“Kami Lawan Kezaliman Siapa Pun!”: Buya Gusrizal Gazahar Memukau Dubes Saudi hingga Minta Seluruh Ucapannya Diterjemahkan

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Suasana pertemuan antara Dubes Kerajaan Saudi Arabia untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al Amoudi, dengan para ulama MUI pusat di Rumah Dinas Dubes Saudi Arabia di jalan Teuku Umar No. 36 Menteng – Jakarta Pusat, Kamis, (16/4). Peristiwa ini berubah menjadi momen yang tak terlupakan. Bukan sekadar jamuan makan malam biasa, pertemuan itu justru menjadi panggung ketegasan ulama Indonesia yang disampaikan langsung oleh Ketua MUI Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Gusrizal Gazahar.

Awalnya, sang Dubes dengan ramah mempersilahkan para ulama untuk memberikan pandangan dan masukan. Namun, tak disangka, Buya Gusrizal yang kharismatik asal Minangkabau itu langsung membuka suara dengan bahasa Arab yang fasih, membuat seluruh hadirin menyimak.

“Ada tiga poin penting yang bisa saya simpulkan dari penjelasan Mulia Dubes,” ujar Buya memulai.

Dua poin pertama disampaikan dengan tegas namun diplomatis. Buya mengapresiasi pernyataan bahwa Saudi tidak terlibat dalam konflik regional, serta upaya Riyadh membangun kepercayaan antar negara tetangga di Teluk. “Saya berharap sikap ini dijaga, dan usaha membangun kepercayaan terus dijalankan,” tegasnya.

Namun, momen puncak terjadi ketika Buya sampai pada poin ketiga. Suasana ruang jamuan yang hangat berubah menjadi hening yang mencekam sekaligus penuh makna. Buya menatap langsung Dubes dan berkata:

“Yang ketiga, janganlah majelis ini berhenti pada jamuan makan malam ini saja. Jadikan ini kesempatan saling memahami. Ketahuilah, ulama Indonesia akan tetap bersama yang hak, walau ke mana pun kebenaran itu beredar. Kami tidak akan bersama kezaliman dengan alasan apa pun. Jika saudara-saudara berada di atas kebenaran, kami akan bersama saudara. Tapi kezaliman dari siapa pun, tetap akan kami lawan, walau dengan alasan membela diri sekalipun. Karena itu adalah melampaui batas, dan Allah tidak pernah menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Kalimat itu meluncur deras dengan bahasa Arab yang fasih dan penuh penghayatan. Seketika, ruangan membisu. Sang Dubes terlihat tertegun sejenak, lalu tersenyum dan langsung menyeletuk sambil menunjuk Buya Gusrizal:

“Inilah bathal (tokoh/pahlawan) pertemuan malam ini.”

Tak berhenti di situ, Dubes Faisal kemudian meminta penerjemah resmi Kedutaan Saudi yang hadir untuk menerjemahkan seluruh pernyataan Buya Gusrizal ke dalam Bahasa Indonesia. “Supaya semua hadirin bisa memahaminya,” ujar sang Dubes.

Sontak, suasana yang tadinya tegang berubah menjadi hangat dan penuh keakraban. Makan malam pun berlangsung dengan dialog yang cair, namun pesan tegas Buya tetap menggema: Ulama Indonesia tidak akan pernah kompromi dengan kezaliman, siapa pun pelakunya.

Pertemuan yang berakhir dengan pelukan dan saling hormat itu pun ditutup dengan pengakuan Dubes bahwa figur seperti Buya Gusrizal adalah “bathal” sejati yang jarang ditemui. Sebuah momen diplomatik yang tak hanya menghangatkan hubungan, tapi juga menegaskan pimpinan ulama Indonesia di mata dunia.

Related posts