Pancasila Bukan Kuno! Shadiq Pasadigoe Ingatkan Satu Hal yang Sering Dilupakan Anak Muda

  • Whatsapp
M. Shadiq Pasadigoe dan peserta saat kegiatan Sosialisasi Pancasila bertema "Mengamalkan Pancasila untuk Indonesia Maju dan Berkarakter", (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Ada yang berbeda dari sosialisasi Pancasila kali ini. Di tengah ruangan yang dipadati ratusan peserta, seorang pemuda bertanya dengan lugas: “Bukankah Pancasila sudah kita hafalkan sejak SD? Kenapa sekarang masih perlu disosialisasikan lagi?”

Pertanyaan sederhana itu menggelitik sekaligus mengundang tepuk tangan.

Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai NasDem, M. Shadiq Pasadigoe, tersenyum mendengar pertanyaan itu. Baginya, itulah justru “pekerjaan rumah” terbesar bangsa ini saat ini.

“Mari kita jujur,” ujar Shadiq mengawali sambutannya di hadapan ratusan peserta yang memenuhi ruangan. “Kita semua bisa melantunkan Pancasila dari sila pertama sampai kelima. Tapi seberapa sering nilai-nilai itu hadir dalam percakapan kita sehari-hari?”

Sosialisasi Pancasila yang digelar di Kota Padang, Senin (6/7/2026) ini terasa berbeda dari biasanya. Bukan sekadar seremonial, melainkan perbincangan hangat yang menyentuh realitas yang dihadapi anak muda saat ini.

Ketika Hoaks dan Intoleransi Mengancam

Di era di mana informasi menyebar dalam hitungan detik, Shadiq menyoroti satu persoalan krusial: derasnya arus hoaks, ujaran kebencian, dan intoleransi yang kerap menyelinap di ruang digital.

“Nilai-nilai Pancasila sedang diuji setiap hari,” tegasnya. “Bukan di buku-buku, tapi di linimasa media sosial kita, di obrolan grup WhatsApp, di komentar-komentar yang kita lontarkan.”

Ia mencontohkan bagaimana semangat gotong royong mulai luntur digantikan sikap individualistis. Bagaimana musyawarah sering tergantikan oleh klaim kebenaran sepihak. Bagaimana toleransi terkikis oleh sikap merasa paling benar.

“Padahal,” lanjutnya, “Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok. Indonesia dibangun oleh keragaman. Dan Pancasila adalah jembatan yang menyatukan semua perbedaan itu.”

Perhatian Khusus untuk Gen Z dan Alpha

Dalam paparannya, Shadiq memberikan perhatian istimewa kepada generasi muda, terutama Generasi Z dan Generasi Alpha yang lahir dan tumbuh di era digital.

“Mereka bukan generasi yang pasif. Mereka kreatif, kritis, dan cepat memahami hal-hal baru. Namun justru di situlah tantangannya,” jelasnya.

Ia mengajak generasi muda untuk menjadi pelopor pengamalan Pancasila, bukan sekadar di lingkungan sekolah atau kampus, tetapi juga di ruang digital yang menjadi “rumah kedua” mereka.

“Sebarkan kebaikan, lawan hoaks dengan fakta, jaga toleransi dalam setiap unggahan. Itulah bentuk cinta tanah air yang paling nyata di zaman sekarang,” pesannya.

Kolaborasi Semua Pihak

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini menghadirkan sejumlah pembicara. Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi BPIP RI, Dr. Adhianti, S.I.P., M.Si., menegaskan bahwa penguatan ideologi Pancasila adalah tanggung jawab kolektif.

“Pancasila tidak boleh berhenti sebagai dokumen atau slogan. Nilai-nilainya harus hadir dalam kebijakan, pendidikan, kehidupan bermasyarakat, hingga perilaku sehari-hari,” ujarnya tegas.

Ia mengapresiasi sinergi yang dibangun M. Shadiq Pasadigoe bersama BPIP RI dan pemerintah daerah dalam memperluas gerakan pembumian nilai-nilai Pancasila di Sumatera Barat.

Wakil Wali Kota Padang, H. Maigus Nasir, M.Pd., turut menyambut baik kegiatan ini. Baginya, pembangunan daerah tidak cukup diukur dari infrastruktur dan ekonomi semata.

“Kualitas sumber daya manusia yang berakhlak, religius, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila adalah fondasi utama pembangunan,” ucapnya.

Sementara Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Nanda Satria, S.IP., menyoroti konsistensi Shadiq dalam menghadirkan program-program kebangsaan di daerah.

“Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter Pancasila yang kuat. Kolaborasi ini harus terus diperkuat,” katanya.

Harapan untuk Indonesia Emas 2045

Di akhir sambutannya, Shadiq kembali mengingatkan visi besar Indonesia Emas 2045. Menurutnya, penguatan ideologi Pancasila adalah investasi besar yang tidak boleh diabaikan.

“Bayangkan Indonesia di usia 100 tahun kemerdekaannya. Kita ingin bangsa yang maju, tentu saja. Tapi bangsa yang maju seperti apa? Maju yang tetap berkarakter, maju yang tetap menjunjung persatuan, maju yang tetap adil bagi semua,” paparnya.

Ia menutup dengan ajakan yang menggugah: “Mari kita jadikan Pancasila bukan sekadar bacaan di dinding kelas, tapi napas dalam setiap tindakan kita. Karena bangsa yang besar tidak dibangun oleh hafalan, tapi oleh perbuatan nyata.”

Kegiatan yang dihadiri unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, akademisi, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan pelajar ini berlangsung penuh antusias. Sesi tanya jawab yang berlangsung hangat menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap ideologi bangsa masih hidup, selama ia dikemas dengan cara yang menyentuh dan relevan.

Pancasila, seperti yang diingatkan Shadiq, bukanlah usang. Ia tetap aktual selama nilai-nilainya dihidupkan oleh generasi yang percaya bahwa Indonesia layak untuk terus bersatu, adil, maju, dan sejahtera.

Related posts