Keberagaman di Kampus Muhammadiyah: 18 Mahasiswa Non-Muslim UM Sumbar dan Fenomena Wisudawati Viral dari UMSU

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UM Sumbar) mencatatkan dinamika keberagaman yang semakin menguat, dengan 18 mahasiswa non-Muslim aktif dalam lingkungan akademik kampus Islam tersebut. Catatan ini menegaskan arah inklusifitas perguruan tinggi Islam modern yang secara terbuka merangkul keberagaman keyakinan.

Langkah UM Sumbar ini mencerminkan pola yang semakin nyata di kampus-kampus Muhammadiyah seluruh Indonesia. Salah satu momentum penting yang turut menguatkan narasi tersebut adalah kisah viral Linda Amanda Sari, wisudawati non-Muslim dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), yang tampil percaya diri dan penuh penghargaan dalam wisuda kampus Islam—sekaligus menampilkan wajah pluralisme yang otentik di lingkungan perguruan tinggi keagamaan.

Kisah Linda memicu diskusi nasional tentang toleransi, identitas, dan harmoni dalam kampus-kampus Islam. Ia menjadi simbol keterbukaan institusi Muhammadiyah terhadap perbedaan, sekaligus menjadi contoh bahwa dialog antariman dapat tumbuh sehat dalam dunia akademik.

Salah satu mahasiswa Kristen di UM Sumbar, Bernadette, mahasiswa semester lima Program Studi Ilmu Hukum, menuturkan pengalamannya secara terbuka:

“Awalnya saya sempat ragu karena ini kampus Islam. Tapi setelah masuk, saya merasa diterima. Teman-teman dan dosen memperlakukan saya seperti keluarga. Saya tidak pernah merasa dibedakan,” ujar Bernadette.

Ia juga menambahkan, “Di kelas-kelas, meskipun ada mata kuliah keislaman, saya tidak pernah diwajibkan ikut praktik ibadah. Tapi saya ikut dengar dan belajar untuk memahami. Itu membuat saya makin menghargai nilai-nilai agama lain.”

Menurut Rektor UM Sumbar Dr. Riki Saputra, kehadiran mahasiswa non-Muslim bukan sekadar angka, tapi bagian dari visi besar Muhammadiyah untuk menjadikan pendidikan sebagai ruang dakwah kultural yang santun. “Ini adalah bukti bahwa Muhammadiyah bukan hanya milik umat Islam, tapi juga menjadi rumah ilmu yang terbuka bagi semua golongan,” ujarnya.

Pengamat pendidikan tinggi, Zennis Helen, mencatat bahwa transformasi perguruan tinggi Islam menuju inklusivitas global bukan sekadar strategi branding, tetapi juga bagian dari misi dakwah rahmatan lil alamin. “Fenomena seperti Linda di UMSU dan Bernadette di UM Sumbar menjadi indikator penting dalam praktik pluralisme akademik. Ini langkah maju,” katanya.

Seiring meningkatnya kolaborasi lintas iman dalam dunia pendidikan, Muhammadiyah tampaknya sedang menulis babak baru dalam diplomasi kultural Islam Indonesia—menjadikan nilai Islam sebagai fondasi untuk toleransi, bukan pembatas.

Related posts