Gelaran Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dadang Kahmad: Media Muhammadiyah Harus Cepat, Tapi Jangan Korbankan Kebenaran!

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Di era banjir informasi digital yang meluap tanpa filter, media afiliasi Muhammadiyah mendapat amanat berat: tak boleh sekadar jadi yang tercepat, tapi juga harus menjadi yang paling bertanggung jawab. Pesan tegas ini disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., saat membuka Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 di Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Banten, Rabu (12/8/2026).

Dua hari penuh, 12–13 Agustus 2026, puluhan pengelola media persyarikatan dari seluruh Indonesia berkumpul di kampus UMJ. Tema yang diusung pun strategis: “Penguasaan Media AfiliasiMu di Era Digital”. Bukan sekadar temu kangen, ini adalah konsolidasi untuk merebut panggung dakwah di ranah digital yang kian riuh.

Namun di tengah gegap gempita digitalisasi, Dadang Kahmad mengingatkan satu hal yang kerap terlupakan: kecepatan tanpa kebenaran hanya akan melahirkan kebisingan, bukan pencerahan.

“Masyarakat kita hari ini bukan lagi miskin informasi, melainkan tenggelam dalam lautan informasi—yang tak sedikit di antaranya adalah hoaks dan provokasi. Di sinilah media Muhammadiyah harus tampil beda. Cepat itu wajib, tapi benar itu harga mati,” ujar Dadang dalam sambutannya yang menghentak ruang sidang.

Lebih lanjut, pria yang juga guru besar di UIN Bandung ini membeberkan tiga pilar utama yang harus menjadi fokus seluruh peserta jambore:

1. Peningkatan Kapasitas — Awak media dituntut terus mengasah kompetensi jurnalistik di tengah disrupsi teknologi.

2. Peningkatan Kualitas Konten — Konten tak melulu viral, tapi harus mencerahkan dan berbasis data.

3. Penguatan Kolaborasi — Jangan jalan sendiri. Jaringan media Muhammadiyah harus solid agar suara dakwah menggema hingga pelosok Nusantara.

“Kita tidak sedang berlomba siapa paling laris, tapi siapa paling dipercaya. Karena kepercayaan itulah modal utama dakwah,” tegasnya.

Jambore kali ini terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah yang diperingati setiap 13 Agustus. Tanggal ini bukan sembarangan—tepat 111 tahun silam, pada 13 Agustus 1915, edisi perdana Majalah Suara Muhammadiyah terbit untuk pertama kalinya.

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Roni Tabroni, M.Si., menyebut tradisi literasi ini sudah menjadi DNA organisasi sejak awal berdiri.

“Muhammadiyah lahir bukan hanya dengan gerakan sosial, tapi juga dengan gerakan literasi. Ini adalah napas kita,” ujar Roni di hadapan peserta.

Puncak peringatan tahun ini diwarnai momen bersejarah lainnya: penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus dari Ketua Dewan Pers kepada Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, M.Si. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Haedar sebagai jurnalis sejak masa kuliah—bahkan hingga kini ia masih tercatat dalam jajaran redaksi Suara Muhammadiyah.

“Prosesnya memakan waktu dua tahun. Dewan Pers memberikan ini karena melihat konsistensi Pak Haedar yang tak pernah berhenti menulis dan berkontribusi bagi dunia jurnalisme,” ungkap Roni Tabroni dengan penuh haru.

Kartu wartawan “sakral” ini menjadi simbol bahwa pemimpin Muhammadiyah bukan sekadar penggerak organisasi, tapi juga pegiat literasi sejati.

Tak berhenti di seremoni, MPI PP Muhammadiyah menargetkan langkah besar: pembentukan newsroom terintegrasi yang akan menyambungkan seluruh jaringan media afiliasi Muhammadiyah dari Sabang sampai Merauke. Langkah ini diyakini akan memperkuat jangkauan dakwah digital dan menyajikan berita yang akurat, cepat, dan menyejukkan.

Apresiasi juga mengalir dari Wakil Ketua Dewan Pers, Toto, yang hadir dalam acara. Ia memuji peran panjang Muhammadiyah dalam menghidupkan literasi dan jurnalisme kenabian.

“TVMU dan Suara Muhammadiyah terus konsisten menyajikan kualitas pemberitaan yang tak hanya informatif, tapi juga mencerahkan. Ini yang dibutuhkan bangsa,” puji Toto.

Di akhir sambutannya, Dadang Kahmad berpesan agar seluruh pengelola media menjadikan jambore ini sebagai titik balik.

“Kita tidak ingin media Muhammadiyah hanya jadi sekadar corong organisasi. Kita ingin ia menjadi lentera di tengah gelapnya informasi. Lentera yang menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang membangun dan mana yang merusak.”

Pesan itu menggema di ruang sidang UMJ. Di tengah riuhnya algoritma dan gempuran konten instan, Muhammadiyah memilih jalan yang tak populer tapi terhormat: cepat, benar, dan mencerahkan.

Pos terkait