MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang tak pernah sepi dan kecerdasan buatan yang kian canggih, siapa sangka ancaman terbesar bagi generasi muda saat ini bukanlah musuh dari luar, melainkan kelengahan dalam menjaga karakter bangsa?
Hal inilah yang membuat Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai NasDem, Dr. (H.C.) Ir. M. Shadiq Pasadigoe, S.H., M.M., angkat bicara. Dalam suasana hangat penuh semangat kebersamaan, ia mengajak seluruh pemuda Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, untuk kembali memegang erat nilai-nilai Pancasila. Bukan sekadar dihafal, tetapi diamalkan sebagai kompas moral di era yang serba digital ini.
Sabtu (20/6/2026) menjadi momen istimewa ketika M. Shadiq Pasadigoe berdiri di hadapan ratusan pemuda, mahasiswa, dan aktivis sosial yang tergabung dalam Himpunan Generasi Muda Peduli Sumbar. Acara Sosialisasi Daerah Pemilihan (Sosdapil) dalam bingkai Sosialisasi 4 Pilar MPR RI itu berlangsung di Kota Padang dengan suasana akrab dan penuh tanya jawab.
Di hadapan anak-anak muda yang menjadi tulang punggung masa depan bangsa, M. Shadiq Pasadigoe dengan lantang mengingatkan bahwa tantangan zaman kini jauh berbeda. Dulu, penjajahan datang dengan fisik dan senjata. Kini, perang berkecamuk di layar gawai—hoaks bertebaran, polarisasi merebak, dan moralitas tergerus oleh konten instan yang belum tentu benar.
“Hati-hati menggunakan media sosial. Jangan mudah termakan hoaks. Biasakan untuk menyeleksi apa yang dibaca, apa yang dilihat, dan apa yang ditulis. Setiap informasi harus diverifikasi. Jangan sampai teknologi yang seharusnya membantu kehidupan justru menjadi sumber perpecahan dan kerusakan,” tegasnya dengan nada serius namun tetap menggugah.
Namun, perhatian M. Shadiq Pasadigoe tidak berhenti di sana. Ia juga menyoroti pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang saat ini merambah hampir seluruh sendi kehidupan. AI, menurutnya, adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia membuka peluang besar bagi generasi muda untuk berkarya, berinovasi, dan bersaing di kancah global. Di sisi lain, tanpa etika dan nilai-nilai kebangsaan yang kuat, AI bisa menjadi bumerang yang menggerus identitas budaya dan kemanusiaan.
“Perkembangan AI hari ini luar biasa. Generasi muda harus mampu memanfaatkannya untuk belajar, berinovasi, dan berkarya. Tetapi jangan sampai kehilangan jati diri sebagai bangsa yang berbudaya, berakhlak, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” pesannya dengan penuh haru.
Dalam pidatonya yang mengalir seperti nasihat seorang ayah kepada anak-anaknya, M. Shadiq Pasadigoe kembali mengingatkan filosofi Proklamator Bangsa, Ir. Soekarno. Bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah meninggalkan nilai-nilai dan jati dirinya. Ia pun menekankan bahwa kemajuan teknologi harus diiringi dengan penguatan karakter. Jika tidak, Indonesia hanya akan melahirkan generasi yang cerdas otak, tetapi hampa jiwa.
“Teknologi dapat mengubah cara manusia bekerja, tetapi nilai-nilai luhur bangsa harus tetap menjadi fondasi kehidupan bernegara. Kemajuan tanpa karakter hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Tak lupa, M. Shadiq Pasadigoe mengajak generasi muda Sumatera Barat untuk menjadi pelopor persatuan, toleransi, gotong royong, dan semangat kebangsaan. Ia berharap lahir generasi emas yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, nasionalisme, serta kepedulian terhadap sesama. Karena baginya, Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud jika generasi penerus tidak berkarakter Pancasila.
Acara yang berlangsung interaktif itu pun ditutup dengan diskusi hangat. Para peserta tampak antusias menyampaikan pandangan dan bertanya langsung mengenai tantangan kebangsaan di era digital. Haru, semangat, dan optimisme menyatu dalam ruangan itu—menandakan bahwa api nasionalisme di dada generasi muda belum padam. Mereka siap menjadi garda terdepan, menjaga Pancasila tetap menyala di tengah gempuran zaman.






