Nasehat Buya Gusrizal di Tausiah Ramadhan: “Bangsa Ini Sedang Sakit Parah, Penyakitnya Bernama Kebohongan!”

Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, BUKITTINGGI — Sebuah tausiah Ramadhan menghentak perhatian publik. Bukan karena disampaikan dengan nada lembut dan menenangkan, tapi justru sebaliknya — penuh ketegasan dan keberanian menyebut penyakit bangsa secara terang-terangan.

Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, tanpa basa-basi menuding satu penyakit yang menurutnya paling parah menggerogoti bangsa Indonesia hari ini: kebohongan

“Terlalu mudah orang berdusta. Terlalu mudah orang berbohong,” ucapnya lantang dalam tausiah yang disampaikan belum lama ini.

Yang membuat pernyataan Buya Gusrizal semakin menohok adalah fakta yang ia ungkap berikutnya. Kebohongan di era ini, katanya, bukan lagi sekadar dusta spontan yang lahir dari kepanikan. Ia telah berevolusi menjadi sesuatu yang direncanakan, terstruktur, bahkan dilakukan secara kolektif.

“Berbohong dengan sadar, setelah itu minta maaf pula dengan sadar. Bahkan banyak orang merancang kedustaan, memakai tim,” tegasnya.

Tim yang ia maksud bukan tim kerja biasa. Buya Gusrizal menyebutnya blak-blakan sebagai tim dusta — sekumpulan orang yang bekerja keras memoles kegagalan menjadi keberhasilan, menjadikan yang tidak nyata seolah-olah adalah kebenaran. Bahkan, ia menyebut buzzer-buzzer pun tak luput dimanfaatkan sebagai panggung untuk mengemas kegagalan agar tampak seperti kesuksesan di hadapan publik.

Di tengah kondisi itulah, Buya Gusrizal melontarkan pertanyaan yang menggantung berat di udara: Apakah bangsa yang tidak mau keluar dari jeratan kebohongan seperti ini akan mendapat berkah?

Jawabannya, ia sampaikan dengan tegas. La qadrallah semoga Allah tidak menakdirkan hal itu terjadi. Namun peringatannya jelas: siapa saja yang menyampingkan kebenaran, yang tidak jujur dalam membedakan yang benar dan yang salah, akan semakin jauh dari rahmat Allah SWT.

Tausiah ini pun menjadi pengingat keras di tengah bulan suci — bahwa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tapi juga soal keberanian untuk jujur, kepada orang lain, dan terutama kepada diri sendiri.

Pos terkait