MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Pemerintah saat ini sedang berupaya keras mengejar ketertinggalan yang cukup memprihatinkan. Dari lebih dari 26.000 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Indonesia, ternyata belum semuanya layak operasi.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa hingga 24 April 2026, baru 14.646 Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang berhasil diterbitkan. Artinya, capaian baru sekitar 81 persen dari total permohonan yang masuk. Sisanya? Masih tertahan karena satu masalah klasik: para juru masak atau penjamah pangan di dapur-dapur tersebut belum pernah mengikuti pelatihan.
“Kami temukan di beberapa wilayah, SLHS belum bisa terbit karena penjamah pangannya belum pernah mengikuti pelatihan,” ungkap Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr Then Suyanti, dalam acara APPMBGI National Summit di Jakarta, Sabtu (25/4).
Memprihatinkan, dari total 26.000 lebih dapur yang terdata, sekitar 8.600 di antaranya bahkan belum mengajukan permohonan sertifikasi sama sekali. Padahal, penerbitan SLHS ini krusial untuk menjamin keamanan pangan nasional, apalagi program gizi sedang digencarkan.
Menyadari situasi genting ini, Kemenkes pun bergerak cepat. Tak ingin program tersendat, mereka menyediakan solusi instan berupa kuota pelatihan gratis via platform daring Massive Open Online Course (MOOC) di LMS Pelataran Sehat. Pelatihan 8 Jam Pelajaran (JPL) ini bisa diakses 24 jam, hanya bermodal ponsel.
“Kami mohon kepala SPPG membantu para penjamah pangan untuk mengakses ini. Sertifikat kompetensi mereka adalah syarat mutlak terbitnya SLHS,” tegas dr Then.
Tak hanya itu, Kemenkes juga menggandeng Kementerian Dalam Negeri untuk menekan kepala daerah agar Dinas Kesehatan setempat memfasilitasi proses inspeksi. Bahkan, penggunaan alat uji sanitarian kit diizinkan sebagai pengganti laboratorium kesehatan masyarakat yang belum tersedia di daerah terpencil.
Langkah ini disebut sebagai percepatan yang cukup signifikan. Sebab, pada akhir Maret lalu, permohonan SLHS masih di bawah 10.000. Kini, dalam waktu kurang dari sebulan, angka melonjak drastis. Namun, tantangan terbesar tetap ada pada kesadaran para pengelola dapur untuk segera melengkapi dokumen dan kompetensi karyawannya. Akankah target 100 persen tercapai? Publik pun menanti.






