MINANGKABAUNEWS.COM, LIMAPULUH KOTA — Kebahagiaan bercampur kecemasan menyelimuti Mursida (18), siswi MAN 2 Payakumbuh asal Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Ia dinyatakan lulus di Program Studi Matematika Universitas Andalas melalui jalur prestasi tahun 2026.
Keberhasilan itu diraih melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang diselenggarakan secara terpusat oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Mursida diterima tanpa harus mengikuti ujian tertulis.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa lulus di Unand. Ini memang cita-cita saya sejak lama,” ujar Mursida kepada orang tuanya, awal Mei 2026.
Namun, kabar baik tersebut justru memunculkan persoalan baru bagi keluarga. Ayahnya, Syaripudin (77), mengaku khawatir tidak mampu membiayai kebutuhan kuliah anaknya karena kondisi ekonomi yang terbatas.
Di usia senja, Syaripudin sudah tidak lagi memiliki penghasilan tetap. Ia bersama istrinya, Resmita (60), selama ini mengandalkan bantuan dari anak-anak mereka yang lain untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kami tentu bahagia, tapi juga bingung. Untuk makan saja kami masih bergantung pada anak-anak lain, apalagi biaya kuliah,” kata Resmita.
Menurut Syaripudin, meminta bantuan kepada anak-anaknya secara terus-menerus bukanlah pilihan yang ringan. Apalagi, mereka juga telah memiliki keluarga dan tanggungan masing-masing.
Dalam situasi tersebut, Syaripudin sempat menyarankan Mursida untuk menunda kuliah. Namun, keinginan kuat sang anak membuatnya mengurungkan niat tersebut.
Mursida memahami bahwa menunda kuliah dapat berdampak lebih luas, termasuk bagi adik-adiknya di sekolah yang berharap mengikuti jalur prestasi serupa di masa depan.
“Saya tetap ingin kuliah tahun ini. Ini kesempatan yang tidak datang dua kali,” kata Mursida.
Syaripudin mengungkapkan, selama ini anaknya kerap mendapat bantuan pendidikan dari tokoh masyarakat setempat, termasuk mantan wali nagari Situjuah Batua, Almarhum Don Vesky Dt Tan Marajo, Babinsa Situjuah Batua, Serma Junaidi Chan, serta aparatur Nagari setempat.
Saat menghadapi kebuntuan, Syaripudin mencoba mencari ketenangan melalui ibadah. Ia mengaku mendapatkan dorongan untuk kembali menghubungi pihak yang pernah membantu keluarganya, termasuk mengadu ke pihak nagari dan putra almarhum Don Vesky Dt Tan Marajo, yakni M Fajar Rillah Vesky.
Upaya tersebut membuahkan hasil awal. Sejumlah pihak di nagari di Situjuah Batua, termasuk keluarga tokoh masyarakat setempat, turut memberikan bantuan meski jumlahnya masih terbatas.
“Bantuan yang ada belum mencukupi kebutuhan awal kuliah, seperti laptop dan biaya tempat tinggal,” ujar salah seorang pihak yang ikut membantu keluarga tersebut.
Sementara itu, keluarga Mursida juga telah mengajukan permohonan bantuan kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Limapuluh Kota.
Pihak Baznas menyatakan akan melakukan verifikasi terhadap proposal yang diajukan, terutama terkait kebutuhan mendesak seperti perangkat pendukung kuliah dan biaya hidup.
Namun, muncul kekhawatiran bahwa penerimaan bantuan tertentu dapat memengaruhi peluang Mursida memperoleh program bantuan pendidikan lain, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Informasi tentang siswi asal Situjuah Batua tersebut awalnya didapat wartawan dari anggota DPRD Limapuluh Kota, Fajar Rillah Vesky. Dia mengaku prihatin mengetahui kesulitan yang melanda Mursida, mengingat kedua orang tua siswi tersebut sudah menginjak usia senja.
”Di tengah ketidakpastian tersebut, keluarga berharap ada dukungan dari berbagai pihak agar Mursida dapat melanjutkan pendidikan,” ungkap Fajar yang ikut membantu biaya semampunya usai mengunjungi langsung Mursida di kediamannya bersama perangkat Nagari, Yosvan Azwandi.
Bagi para dermawan yang ingin membantu Mursida, sebut Fajar, juga dapat menghubungi ayah dan ibunya di nomor handphone 083133681914 atau langsung ke Mursida/Sissy di nomor +6281374370150. Donasi juga dapat disalurkan lewat rekening BRI 5506 01 006319 509 atas nama Mursida. (akg)
Mursida, Siswi Asal Situjuah Terkendala Biaya Kuliah Setelah Lulus Jalur Prestasi Unand






