan memberikan masukan kepada presiden Prabowo.
Sepertinya jawaban Jenderal dudung seakan memberikan isyarat bahwa dia tak bisa berkelit dari nasehat berisi peringatan yang disampaikan Buya Gusrizal.
Buya menambahkan bahwa pesan Arab “shalih al-wali bi shalih al-bithanah” adalah peringatan untuk semua istana, bukan hanya Jenderal Dudung.
Buya melanjutkan Mudah-mudahan akan tiba masanya jenderal Dudung dengan jujur mengatakan kepada ulama yang bernasehat, “insya Allah buya, terima kasih nasehatnya dan peringatannya”.
Kunjungan yang berlangsung Selasa (5/5/2026) itu tetap berjalan hangat. Namun pesan Arab Buya Gusrizal kini menjadi tagar yang viral di kalangan santri dan aktivis: #ShalihAlWaliBishalihAlBithanah
“Semoga pesan ini menjadi catatan dan peringatan.
صلاح الوالي بصلاح البطانة
Karena sesungguhnya, tidak ada seorang pemimpin pun yang selamat tanpa pembisik yang shalih. Wallahu a’lam.”






