Kepala MA KM Padang Panjang Terpilih Jadi Duta Madrasah Muhammadiyah se-Indonesia! Inilah Sosok di Balik Santri Lulus ke 18 Kampus Dunia

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Ada yang berbeda di ruang rapat BBGTK Jawa Tengah pagi ini. Di antara 27 kepala madrasah terbaik dari seluruh penjuru Indonesia, duduk seorang perempuan berhijab dengan senyum teduh yang akrab disapa Umi Derliana. Ia baru saja resmi ditunjuk sebagai Duta Madrasah Muhammadiyah—sebuah amanah yang hanya diberikan kepada figur-figur pilihan.

Namun, di balik penunjukan itu, ada cerita panjang tentang perjuangan, inovasi, dan mimpi besar yang sudah ia wujudkan di Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang.

Bayangkan, dari hampir dua ribu madrasah dan Raudhatul Athfal di lingkungan Muhammadiyah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, hanya 27 kepala madrasah yang dipercaya menyandang gelar Duta. Dr. Derliana, MA, adalah salah satunya. Dan ia tidak datang ke rapat kerja nasional itu dengan tangan kosong.

Ia datang membawa cerita tentang bagaimana madrasah di bawah kepemimpinannya menjelma menjadi laboratorium prestasi global.

Siapa sangka, di kota kecil Padang Panjang, ada pesantren yang santri-santrinya terbang ke 12 negara untuk melanjutkan studi? Tahun ini saja, lulusan MA KM Kauman mencatat sejarah: santri mereka lolos ke 18 universitas luar negeri sekaligus! Bayangkan, 18 kampus bergengsi di berbagai belahan dunia bersaing untuk menerima putra-putri terbaik dari pesantren ini.

Tapi prestasi mereka tidak berhenti di papan tulis. Di bawah kepemimpinan Umi Derliana, santri Kauman juga merajai Olimpiade Sains Nasional dan bahkan membawa pulang juara robotik internasional dari Malaysia. Ya, robotik! Ini membuktikan bahwa santri masa kini tidak hanya hafal Al-Qur’an, tapi juga menguasai teknologi dan sains.

Umi Derliana bukan sosok yang duduk diam. Sejak 2022, ia sudah terjun langsung menjadi fasilitator Kurikulum Merdeka di lingkungan pesantren. Ia juga aktif sebagai pengurus Forum Muhammadiyah Pusat dan Asesor Pesantren Muhammadiyah Indonesia. Baginya, pendidikan tidak boleh berhenti di gerbang madrasah—ia harus menembus langit.

Salah satu karya besarnya yang menggugah adalah penyelenggaraan Haflah Khatam Tahfidz Al-Qur’an & Hadits Mi’ah Bukhari. Acara ini bukan sekadar seremonial, melainkan lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an dan hadits yang siap menjadi delegasi peradaban Islam di masa depan.

Ketika dikonfirmasi soal amanah barunya, mata Umi Derliana berbinar. “Ini kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar,” ujarnya dengan suara tenang namun penuh semangat. “Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu madrasah Muhammadiyah agar mampu bersaing secara global, tapi tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.”

Ia tidak sendiri. Di rapat kerja yang berlangsung 23-25 Juli ini, para Duta Madrasah sepakat untuk menjadi agen perubahan dan fasilitator. Targetnya jelas: menguatkan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, meningkatkan kualitas madrasah, serta merumuskan strategi jitu penerimaan murid baru.

Dengan terpilihnya Umi Derliana sebagai Duta Madrasah, angin segar berembus bagi dunia pendidikan Muhammadiyah. Jika satu pesantren di Padang Panjang bisa melahirkan lulusan yang diterima di 18 universitas dunia, bayangkan apa yang bisa terjadi jika 1.985 madrasah Muhammadiyah bergerak bersama dengan semangat yang sama!

Madrasah bukan lagi tempat belajar agama yang terpinggirkan. Di tangan Umi Derliana dan para duta lainnya, madrasah adalah panggung bagi generasi emas yang menghafal Al-Qur’an dengan satu tangan dan merakit robot dengan tangan lainnya. Inilah cita-cita Muhammadiyah yang sesungguhnya: mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa pernah kehilangan akar keimanan.

Related posts