Padang Pariaman, Minangkabaunews.com
Aku tau ini adalah takdir yang mesti tersemat kepada diriku sebagaimana yang telah Engkau cantumkan dalam kitab Lauhil Mahfuz. Tapi yang aku tak tau adalah, sampai kapan aku sanggup untuk memikulnya?
Meski belum atau entah tak kan bisa melafaskan, barangkali itulah yang hendak disampaikan oleh Muhammad Fathan Abdillah, bocah yang terlahir pada 13 September 2025 lalu. Di saat terlahir dari rahim bunda, Fathan sudah menanggung beban berat. Ia tak seperti kebanyakan bayi-bayi lain. Muncul ke alam dunia, Fathan juga membawa derita Palatoskizis. Dalam bahasa awam, artinya langit-langit sumbing dan bolong.
Untuk melewatkan makanan ke dalam tubuh, harus melalui selang. Karena Fathan hanya memiliki saluran pernafasan. Tak bisa makanan dan minuman masuk melalui saluran pernafasan. Bahaya sekalian akibatnya jika itu terjadi. Bisa-bisa berujung kepada kematian.
Tentu saja, seperti kelahiran bayi-bayi lainnya disertai dengan tangisan yang disambut bahagia keluarga. Tapi tangisan Fathan teriring bersama tangisan derita. Fathan lahir di RS Yarsi Padang Panjang ketika itu, dan diperbolehkan pulang beberapa hari kemudian. Pulang bersama sang ibu ke rumah mereka di Kampuang Jambak Dusun Padang Lapai, Guguak, Kayutanam, Padang Pariaman.
Di kediamannya yang sederhana, mulailah Fathan menjalani hari-hari panjang yang menyedihkan dan melelahkan. Sang ibu yang biasanya bekerja serabutan tak bisa lagi seperti itu. Karena merawat Fathan harus maksimal. Fathan sering rewel dengan derita yang ia tanggung. Soal demam, batuk dan muntah adalah hal biasa bagi Fathan.
Suatu ketika di usia 4 bulan, sakit Fathan parah dari biasa. Ia kesulitan bernafas. Seakan-akan usianya akan berakhir. Fathan segera dilarikan ke rumah sakit. Kali ini tak lagi ke Yarsi Padangpanjang, melainkan ke Rumah Sakit Unand di Padang. Diagnosa di sana kembali menambah beban derita Fathan. Fathan dinyatakan menderita Tubercolosis dan Meningitis.
Tubercolosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang lazim menyerang paru-paru, penderitanya sering mengalami sesak nafas dan sakit di bagian dada. Sedangkan Meningitis merupakan peradangan selaput pelindung otak yang menyebabkan sakit kepala luar biasa.
Derita yang dipikul Fathan kembali bertambah. Akibat penyakit baru mendera, sejak saat itu dari otak harus dipasang selang ke dalam tubuh yang dalam istilah medis disebut Trakheostomi dan harus diberi oksigen untuk membantu pernafasan. Saat itu juga dilakukan operasi perdana penutupan langit-langit yang bolong. Dua tindakan operasi sekaligus.
Sesungguhnya Fathan tak bisa dioperasi bersamaan sesuai ketentuan administrasi yang dibiayai BPJS. Namun kemurahan hati dokter di sana, mewakafkan dirinya demi kesembuhan dan percepatan menangani Fathan.
Sepulang dari RS Unand, Fathan harus menjalani hari-hari yang lebih memilukan dari sebelumnya. Tubuhnya yang setiap saat digelayuti selang harus diawasi terus. Rewelnya jangan ditanya lagi. Ayu Wandira, sang ibu muda mesti harus lebih hati-hati dan ekstra merawat Fathan, buah hatinya yang ke tiga itu.
Bagi mereka sekeluarga, derita makin berat. Langit makin kelam, duka pun makin dalam. Untuk kebutuhan sehari-hari, selain pinjaman, Ayu terkadang memperoleh donasi dari kerabat dan tetangga. Mereka bertahan dalam kegetiran.
Paskakeluar dari RS Unand, kabar derita Fathan ini sampai kepada bidan nagari Idah, terus ke personil Puskesmas Kayutanam Ema Yuliwati dan tenaga kesejahteraan sossial kecamatan (TKSK) Rina Andrianti yang bernaung di bawah Kementrian Sosial. Rina dan personil Puskesmas Kayutanam Ema Yuliwati turun membantu menyebar informasi dan menggaet pihak-pihak yang ingin berdonasi di luar mereka sendiri.
