MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Suasana Masjid Al Hakim Padang terasa khusyuk ketika Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, ketua bidang Fatwa Metodologi, kembali mengisi pengkajian Sirah Nabawiyah. Di tengah ratusan jemaah yang tampak antusias, Buya mengawali majelis dengan membacakan dua ayat surah Al-Ahzab ayat 45-46, mengingatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah saksi atas perjalanan hidup kita.
“Yang menjadi saksi apakah kita berjalan di atas kebenaran adalah Rasulullah. Kesaksian final manusia, baik di dunia apalagi di akhirat, adalah kesaksian Nabi. Itu yang perlu kita tanamkan,” tegas Buya mengawali ceramahnya.
Buya menjelaskan bahwa seluruh umat manusia, bahkan Nabi Adam alaihissalam sekalipun, akan berada di bawah panji-panji Rasulullah di hari kiamat. Hal ini sebagaimana disabdakan Nabi: “Ana sayidu waladi Adam wala fakhr” (Aku adalah penghulu anak cucu Adam, dan itu bukan karena kesombongan).
“Apapun yang kita perbuat di dunia, apakah bisa menyelamatkan kita di akhirat kelak? Bersyarat Rasulullah mengakui dan bersaksi bahwa kita memang bagian dari umatnya,” ujar Buya mengutip firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 143.
Mengenang kembali kajian akidah tentang hari kiamat, Buya mengisahkan bagaimana seluruh nabi dari Adam hingga Isa merasa tidak pantas memohon keringanan kepada Allah di hari mahsyar. Hingga akhirnya, semua manusia menuju kepada Muhammad Rasulullah.
“Ketika bertemu dengan Rasulullah, beliau tersungkur sujud memohon kepada Allah agar diringankan beban yaumil mahsyar. Itulah syafaatul uzma, syafaat terbesar,” kenang Buya.
Buya menegaskan pentingnya mempelajari sirah Nabi untuk menjaga langkah kita di atas jalan yang benar. “Karena kalau kita ingin tahu bagaimana Al-Qur’an diamalkan, siapa yang paling sempurna dalam mengimplementasikannya? Tidak ada selain Nabi shallallahu alaihi wasallam,” jelasnya.
Beliau mengutip perkataan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha ketika ditanya tentang akhlak Nabi: “Kana khuluquhul Quran” (Akhlak beliau adalah Al-Qur’an).
Membahas kondisi sosial masyarakat sebelum Islam, Buya mengungkapkan fakta menarik bahwa orang-orang jahiliah sebenarnya tahu tentang Allah sebagai pencipta. Namun mereka tetap menyekutukan-Nya. Buya merujuk pada surah Al-Ankabut ayat 61 dan 63 yang menyatakan bahwa orang-orang musyrik Makkah, jika ditanya siapa pencipta langit dan bumi, pasti menjawab “Allah”.
“Tapi mengapa mereka tetap musyrik? Karena mereka tidak menggunakan akal sehat,” jelas Buya. “Al-Qur’an mengatakan, la ya’qilun – mereka tidak mempergunakan akal.”
Buya memaparkan empat jenis jahiliah yang disebut Al-Qur’an:
1. Zhannul jahiliyyah (sangkaan jahiliah) – dalam surah Ali Imran ayat 154, yaitu keyakinan tanpa landasan wahyu
2. Hukmul jahiliyyah (hukum jahiliah) – dalam surah Al-Maidah ayat 50, hukum yang tidak adil dan diskriminatif
3. Tabarrujul jahiliyyah (perilaku jahiliah) – dalam surah Al-Ahzab ayat 33, tentang penampilan dan moral
4. Hamiyyatul jahiliyyah (fanatisme jahiliah) – dalam surah Al-Fath ayat 26, kesombongan dan kefanatikan
Hukum Jahiliah dan Kisah Keadilan Islam
Dalam bagian yang menarik, Buya menceritakan kisah Usamah bin Zaid yang diminta menjadi “orang dalam” untuk membela seorang wanita Bani Makhzum yang terbukti mencuri. Nabi marah dan bersabda: “Demi Allah, seandainya yang mencuri itu Fatimah putri Muhammad sekalipun, aku potong tangannya.”
