Buya Gusrizal: Tanpa Nikah, Tugas Kekhalifahan Manusia Akan Gagal Total!

  • Whatsapp
Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya DR. Gusrizal Gazahar (Foto: Dok. Istimewa)

“Nikah bukan sekadar akad, tapi penopang utama misi terbesar manusia di muka bumi.”

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA – Di tengah arus pemahaman modern yang kerap memandang pernikahan sekadar urusan pribadi atau bahkan beban sosial, seorang ulama kharismatik sekaligus Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, melontarkan pandangan yang menggetarkan.

Menurut Buya, umat Islam saat ini mengalami krisis pemahaman mendasar: kenapa Islam begitu ketat mengatur urusan pernikahan?

“Banyak orang sekarang tidak memahami apa latar belakangnya. Makanya kita harus mengkaji lebih mendalam apa tujuan utama keberadaan manusia hadir di muka bumi ini,” ujar Buya dalam pengajian Fiqh Keluarga, Rabu (15/4/2026).

Buya mengingatkan, pertanyaan seputar pernikahan tidak bisa dijawab tanpa merujuk pada pertanyaan yang lebih fundamental: Untuk apa manusia diciptakan?

“Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 30: Inni jaa’ilun fil ardhi khalifah. Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Tugas kita adalah memakmurkan dunia, mewujudkan kemaslahatan,” tegas Buya.

Dari sinilah, menurut Buya, akar pensyariatan pernikahan bermula.

“Sebagai konsekuensi tugas kekhalifahan yang begitu luas, manusia harus memiliki keturunan. Alam semesta ini luas. Maka Adam harus berketurunan. Untuk itulah Allah ciptakan pasangan: Wa khalaqa minha zaujaha,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Buya, Allah kemudian menyebarkan keturunan Adam menjadi laki-laki dan perempuan. Artinya, pernikahan adalah satu-satunya wadah yang menopang tugas kekhalifahan.

“Tanpa pernikahan, tugas kekhalifahan tidak bisa berjalan. Maka nikah bukan syariat baru turun kepada Nabi Muhammad. Nikah sudah ada sejak Adam. Bahkan ketika Adam bangun dari tidurnya, di sampingnya sudah ada Hawa,” kata Buya menegaskan.

Buya mengutip keras sabda Nabi Muhammad SAW: “Man raghiba ‘an sunnati fa laisa minni.” Siapa yang tidak suka dengan sunahku, maka bukan bagian dariku.

“Kenapa Nabi tegas begitu? Karena menentang pernikahan berarti menentang sunatullah. Dari awal penciptaan, Allah sudah menetapkan manusia saling berpasangan. Bahkan Allah berikan unsur syahwat kepada lawan jenis,” ungkap Buya.

Dengan nada tegas, Buya menyoroti fenomena LGBT yang belakangan semakin berani.

“Allah tidak pernah menciptakan syahwat kepada sesama jenis. Surat Ali Imran ayat 14 hanya menyebut hubbus syahwati minan nisa’i wal banin. Tidak ada syahwat kepada sesama jenis. Itu keluar dari sunatullah. Itu tidak normal,” tegasnya.

Buya mengutip Surat Al-A’raf ayat 80, ketika Nabi Luth berkata kepada kaumnya: “Ataatunal fahisyata ma sabaqakum biha min ahadin minal ‘alamin.” Apakah kamu mendatangkan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan seorang pun di alam semesta ini?

“Maka tidak salah kalau orang-orang seperti itu disebut kaum Sodom. Ini bukan soal toleransi, tapi soal pandangan sedih dan semangat untuk memperbaiki. Jangan sampai mereka terus membuat kerusakan di muka bumi,” pesan Buya.

Buya bahkan mengungkapkan berita terkini tentang penggerebekan hotel oleh aparat, di mana sekelompok laki-laki melakukan perbuatan terkutuk tersebut.

“Na’uzubillahi min zalik. Mereka semakin jauh melangkah, merasa dilindungi undang-undang buatan manusia yang membelakangi Allah. Ada yang berperan sebagai suami, ada yang berperan sebagai istri. Ini sungguh mengkhawatirkan,” sesalnya.

Buya lalu membayangkan skenario mengerikan jika syariat pernikahan tidak ada.

“Kalau manusia dibiarkan dengan kecenderungan syahwatnya tanpa aturan, apa yang terjadi? Manusia akan berbuat seperti binatang. Bahkan lebih biadab,” ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi zaman jahiliah: “Dulu ada wanita yang mencari suami di tepi jalan. Lalu dia menghampiri lelaki. Begitu hamil, dia pergi mencari siapa yang pernah tidur dengannya. ‘Engkaulah bapaknya,’ katanya sambil menunjuk hidung. Itu kondisi tanpa aturan.”

Maka kehadiran syariat pernikahan, menurut Buya, adalah untuk menjawab dua hal sekaligus:

1. Menjawab karakter dasar manusia yang memang diciptakan senang berpasangan dengan lawan jenis. Inilah mengapa Islam disebut dinul fitrah.
2. Mewujudkan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.

“Karena manusia punya rasa cinta dan cemburu. Kalau tidak ada aturan dalam berpasangan, manusia akan saling membunuh. Maka pernikahan adalah solusi untuk mewujudkan kemaslahatan,” jelas Buya.

Buya menegaskan, tujuan berketurunan dalam pernikahan bukan sekadar melahirkan anak.

“Berketurunan itu maknanya adalah adanya generasi yang akan jadi khalifah pelanjut. Karena itu rumah tangga adalah wadah membentuk orang yang pantas menjadi khalifah, bukan pantas menjadi hewan,” tegasnya.

Jika tidak ada rumah tangga, kata Buya, maka tidak akan ada wadah untuk membentuk generasi yang mampu menjalankan tugas-tugas kekhalifahan.

“Inilah mengapa pernikahan disyariatkan dalam Islam, dengan perintah dalam Al-Qur’an dan sunah, serta ijma’ ulama. Nikah itu masyru’ sejak awal,” pungkasnya.

Di akhir pengajian, Buya menyentuh aspek praktis yang kerap diabaikan masyarakat.

“Selama ini kita sering mendengar hadis: wanita dinikahi karena empat perkara: harta, keturunan, kecantikan, dan agama. Seolah-olah laki-laki yang memilih, wanita tinggal menerima. Itu tidak benar,” kritik Buya.

Menurutnya, wanita juga memiliki hak untuk memilih dan menyeleksi siapa yang akan menjadi suaminya.

“Bukan cara mencari istri, tapi cara mencari pasangan. Laki-laki disuruh mencari, perempuan juga disuruh mencari. Bukan menunggu ‘siapa yang tiba’. Wanita juga punya ukuran-ukuran untuk menentukan siapa yang layak menjadi suaminya,” tandas Buya.

Dengan demikian, syariat pernikahan dalam Islam tidak hanya mengatur akad, tetapi membangun peradaban dari hulu ke hilir—dari cara mencari pasangan, membina rumah tangga, hingga melahirkan generasi khalifah penjaga bumi. Wallahu a’lam.

Related posts