Detik-Detik Mengerikan 1674: Gelombang Setinggi Monas Telan 2.000 Jiwa di Ambon! BMKG Ungkap Fakta Gila yang Bikin Merinding

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Bayangkan sebuah pagi yang tenang di pesisir Ambon, tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk paling mengerikan dalam sejarah manusia. Itulah yang terjadi pada 17 Februari 1674—lebih dari tiga abad sebelum tsunami Aceh mengguncang dunia.

Tanpa peringatan, bumi di bawah Pulau Ambon bergemuruh dahsyat. Getaran begitu kuat hingga membuat siapa saja sulit berdiri. Namun, yang paling mengerikan bukanlah gempanya sendiri. Hanya beberapa saat kemudian, samudra yang tadinya tenang berubah jadi dinding air raksasa—bukan 5 atau 10 meter, tapi 90 hingga 110 meter! Setinggi Monas, setinggi gedung pencakar langit, menghantam daratan tanpa ampun.

Ilmuwan Belanda, Georg Eberhard Rumphius, yang saat itu menyaksikan langsung, mencatat kengerian itu dalam bukunya. Lebih dari 2.000 jiwa melayang dalam sekejap. Rumah-rumah di pesisir utara Semenanjung Hitu luluh lantak. Mayat-mayat berserakan di antara puing-puing. Kota pelabuhan yang ramai berubah jadi kuburan raksasa dalam hitungan menit.

Lantas, apa yang menyebabkan gelombang setinggi itu? Bukan sekadar gempa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kini dengan tegas mengingatkan: ini adalah megatsunami yang dipicu longsoran tebing bawah laut (submarine landslide). Guncangan gempa yang hebat membuat tebing di dasar laut ambruk, melipatgandakan energi gelombang puluhan kali lipat. Akibatnya, warga pesisir hampir tak punya waktu berlari—air datang lebih cepat dari detak jantung.

“Ini adalah potensi tersembunyi yang bisa terjadi lagi kapan saja,” tegas Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG, dalam sebuah webinar peringatan sejarah baru-baru ini. BMKG pun mengingatkan lagi: sejarah gempa dan tsunami di Indonesia adalah siklus. Bukan jika, tapi kapan.

Kisah kelam Ambon 1674 bukan hanya catatan usang di buku Belanda. Ia adalah alarm bagi kita semua—bahwa bumi timur Indonesia menyimpan rahasia mematikan yang bisa terulam kapan saja. Pertanyaannya: apakah kita siap?

Related posts