Tak berapa lama berselang, atensi mulai berdatangan. Kepala Dinas Sosial P3A Padang Pariaman Siska Primadona, Kepala Dinas Kesehatan Engga Lift Irwanto dan rombongan berkunjung. Serta Ketua organisasi sosial Aspila, Azwar Anas dan dari Baznas Padang Pariaman. Aspila menyumbang Rp 5 juta dan alat pengisap lendir, Baznas kabupaten dan propinsi Rp 3 juta, Dinsos P3A menyumbang sembako dan kebutuhan lainnya.
Seiring berjalannya waktu, donasi dari berbagai pihak yang memiliki simpati kepada Fathan pun berdatangan. Dari dalam Padang Pariaman sendiri dan juga dari luar kabupaten dan luar provinsi. Termasuk dari BPJS PBI JKN Kemensos, Relawan Donor Darah Sumbar dan dari Puskesmas di kawasan sekitar domisili Fathan berupa oksigen.
Medio April 2026, kondisi Fathan memburuk. Ia dilarikan ke RSUD Padang Pariaman. Penyakit baru pun diderita Fathan. Jantungnya bocor. Fathan kemudian dirujuk ke RSUP dr M Jamil. Difasilitasi personil Puskesmas Kayutanam Ema Yuliwati dan TKSK Kemensos Rina Andrianti, Fathan pun ditangani ekstra karena kondisinya yang menurun drastis. Diagnosa lanjutan juga membuahkan derita tambahan. Usus Fathan ada masalah, sehingga saluran buang air besar (bab) Fathan harus dipindahkan ke perut. Paripurna sudah penderitaan Fathan di usianya yang sangat belia.
Pasrah dan menyerahkah Fathan? Fathan memang tak bersuara. Tapi meski samar namun jelas, sorot mata Fathan penuh makna. Ia seakan-akan berkata, takdir tetaplah takdir. Takdir bukan untuk diratapi. Takdir adalah ketentuan yang mesti dijalani. Tak seorangpun yang bisa menentangnya.
Yang pasti bagi Fathan, hidup adalah perjuangan. Perjuangan membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan pun membutuhkan ketabahan. Kalaupun Fathan dijemput Sang Pemilik, itu juga bagian dari takdir.
Sejak April hingga kini, Fathan selalu kontrol ke RSUP M Jamil. Kadang rawat inap kadang rawat jalan. Karena TKSK Kemensos Rina sering memfasilitasi dan berkoordinasi dengan pihak RSUP M Jamil, Fathan kini dberi julukan Anak Kementerian di sana.
Jika tidak sedang rawat inap, kebutuhan Fathan lumayan besar setiap hari. Selain asupan gizi yang sempurna, Fathan butuh satu tabung oksigen dan satu kantong penampung bab. Ke depan masih banyak rangkaian operasi yang bakal dijalani Fathan menuju kesembuhan. Perlahan tapi pasti, potensi ke arah itu masih terbentang. Dalam kesedihan, Fathan menanti kuasa dan mukjizat dari Allah yang maha segala-galanya dan Allah akan berbuat sesuai kehendakNya.
Bantuan dari berbagai pihak sudah menipis dan kadang sudah habis sebelum datang lagi. Kini Fathan menunggu uluran tangan dermawan yang iba kepada dirinya. Ibu Fathan khusus melakukan perawatan sebagai orangtua tunggal. Ia tidak bisa menghasilkan rupiah. Ayah Fathan sudah meninggalkan rumah sejak Fathan masih dalam kandungan. Fathan tak pernah ia jenguk. Kalaupun ada sebentuk tanggungjawab materi, pernah ia beri. Tapi sudah lama.
Teruntuk para dermawan dan siapapun yang telah memberi atensi dan berempati kepada dirinya, dibalik senyum di antara erangan dan tangisan, Fathan sepertinya menyelipkan seuntai ucapan terimakasih yang tak terhingga seraya berdoa, semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan Allah.
Terhadap ayahnya, jauh dari lubuk yang paling dalam sangat mungkin kalbu Fathan berteriak, ”Begitu tega kau perlakukan kami, Ayah, tak adakah cinta kasih dan dekapanmu untukku?”
Catatan :
Jika pembaca Minangkabaunews berkenan memberikan donasi untuk Fathan, dapat mengirimnya melalui no rekening RDDS BSI 4426011978 an Elsy Varinia, dan dikonfirmasikan melalui no HP 08115721946






