MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Ada luka yang tak terlihat, tapi ada juga yang membekas di tubuh mungil itu. Selama hampir satu bulan, seorang bocah di bawah lima tahun menjalani hari-hari penuh teror. Pelukannya bukan dekapan kasih, melainkan cengkeraman amarah. Pelakunya? Ayah kandungnya sendiri.
Kisah pilu ini mulai terungkap setelah tetangga mendengar tangisan menyayat hati dari dalam rumah. Bukan tangisan biasa—ada kepedihan yang begitu dalam. Tanpa pikir panjang, warga segera menghubungi nomor darurat Polri, 110. Panggilan itu menjadi pintu masuk bagi kepolisian untuk menyelamatkan nyawa kecil yang nyaris padam dalam sunyi.
Sabtu kemarin, tim Pamapta Polresta Padang bergerak cepat. Mereka menemukan seorang anak laki-laki dengan tubuh penuh luka. Bukan hanya lebam—ada bekas gigitan, luka siraman air panas, hingga memar di area vital. Mata si kecil pun masih merah, menyisakan rasa sakit yang tak pantas dirasakan anak seusianya.
Polisi pun langsung menangkap pelaku, RD (29), yang tak lain adalah ayah kandung korban. Kini ia mendekam di sel tahanan Polsek Padang Barat. Setelah menjalani pemeriksaan intensif, statusnya resmi dinaikkan menjadi tersangka.
“Kami kenakan pasal berlapis,” ujar Kompol M Yasin, Kepala Satuan Reskrim Polresta Padang, Minggu (22/5). “Undang-undang Perlindungan Anak, UU Penghapusan KDRT, dan pasal penganiayaan di KUHP.”
Yang lebih memilukan, sang ibu selama ini tak bisa bersuara. Ia juga menjadi korban kekerasan dan ancaman dari suaminya sendiri. Rasa takut membungkamnya, hingga penderitaan anaknya berlangsung berminggu-minggu tanpa ada yang tahu.
Kini, bocah malang itu menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumbar. Kondisi fisiknya mulai dipulihkan, tapi bekas luka di hati tentu tak semudah mengobati luka di tubuh. Kepolisian pun berencana memberikan pendampingan trauma healing untuk memulihkan psikologisnya.
“Kami tidak hanya fokus pada proses hukum terhadap tersangka, tapi juga bagaimana memulihkan kondisi korban,” tegas Yasin.
Kasus ini viral setelah diunggah ke media sosial. Warganet pun meluapkan kemarahan dan keprihatinan. Seorang anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang malah berakhir sebagai sasaran amarah ayah kandungnya sendiri. Kini, keadilan mulai ditegakkan. Namun pertanyaannya, mampukah luka sebesar itu benar-benar pulih?






