MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Libur Lebaran yang panjang hampir usai. Saatnya anak-anak bersiap kembali ke sekolah dan pesantren. Tapi, ada satu bahaya besar yang sering diabaikan keluarga: kelelahan pasca perjalanan pulang. Jangan sampai fisik yang lelah merusak kesiapan mental anak saat memulai rutinitas belajar.
Peringatan ini disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dr. Jasra Putra. Menurutnya, bagi keluarga yang masih menikmati hari-hari terakhir liburan di kampung halaman, pengaturan arus balik bukan sekadar urusan sampai tujuan, melainkan soal menjaga kondisi anak. Kelelahan setelah perjalanan panjang—macet, berdesakan, atau perjalanan darat yang melelahkan—bisa meninggalkan dampak psikologis yang tak kasat mata. Anak-anak butuh waktu memulihkan diri, bukan langsung dipaksa beradaptasi dengan rutinitas sekolah yang padat.
Pengguna kereta api atau pesawat memang punya sedikit keuntungan karena minim risiko kemacetan. Namun Dr. Jasra mengimbau masyarakat pengguna jalur darat agar tetap patuh pada arahan petugas dan rambu lalu lintas. Arus balik yang aman dan nyaman menjadi fondasi awal agar anak bisa kembali ke sekolah dengan semangat.
Secara keseluruhan, pelaksanaan mudik tahun ini dinilai berjalan baik. Tapi KPAI mengingatkan petugas lapangan agar tak lengah. Potensi lonjakan kepadatan di hari-hari terakhir masih sangat mungkin terjadi. Rekayasa lalu lintas dan langkah antisipatif perlu terus dilakukan demi mengurangi faktor kelelahan, terutama bagi anak-anak yang paling rentan.
Lebih dari Sekadar Pindah Kelas, Anak Butuh Transisi Psikologis
Yang paling dikhawatirkan Dr. Jasra adalah ketika anak-anak langsung dipaksa kembali ke ritme belajar yang kaku begitu sampai di sekolah. Anak-anak membutuhkan masa transisi—jembatan emosional yang menghubungkan euforia liburan dengan kesiapan kognitif untuk belajar.
KPAI mendorong para pengajar untuk tidak langsung membebani siswa dengan materi pelajaran yang berat. Sekolah justru harus membangun suasana kondusif melalui konektivitas emosional. Metode sederhana seperti belajar reflektif atau bercerita—misalnya meminta anak menceritakan pengalaman mudik di kampung halaman—bisa menjadi instrumen transisi yang efektif. Lewat cara ini, anak-anak bisa masuk kembali ke dunia belajar tanpa tekanan, tanpa rasa canggung, dan tanpa beban psikologis.
Mudik Adalah Kelas Kehidupan, Jangan Biarkan Sia-sia
Bagi Dr. Jasra Putra, mudik bukan sekadar perpindahan fisik. Ia adalah ritual tahunan yang menguatkan kohesi sosial dan akar identitas budaya. Selama liburan, anak-anak telah menyerap nilai-nilai tradisi, kekerabatan, dan kearifan lokal langsung dari sumbernya. Mereka belajar dari kakek-nenek, dari pertemuan keluarga besar, dari suasana kampung yang hangat.
Pengalaman empiris ini seharusnya tidak terbuang sia-sia. Guru idealnya mengakomodasi cerita-cerita tersebut sebagai bagian dari interaksi di kelas. Ketika anak merasa pengalaman sosialnya dihargai dan dianggap relevan, maka sekolah bukan lagi tempat yang asing atau menakutkan, melainkan kelanjutan alami dari “kelas kehidupan” yang sudah mereka jalani selama Lebaran.
Pendekatan ini sejalan dengan arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang menyebut momentum libur Lebaran sebagai “kelas kehidupan”. Berbaur dengan masyarakat dan keluarga di kampung, kata dia, adalah bentuk belajar di luar sekolah yang menumbuhkan kohesi sosial anak. KPAI mendukung penuh imbauan agar sekolah menciptakan suasana belajar yang gembira dan reflektif. Di sisi lain, orang tua juga diminta mulai mengatur kembali jam tidur anak dan mengurangi durasi bermain gawai yang biasanya melonjak selama liburan.
Pesantren Pun Harus Ramah Santri
Tak hanya sekolah umum, pendidikan keagamaan juga harus mendapat perhatian serupa. Dr. Jasra mendorong pondok pesantren untuk menyambut santri dengan semangat yang sama seperti yang diusung Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Proses orientasi pasca-libur di pesantren harus dikelola secara humanis. Para santri butuh pemulihan mental dan spiritual setelah merayakan hari raya bersama keluarga. Tanpa pendekatan yang lembut, transisi ke kehidupan pesantren bisa terasa berat dan kurang kondusif.
Ekosistem Pendidikan yang Tangguh Adalah Kunci
Pada akhirnya, semua ini tidak akan berjalan tanpa sistem dukungan yang utuh. Orang tua, guru, ustadz, dan lingkungan sekitar punya peran vital dalam mengembalikan ritme hidup anak secara bertahap. Di tingkat makro, pemerintah juga harus terus hadir membangun ekosistem kebijakan yang sinergis. Hak-hak anak atas pendidikan, keamanan, dan kenyamanan pasca libur panjang harus menjadi prioritas. Karena masa transisi yang ideal bukan sekadar soal masuk sekolah, tapi soal bagaimana anak-anak merasa di rumah, baik di dalam kelas maupun di luar.






