Jangan Cuma Tahan Lapar! Buya Gusrizal Gazahar Ungkap Hal yang Sering Dilupakan Umat di Bulan Ramadhan

  • Whatsapp
Ketua bidang Fatwa Metodologi MUI pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Bulan Ramadhan telah tiba. Umat Islam di seluruh dunia dengan penuh sukacita menyambut tamu agung ini, bersiap menahan lapar dan dahaga. Namun, di tengah hiruk pikuk persiapan menu sahur dan berbuka, ada satu aspek penting yang kerap terlupakan.

Ketua Bidang Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mengingatkan bahwa esensi Ramadhan jauh lebih dalam dari sekadar menahan diri dari makan dan minum.

“Ramadhan bukan hanya sebatas puasa yang menjadi kewajiban kita,” tegas Buya Gusrizal dalam tausiah Ramadhan-nya, belum lama ini. Menurutnya, Rasulullah SAW telah memberikan contoh dan teladan sempurna tentang bagaimana mengisi bulan penuh berkah ini. Salah satu amalan utama yang diajarkan adalah dengan menambah wawasan dan pelajaran tentang agama.

Sering kali, kaum muslimin abai pada aspek peningkatan ilmu ini. Padahal, perintah untuk menuntut ilmu adalah kewajiban abadi yang tak lekang oleh waktu. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimat” (Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslimah).

Buya Gusrizal kemudian menyoroti sebuah fakta menarik yang sering luput dari perhatian. Kelima ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yang mulia itu turun di bulan Ramadhan, adalah Surah Al-Alaq ayat 1-5.

“Allah tidak memulai wahyu pertama dengan perintah puasa, perintah zakat, atau perintah haji. Apa yang pertama? Iqra (Bacalah),” ungkap Buya.

Ini, menurutnya, menjadi pesan kosmik yang sangat kuat. Fondasi utama dalam membangun pemahaman dan sikap keberagamaan seseorang adalah ilmu. Kelima ayat pertama dalam Al-Qur’an itu berkaitan erat dengan literasi, membaca, dan pendidikan.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT mengajarkan manusia tentang bagaimana Dia menciptakan manusia, bagaimana Dia mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam (pena), dan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

“Maka dari mana dititik tolak pemahaman atau sikap keberagamaan? Adalah dari ilmu,” tegas Buya Gusrizal. Beliau mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjadikan Ramadhan sebagai bulan “lapar dan haus”, tetapi juga sebagai momentum untuk menggenjot semangat belajar, mengkaji Al-Qur’an, dan memperdalam pemahaman agama. Karena dengan ilmu lah, ibadah puasa akan terasa lebih bermakna dan membawa perubahan nyata dalam diri.

Related posts