MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Di balik sosok Kapolresta Padang Kombes Pol Apri Wibowo yang dikenal rendah hati dan bersahaja, tersimpan komitmen baja terhadap integritas institusi. Jumat pagi (14/8/2026) di halaman Mapolresta Padang, pria yang kerap disapa akrab ini memimpin langsung upacara pemberhentian tidak hormat terhadap delapan personelnya. Bukan sekadar seremoni, ini adalah pernyataan tegas: tidak ada tempat bagi pelanggar di tubuh Polri, sekalipun harus merelakan anak buahnya sendiri pergi.
Langit Padang yang cerah menyaksikan delapan anggota berseragam duduk di barisan terdepan dengan raut tertunduk. Satu per satu, nama mereka disebut: AIPTU I, AIPDA RSP, BRIPKA EF, AIPDA RS, AIPDA RE, BRIGADIR RPJ, AIPDA PE, dan AIPDA HH. Mereka adalah personel yang terbukti melanggar disiplin dan kode etik berat. Kini, mereka harus menerima konsekuensi pahit—Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) dari dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Namun di tengah suasana khidmat itu, sosok Apri Wibowo justru tampil dengan keteduhan khasnya. Dengan suara yang tenang namun berwibawa, ia menyampaikan bahwa keputusan ini bukanlah langkah tergesa-gesa. “Ini adalah proses panjang yang telah melalui mekanisme internal yang ketat,” ujarnya kepada seluruh personel yang hadir. Ia menegaskan, PTDH adalah bentuk tanggung jawab institusi kepada masyarakat yang selama ini telah menaruh kepercayaan.
“Setiap anggota Polri harus memahami bahwa kedisiplinan, integritas, dan tanggung jawab merupakan hal yang tidak bisa ditawar,” tegas Apri, matanya menatap seluruh barisan personel dengan pandangan yang menggambarkan harapan sekaligus peringatan. Bagi pria yang dikenal dekat dengan anak buahnya ini, momen tersebut adalah yang paling berat—karena ia harus memilih antara loyalitas kepada individu atau loyalitas kepada nama baik institusi dan kepercayaan publik.
Apri Wibowo memang bukan tipe pemimpin yang galak. Kesehariannya justru dekat dengan personel, sering turun langsung ke lapangan, dan dikenal mudah ditemui warganya. Namun di balik kerendahan hatinya, ia adalah pemimpin yang tidak pernah kompromi terhadap penyimpangan. Upacara PTDH ini membuktikan bahwa ia adalah polisi sejati—pengayom yang lembut kepada rakyat, namun tegas kepada siapa pun yang mencoreng seragam kebanggaannya.
Dalam amanatnya, ia kembali mengingatkan bahwa tugas polisi bukan hanya tentang penegakan hukum. “Kepercayaan masyarakat adalah amanah yang harus dijaga. Jangan sampai ada tindakan maupun perilaku yang mencederai citra Kepolisian,” pesannya dengan nada mengharukan. Ia juga meminta seluruh jajaran menjadikan peristiwa ini sebagai cermin dan bahan evaluasi, agar ke depan pelayanan kepada masyarakat semakin prima.
Usai upacara, suasana di Mapolresta Padang tetap terasa hening. Delapan personel yang diberhentikan keluar dengan kepala tertunduk, sementara rekan-rekan mereka yang lain kembali ke pos masing-masing dengan semangat baru. Mereka menyadari, pemimpin mereka—yang rendah hati dan bersahaja itu—telah memberikan pelajaran paling berharga: bahwa menjadi polisi adalah panggilan suci, dan mereka yang tidak mampu menjaganya, harus rela meninggalkan seragam kebanggaannya.
Kapolresta Padang pun menegaskan, ke depan pihaknya akan terus melakukan pembinaan dan pengawasan ketat. “Polisi adalah pengayom dan teladan bagi semua. Mari kita buktikan itu bersama,” pungkas Apri Wibowo, mengakhiri peristiwa yang akan dikenang sebagai momen ketika ketegasan lahir dari hati seorang pemimpin yang sungguh mencintai institusinya.







