MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Sore itu, suasana Aula Serbaguna di Padang terasa hangat, bukan karena terik matahari yang mulai redup, melainkan karena gelora semangat kebangsaan yang menyala dari puluhan pasang mata yang hadir. Tokoh masyarakat, pemuda, akademisi, hingga warga biasa duduk berdampingan. Mereka datang untuk satu tujuan: mendengar langsung pesan kebangsaan dari anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Ir. H. Mulyadi.
Sosialisasi 4 Pilar MPR RI sesi siang itu mengusung tema yang menggugah, “Meneguhkan NKRI sebagai Bentuk Negara”. Bukan sekadar seremonial, acara ini menjadi ruang refleksi bersama di tengah gempuran informasi dan tantangan zaman yang kian kompleks.
Ketika Mulyadi berdiri di podium, sorot matanya teduh namun penuh ketegasan. Ia memulai dengan narasi panjang tentang perjuangan para pendiri bangsa yang memilih NKRI sebagai bentuk negara yang final. “Ini bukan pilihan instan, saudara-saudara. Ini adalah konsensus agung yang lahir dari air mata, doa, dan darah para pahlawan,” ujarnya dengan suara berat namun hangat.
Di hadapan peserta yang menyimak khusyuk, ia mengurai satu per satu betapa NKRI menjadi perekat luar biasa bagi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, dan beragam agama. “Keberagaman bukan kelemahan. Justru di situlah kekuatan kita. Tapi kekuatan itu hanya akan berarti jika kita semua sepakat untuk bersatu dalam bingkai NKRI,” tegasnya.
Tak hanya memaparkan teori, Mulyadi mengajak peserta berdiskusi hangat. Sesi dialog berlangsung cair. Seorang mahasiswa bertanya tentang radikalisme di media sosial, seorang guru menceritakan sulitnya mengajarkan nasionalisme kepada generasi digital, dan seorang pemuda bertanya tentang peran mereka di era banjir hoaks. Semua dijawab Mulyadi dengan lugas dan penuh empati.
“Tantangan terbesar kita hari ini bukan dari senjata atau pasukan asing, tapi dari ponsel di saku kalian,” kelakar Mulyadi, disambut tawa haru peserta. Ia mengingatkan bahwa sikap intoleransi dan informasi menyesatkan bisa merusak persatuan jika tidak dilawan dengan wawasan kebangsaan yang kokoh.
Maka, ia menekankan pentingnya kembali merawat empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai nilai hidup yang diamalkan sehari-hari.
Menjelang akhir acara, Mulyadi menggenggam erat mikrofon, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. “Menjaga NKRI bukan tugas TNI atau polisi saja. Ini tanggung jawab kita semua. Ibu-ibu, bapak-bapak, adik-adik mahasiswa, semua punya peran. Mari kita wariskan Indonesia yang utuh dan damai untuk anak cucu kita,” pesannya.
Sore itu, Padang tak hanya menjadi saksi sosialisasi biasa. Lebih dari itu, kota itu menjadi tempat berkobarnya kembali api persatuan. Para peserta pulang dengan dada berdebar, bukan karena takut, melainkan karena rasa bangga dan panggilan jiwa: bahwa NKRI adalah rumah kita bersama, dan tak seorang pun boleh membiarkan rumah ini goyah.






