MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Menasihati keluarga sendiri agar mau salat memang tidak selalu mudah. Apalagi bila yang dinasihati sedang sakit lama dan kondisi hatinya sedang rentan. Rasa sayang sering bercampur khawatir: ingin mengingatkan, tetapi takut ditolak, bahkan dimarahi.
Itulah yang menjadi kegelisahan seorang jamaah dalam pengkajian fiqh belum lama ini. Ia bertanya bagaimana cara menasihati saudara sepupunya yang sudah lama sakit agar mau mengerjakan sholat. Ia ingin menyampaikan, tetapi takut sang sepupu tidak menerima atau justru marah kepadanya.
Pertanyaan itu dijawab oleh ulama kharismatik dan inspiratif ranah Minang, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, sosok yang dikenal tawadhu’ dan rendah hati, yang kini menjabat Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat.
Buya Gusrizal menekankan satu hal pertama: hilangkan rasa takut. Menurutnya, rasa takut yang dipelihara terus-menerus akan membuat nasihat yang hak tidak pernah sampai kepada orang yang hendak dinasihati.
“Kalau takut ini dipelihara terus, nggak akan sampai nasihat itu,” ujarnya dalam pengajian tersebut.
Ia mengingatkan bahwa menyampaikan kebenaran memang memiliki risiko. Tidak semua kebenaran akan diterima oleh orang. Karena itu, jamaah diajak untuk kembali kepada prinsip amar ma’ruf nahi mungkar yang sudah dipelajari dalam kajian.
Meski demikian, Buya Gusrizal tidak menyarankan cara yang kasar atau asal menasihati. Ia justru meminta agar setiap penasihat mencari cara yang paling baik, waktu yang paling tepat, dan kalimat yang paling bijak.
“Kalau toh dia marah, yang penting carilah cara yang paling baik, waktu yang paling tepat, dan kalimat yang paling bijak,” pesannya.
Lebih jauh, Buya Gusrizal menegaskan bahwa bila jawaban yang diterima tetap berupa kebencian, seorang penasihat tidak perlu merasa Allah membencinya. Sebab, menyampaikan nasihat tersebut adalah tanda sayang kepada keluarga.
“Ketahuilah kita tidak akan dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena menyampaikan ini. Dan itu adalah tanda sayang kita kepadanya,” tuturnya.
Pesan itu menjadi pengingat: menasihati keluarga bukan soal mencari penerimaan manusia, tetapi soal menyampaikan kebaikan dengan penuh hikmah. Bila cara, waktu, dan kalimatnya dijaga, nasihat tentang salat bukan lagi bentuk menghakimi, melainkan wujud cinta kepada saudara yang sedang diuji sakit.







