Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H.
Setiap 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tapi jangan biarkan ia hanya lewat sebagai upacara seremonial belaka. Harkitnas harus menjadi blueprint aksi nyata—panggilan agar Indonesia bangkit menuju kemajuan dan kesejahteraan untuk semua.
Coba bayangkan: tahun 1908, bangsa ini memulai babak baru perjuangan. Bukan lagi perlawanan berdarah-darah yang timpang, tapi perjuangan kebangsaan yang terorganisir. Boedi Oetomo lahir sebagai organisasi nasional pertama, dipimpin oleh Dokter Wahidin Soedirohoesodo, didampingi dr. Soetomo, Douwes Dekker (Setia Budi), RM. Suwardi Suryaningrat, dan tokoh-tokoh lainnya. Saat itu, ruhnya hanya tiga kata: Bangkit, Bersatu, Berdaulat. Dan tujuannya jelas: mengusir kolonial Belanda.
Kini, tahun 2026, medan perang kita telah berubah total. Lawan kita bukan lagi penjajah berkulit putih dengan meriam dan kongsi dagang. Lawan baru itu lebih licin, lebih merayap: kebodohan digital, krisis amanah, korupsi yang merajalela, narkotika, psikotropika, judi online, pinjol ilegal, gaya hidup pragmatis, hedonisme, vandalisme, terorisme, hingga LGBT dan berbagai penyakit masyarakat lainnya. Mereka tak kasat mata, tapi perlahan membusukkan negeri dari dalam.
Lalu, syarat agar kita benar-benar bangkit? Ada empat pilar yang tak bisa ditawar:
1. Bangkit Intelektual – jangan biar masyarakat terjebak hoaks dan kebodohan digital.
2. Bangkit Ekonomi – rakyat harus berdaulat secara finansial, bukan diperbudak rentenir dan pinjol.
3. Bangkit Politik – kepemimpinan yang bersih dan berpihak pada rakyat.
4. Bangkit Moral – sendi-sendi etika dan integritas harus kembali ditegakkan.
Allah mengingatkan dalam QS. 13:11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Maknanya terang benderang: perubahan tak boleh ditunggu dari pimpinan atau atasan. Ia harus dimulai dari diri kita, dari generasi muda, dari kaum intelektual, dari para perempuan yang menjadi tiang negeri.
Harkitnas bukanlah sekadar upacara bendera dan pidato semata. Ia adalah momentum perubahan. Dan hari ini, kita semua dipanggil untuk memulainya. Apakah kita siap meninggalkan zona nyaman dan melawan musuh modern yang jauh lebih licik dari penjajah dulu? Atau kita akan terus terlelap? Pilihan ada di tangan kita. Bangkit, atau tergilas.






