MINANGKABAUNEWS.com, PADANG – Tradisi balanjuang kembali digelar oleh kongsi kematian Masjid Istifar, Pulau, Kelurahan Binuang Kampung Dalam, Kecamatan Pauh, Kota Padang.
Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Istifar ini tidak hanya menjadi ajang makan bersama dan mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi forum bagi warga untuk menyampaikan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah keresahan petani terkait pencurian padi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Don Rizal, warga pulau, Kelurahan Binuang Kampung Dalam mengatakan keresahan petani mulai muncul saat padi memasuki masa menguning dan mendekati panen.
Menurut Don, pencurian dilakukan dengan cara menyabit rumpun padi, kemudian membawa hasil sabitan tersebut. Bukan hanya padi, warga juga mengaku pernah kehilangan hasil kebun lainnya.
“Meski nilai materi yang hilang tidak selalu besar, kondisi tersebut menimbulkan rasa tidak aman bagi masyarakat, terutama para petani,” katanya, baru-baru ini.
Don berharap pemerintah melalui rt, rw, dan pihak terkait dapat mengambil langkah pencegahan, salah satunya dengan mengaktifkan kembali ronda malam.
Menurutnya, dengan adanya aktivitas warga di malam hari, lingkungan akan lebih terjaga dan petani dapat merasa lebih aman.
Dalam kesempatan tersebut, ketua Kongsi Kematian Meihendrizon, juga menjelaskan, kegiatan balanjuang basamo yang digelar di Masjid Istifar merupakan salah satu upaya menghidupkan kembali suasana kampung dan memperkuat kebersamaan warga.
Ia menyebut, kongsi kematian Masjid Istifar juga memiliki peran sosial dalam membantu masyarakat, tidak hanya ketika ada warga yang meninggal, tetapi juga saat menghadapi kendala sosial atau warga yang sedang sakit.
Melalui kegiatan sosial dan kebersamaan tersebut, warga berharap persoalan yang terjadi di lingkungan dapat disampaikan kepada tokoh masyarakat dan pihak pemerintah, sehingga ada langkah nyata untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
Menanggapi hal tersebut, Lurah Binuang Kampung Dalam Mulyardi, mengatakan pihak kelurahan sangat mendukung kegiatan balanjuang.
Menurutnya, forum seperti ini penting karena menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat dalam membahas berbagai persoalan aktual, termasuk masalah ketenteraman dan ketertiban umum.
Mulyadi menyebut, hasil pembahasan bersama warga dapat ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan, seperti ronda, gotong royong, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.
Sementara itu, Eka Saputra, Sekcam Kecamatan Pauh, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menilai balanjuang bukan sekadar makan bersama.
“Balanjuang dinilai memiliki nilai sosial dalam membangun silaturahmi, empati, serta rasa tanggung jawab warga terhadap lingkungannya,” ujarnya.
Pihak kecamatan mendorong agar semangat kebersamaan tersebut dilanjutkan dalam bentuk langkah nyata, termasuk mengaktifkan ronda dengan melibatkan perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama.
Dalam penanganan masalah sosial, pihak kecamatan juga menekankan pentingnya pendekatan kearifan lokal. Jika pelaku merupakan warga setempat, tokoh masyarakat dan tokoh adat dapat dilibatkan untuk melakukan pembinaan.
Namun, apabila perbuatan tersebut sudah berulang dan tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan, penanganannya tetap dapat diteruskan sesuai prosedur hukum.
Pihak kecamatan juga menyorot persoalan penyalahgunaan narkoba yang dinilai perlu mendapat perhatian bersama, karena dapat berkaitan dengan munculnya berbagai permasalahan sosial di masyarakat.
Karena itu, pemerintah kecamatan bersama kelurahan dan masyarakat berkomitmen memperkuat sinergi dan menindaklanjuti aspirasi warga.
Melalui balanjuang, ronda, gotong royong, dan kegiatan sosial lainnya, masyarakat diharapkan semakin kompak dalam menjaga lingkungan.
Sehingga, tidak hanya tradisi dan kearifan lokal yang tetap terpelihara, tetapi juga tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh warga Kelurahan Binuang Kampung Dalam. (*)