Buya juga mengisahkan keadilan Umar bin Khattab yang memberi hak memukul kepada seorang pemuda Qibti yang dipukul anak gubernur, bahkan mempersilakan memukul sang gubernur karena anaknya berani memukul karena kedudukan ayahnya.
Muncullah pernyataan populer Umar: “Mata istab’adtumun nas, wa qad waladathum ummahatuhum ahraran” (Semenjak kapan engkau diberi hak memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka).
Mengomentari isu jilbab di institusi pendidikan Unhan, Buya menegaskan bahwa jilbab bukan sekadar pakaian, melainkan kehormatan wanita muslimah. Beliau mengingatkan kisah Bani Qainuqa yang melecehkan wanita muslimah dengan mengikat ujung jilbabnya, yang akhirnya memicu peperangan.
“Jadi hijab dan jilbab itu bukan perkara outfit. Di situ ada kehormatan seorang muslimah. Kalau ada orang yang ingin menanggalkannya, berarti melecehkan kehormatan wanita muslimah,” tegas Buya.
Beliau mengkritik pemikiran yang menganggap jilbab menghambat aktivitas. “Kalau memang mereka dibutuhkan, desainlah pakaian khusus yang membuat mereka ringan bertugas. Bukan yang terpikir melepaskan jilbabnya. Itu otak kotor namanya,” ujar Buya tegas.
Buya mengupas sejarah masuknya penyembahan berhala ke Makkah, yang dimulai oleh Amru bin Amir bin Luhai dari Bani Khuza’ah. Suatu kali ia bepergian ke Syam dan melihat penduduknya menyembah berhala. Ia tertarik dan membawa pulang patung besar yang diberi nama Hubal.
“Mereka beralasan, kalau kekeringan, mereka minta hujan melalui patung itu. Hati-hati, alasan seperti inilah yang menyesatkan. Banyak orang hari ini juga terjebak dengan pola pikir seperti itu,” ingat Buya.
Faktor penyebab mudahnya orang Makkah terjerumus ke dalam kemusyrikan, menurut Buya, ada empat:
1. Taklid buta kepada nenek moyang
2. Pengaruh budaya luar tanpa filter
3. Alasan mendapatkan keberkahan dan pertolongan gaib
4. Faktor kekuasaan dan ekonomi yang dimanfaatkan.
Sebagai ulama kharismatik Ranah Minang, Buya juga menyampaikan kritik konstruktif terhadap beberapa tradisi yang mulai menyimpang. Beliau mengingatkan masyarakat Minang untuk tidak meninggalkan kearifan lokal yang telah ada, seperti sistem “timbang baok, raso baok, pareso baok” (timbang, rasa, dan periksa) dalam menerima sesuatu.
“Jangan jadikan ‘nan tampak jadi tuntunan’. Perlu ada filter. Orang Minang dulu kuat saringannya, tapi sayang kini nilai itu hilang,” ujar Buya.
Beliau juga mengkritik budaya penghormatan berlebihan, seperti mencium tangan guru yang berbeda jenis, yang tidak ada contohnya dari Rasulullah. “Nabi tidak pernah mendahului menyalami wanita dan tidak menyalami wanita. Kalau betul pewaris Nabi, ya jangan dibegitukan,” tegasnya.
Buya mengakhiri majelis dengan mengingatkan agar umat Islam kembali memurnikan tauhid dan tidak mudah terjebak dengan hal-hal yang mengatasnamakan keberkahan.
“Cukuplah sampai di sini. Semoga kita dijauhkan dari kesesatan seperti yang menimpa Amru bin Luhai dan terbebas dari jerat iblis yang selalu berusaha menyesatkan manusia,” pungkas Buya sebelum mengakhiri majelis.







