MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Ulama kharismatik ranah Minang yang fenomenal dan dikenal rendah hati, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, kembali menyentil fenomena yang tengah viral di tengah umat. Dalam pengkajian Sirah Nabawiyah dihadiri ratusan jemaah di Masjid Al Hakim, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat ini membuka majelis dengan satu peringatan keras: jangan pernah melabeli Islam dengan nama siapa pun atau wilayah mana pun.
“Mengapa manusia ini terlepaslah isinya hanya testimoni-testimoni?” ujar Buya Gusrizal mengawali sentilannya. Ia menyoroti fenomena kemunculan istilah-istilah seperti “Islam Nusantara” hingga yang terbaru “Islam Prabowo”. Menurutnya, pelabelan semacam ini adalah bentuk distorsi dan pengecilan nilai-nilai Islam yang tidak patut dilekatkan kepada individu mana pun.
“Jangankan Islam, umat Islam saja tidak berhak orang mengatakan bahwa ini umatku selain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,” tegasnya. Bahkan seorang dai, ulama, atau mubaligh yang hebat sekalipun, tidak berhak mengklaim umat ini sebagai miliknya. Apalagi sampai menisbatkan Islam kepada nama seseorang.
Buya Gusrizal menjelaskan bahwa salah satu tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah adalah untuk menyadarkan betapa jauhnya umat ini dari sosok ideal Rasulullah. “Hilangnya keberanian untuk menyamakan diri seperti Nabi,” ujarnya. Semakin dalam seseorang mengkaji perjalanan hidup Nabi, semakin ia sadar betapa rendahnya nilai keislamannya dibandingkan dengan Rasulullah.
Ia pun mengutip Surah Al-Hujurat ayat 7 sebagai renungan. “Kalau kita renungkan, ayat ini sebenarnya banyak menyentil kita semua,” kata Buya. Kecenderungan umat hari ini, lanjutnya, bukan menjadikan Rasulullah sebagai acuan, melainkan menuntut agar Rasulullah mengikuti cara mereka. “Islam yang diwariskan oleh Rasul itu bukan itu acuan. Malah kita mencoba menjadikan kita sebagai acuan,” sesalnya.
Memasuki materi sirah, Buya Gusrizal mengajak jemaah menelusuri situasi Jazirah Arab sebelum kelahiran Nabi. Ia menjelaskan bahwa orang Arab pada masa itu tidak memiliki sistem penanggalan angka seperti Romawi dan Persia. “Mereka menyebut tahun-tahun itu dengan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada tahun itu,” jelasnya. Karena itulah tahun kelahiran Nabi dikenal sebagai Tahun Gajah.
Buya kemudian mengisahkan peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan Abrahah. Dikisahkan bahwa Abrahah adalah ajudan dari Panglima Aryad yang dikirim oleh Raja Najasyi dari Habasyah untuk membebaskan Yaman. Namun, Abrahah yang haus kekuasaan tega membunuh atasannya sendiri dan mengambil alih kepemimpinan.
“Jadi naiknya dengan pengkhianatan,” ujar Buya. Mendengar hal itu, Raja Najasyi murka. Namun, Abrahah rupanya seorang penjilat besar. Ia mengirim berbagai hadiah mahal untuk meredam amarah sang raja. “Coba belajar dari sejarah itu saja. Banyak pelajaran yang bisa dibawa pulang,” sindirnya sambil tersenyum.
Abrahah kemudian membangun gereja megah dengan ambisi menjadikan Yaman sebagai pusat peradaban. Namun, ambisinya terganggu karena orang-orang Arab tetap menjadikan Makkah dan Ka’bah sebagai pusat spiritual mereka. “Sakit hatinya minta ampun,” kata Buya. Akhirnya, Abrahah memutuskan menghancurkan Ka’bah.
Sampailah Abrahah di pinggiran Makkah dengan pasukan bergajahnya. Ia merampas harta benda penduduk, termasuk unta-unta milik Abdul Muthalib, kakek Nabi. Ketika Abdul Muthalib datang menghadap, Abrahah terkesan dengan kewibawaannya. Namun, ia heran karena Abdul Muthalib justru datang untuk mengurus untanya, bukan membela Ka’bah.
“Ammal bait, adapun baitullah Ka’bah yang hendak engkau hancurkan, falahu rabbuh, dia punya Tuhan, fahua yamna, dia yang akan membelanya. Wa ammal ibili, sedangkan unta itu ana rabbuh, saya tuannya, karena itu saya urus unta saya,” jawab Abdul Muthalib dengan tegas.
Buya Gusrizal menuturkan bahwa jawaban itu menunjukkan sisa-sisa keyakinan yang diwariskan Nabi Ibrahim masih ada pada Abdul Muthalib. “Seorang Abdul Muthalib saja meyakini dengan kemusyrikannya bahwa Allah akan membela rumahnya. Masa kita hari ini kadang hanya berhadapan dengan ‘Abrahah’ setingkat apa, tapi kadang malu kita,” sindirnya.
Majelis pun ditutup dengan pesan mendalam: Maulid bukan sekadar perayaan tanggal 12 Rabiul Awal. “Ini untuk menyadarkan diri kita betapa jauhnya kita dari model ideal yang diharapkan oleh Nabi,” pungkas Buya. “Jangankan seperti Nabi, jangankan seperti para sahabat beliau, generasi sesudah itu saja jauh kita ini.”







