Festival Tanam Hulu, Aksi Galapagos Kurangi Risiko Bencana

Pengurangan risiko bencana tidak cukup hanya dilakukan saat bencana terjadi. Perkumpulan Galapagos Lestari Indonesia memilih langkah berbeda dengan memulihkan kawasan hulu Sungai Batang Kuranji melalui gerakan penanaman puluhan ribu bibit pohon.

MINANGKABAUNEWS.COM, PADANG— Pengurangan risiko bencana tidak cukup hanya dilakukan saat bencana terjadi. Perkumpulan Galapagos Lestari Indonesia memilih langkah berbeda dengan memulihkan kawasan hulu Sungai Batang Kuranji melalui gerakan penanaman puluhan ribu bibit pohon.

Gerakan bertajuk Festival Tanam Hulu ini diluncurkan menyusul dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Kota Padang. Bencana tersebut menelan 12 korban jiwa dan berdampak terhadap lebih dari 30 ribu warga, sekaligus meninggalkan persoalan sedimentasi di sepanjang aliran sungai.

Wali Kota Padang Fadly Amran menilai pengurangan risiko bencana harus dilakukan dari berbagai sisi, termasuk memperkuat kawasan hulu sebagai bagian penting dari sistem perlindungan lingkungan dan daerah aliran sungai.

Melalui program ini, Galapagos menargetkan penanaman hampir **60 ribu bibit** di empat lokasi prioritas, yakni Lambung Bukik, Gunung Nago, Gunung Sarik dan Batu Busuk, yang berada di Kecamatan Pauh dan Kuranji.

Ketua Perkumpulan Galapagos Lestari Indonesia, Hendra Amriz, mengatakan Festival Tanam Hulu dirancang bukan sekadar kegiatan seremonial. Program tersebut berlangsung selama **30 minggu atau sekitar tujuh bulan** dengan tiga klaster kegiatan.

Klaster pertama berupa konsolidasi pemangku kepentingan melalui diskusi, pemetaan dan sosialisasi. Klaster kedua fokus pada edukasi lingkungan melalui coaching clinic dan pendampingan. Sementara klaster ketiga berupa kompetisi restorasi hulu DAS, mulai dari pembibitan, penanaman, geo-tagging, perawatan hingga penjurian berdasarkan **survival rate** tanaman.

Anggota DPR RI asal Sumatera Barat, Andre Rosiade, mengapresiasi konsep tersebut. Menurutnya, program Galapagos memiliki perencanaan yang matang karena tidak berhenti pada penanaman, tetapi juga memastikan bibit dirawat dan dipantau selama tujuh bulan.

“Program ini dipersiapkan dengan baik, mulai dari keterlibatan peserta, pemilihan bibit hingga pemantauan,” ujarnya saat menghadiri penanaman perdana.

Penanaman perdana Festival Tanam Hulu dilakukan Rabu sore, 9 September 2026, di kawasan Guo, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Galapagos sendiri berawal dari kegiatan ekstrakurikuler Sispala Galapagos di SMA Negeri 1 Padang pada 1984. Dari komunitas tersebut, gerakan ini berkembang menjadi Sispala Galapagos, Perkumpulan Galapagos dan Yayasan Galapagos dengan fokus yang sama: menjaga dan melestarikan alam Indonesia.

Pos terkait