Jumat yang Sering Kita Lewatkan, Padahal di Dalamnya Tersimpan Pintu-Pintu Manfaat yang Luas

Sekum MUI Sumbar, Buya Ki Jal Atri Tanjung (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo, Sekretaris Umum Dewan Pimpinan MUI Sumatera Barat

Ada hari yang tidak pernah biasa. Ia datang setiap pekan, tetapi membawa kemuliaan yang tidak dimiliki hari-hari lain. Hari itu adalah Jumat—sayyidul ayyam, penghulu segala hari. Di dalamnya Allah menitipkan keberkahan, kemuliaan, dan pintu-pintu manfaat yang terbuka luas bagi hamba yang mau menjemputnya dengan sungguh-sungguh.

Bayangkanlah sebuah hari yang sejak matahari terbit telah ditetapkan sebagai waktu terbaik. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim). Betapa agungnya hari ini, sampai-sampai awal penciptaan manusia pun terjadi di dalamnya.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Ayat ini bukan sekadar panggilan ibadah. Ia adalah undangan untuk meraih sesuatu yang lebih besar—manfaat dunia dan akhirat yang tidak akan didapat di hari lain. Jumat bukan hari biasa. Ia adalah hari berkumpulnya umat, hari dilipatgandakannya pahala, dan hari di mana langit seakan lebih dekat dengan doa-doa hamba-Nya.

Di dalam Jumat, ada satu waktu yang sangat istimewa. Tidaklah seorang hamba berdoa di waktu itu, kecuali Allah kabulkan. Ulama menyebut waktunya antara Ashar hingga Maghrib. Inilah saat paling tepat untuk memohon apa pun yang kita butuhkan: kesehatan yang tak ternilai, rezeki yang halal dan berkah, keluarga yang sakinah, hingga keselamatan bagi bangsa dan negeri ini. Betapa banyak doa yang tertunda hanya karena kita tidak tahu kapan waktunya. Padahal, Jumat telah memberi tahu kita.

Barangsiapa membaca Surah Al-Kahfi di hari Jumat, maka Allah akan meneranginya dengan cahaya di antara dua Jumat. Cahaya itu bukan sekadar simbol, melainkan petunjuk nyata agar hidup tidak tersesat, usaha tidak salah arah, dan hati tetap lurus di tengah dunia yang penuh godaan. Di tengah hingar-bingar kehidupan, Al-Kahfi menjadi lentera yang menjaga langkah kita tetap berada di jalan yang benar.

Dan jangan lupakan shalawat. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah shalawat kepadaku di hari Jumat dan malam Jumat. Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Baihaqi). Shalawat adalah kunci pembuka manfaat. Dengan shalawat, hati menjadi tenang, urusan dimudahkan, dan syafaat Rasulullah menjadi harapan yang nyata.

Imam Ibnul Qayyim pernah mengatakan bahwa bersedekah di hari Jumat memiliki keistimewaan lebih dibanding hari lain, seperti sedekah di bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Di Ranah Minang, tradisi Jumat adalah hari berbagi. Masjid-masjid menyediakan makan siang setelah shalat. Lazis, BMT, dan para perantau menyalurkan infak. Inilah cara mendapatkan manfaat hakiki: harta menjadi bersih, rezeki menjadi berkah, dan kepedulian sosial tumbuh subur.

Jumat juga hari untuk menyatukan umat. Di masjid kita bertemu, berjabat tangan, saling memaafkan, dan bermusyawarah untuk kemaslahatan nagari. Dari mimbar Jumat lahir solusi untuk ekonomi umat, pendidikan anak, dan kerukunan masyarakat. Jumat bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang membangun peradaban.

Namun, keutamaan Jumat tidak datang sendiri. Ia harus dijemput. Mandi sebelum berangkat, memakai pakaian terbaik, memakai wewangian, berangkat lebih awal, mendengarkan khutbah dengan khusyuk, membaca Al-Kahfi, memperbanyak shalawat, berdoa di waktu Ashar, dan bersedekah. Semua itu adalah langkah-langkah kecil yang membuka pintu-pintu manfaat besar.

Siapa yang menghidupkan Jumat dengan iman, maka Allah akan hidupkan hatinya dengan keberkahan. Siapa yang memuliakan Jumat, maka Allah akan muliakan hidupnya dengan manfaat yang luas.

Mari jadikan setiap Jumat sebagai hari untuk memperbaiki diri, memperkuat keluarga, dan memakmurkan masjid. Dari Jumat yang berkah, lahir umat yang kuat, bangsa yang selamat, dan negara yang diberkahi Allah SWT. Wallahu A’lam Bisshawab.

Pos terkait