Mendesak Konversi ke Bank Syariah Nagari

  • Whatsapp
Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Buya Shofwan Karim Elhussein (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Buya Dr. Shofwan Karim Elhussein

Meja kerjanya berdentang. Dia memukul meja itu sekuatnya. “Apa itu?”, kata isterinya di ujung sana.

Read More

“Inilah yang awak tunggu-tunggu”, katanya.

“Menunggu, kok meja yang dihantam ?,” tanya isterinya.

“Iko Gubernur jantan”, jawabnya. Sembari tangannya membuka lembaran Harian Singgalang, Selasa, 8 Maret 2022 kemarin.

Kemjudian membaca news online covesia.com https://covesia.com/news/113627/gertak-manajemen-mundur-gubernur-mahyeldi-dituding-berambisi-kuasai-bank-nagari

“Coba baca”, katanya sambil menggamit tangan isterinya yang sudah menghasilkan 10 cucu dari anak-anak mereka yang sudah menikah.

Isterinya membaca judul, “Terkait Konversi Bank Nagari ke Syariah: Gubernur: Tak Setuju, Silahkan Mundur”.

Mata wanita 60-an tahun itu melotot membaca halaman 1 bersambung ke halaman 7 A.

“Lalu, apanya yang jantan?”, tanya wanita yang tak selesai juga disertasinya untuk S.3 di satu Universitas di kota Bingkuang ini.

“Begini”, sambung lelaki 70 tahun itu.

“Kalau tak salah, di masa Gubernur Prof IP sudah ada seminar Bank Nagari, MUI, ICMI Sumbar bersama Ormas Islam Muhmmadiyah, NU, Perti dan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta.

Bahkan diperkuat lagi dengan kedatangan khusus ICMI ke Gubernur Mahyeldi seperti link berikut.
https://minangkabaunews.com/inilah-alasan-icmi-sumbar-dukung-konversi-bank-nagari-ke-sistem-syariah/. Akses, 8/3/2022.

Kesimpulannya, konversi Bank Nagari ke Syariah sudah harga “mati”. Prosedur dan proses selanjutnya diminta kepada Komisaris dan Direksi melakukan usaha optimal dan dalam waktu yang secepatnya.”

“Kok pakai kata , mati?” Kata wanita yang waktu muda bintang di kampusnya.

“Maksudnya, kira-kira, begitu. Tidak ada pilihan lain. Walaupun kata mati itu tak tercantum dalam kesimpulan. Itu kata saya, “ sambung pria tua yang merasa masih bersemangat jantan itu.

Proses dan prosedur untuk memenuhi syarat-syarat sudah berjalan untuk konversi Bank Nagari menjadi Syariah secara total. Bukan hanya mempunyai unit Syariah seperti sekarang.

Maksud menjadi Bank Syariah Nagari secara total itu, sudah lama, sepengetahuan Sutan Saga Jantan (SSJ) .

Panggilan SSJ adalah imbauan ketika diminta protokol menyebut marapulai, pengganti nama panggilan di depan publik.

Kebiasaan di nagari itu pria yang menikah harus punya gelar panggilan, pengganti nama kecil bawaan.

Gelar itu pemberian sukunya pada 45 tahun lalu, beliau menjadi semenda di suatu nagari di sebuah kabupaten.

SSJ sudah lama mendengar isu atau gossip adanya orang dalam di Bank Nagari berhati dua. Antara suka konversi dan yang tidak. Namanya isu atau gossip. Bisa hoax, bisa fakta. Bila itu faktual, alasannya tentu bermacam-macam.

Padahal, bahkan DPRD beberapa kali membahasnya. Rasanya DPRD sangat setuju bila syarat-syaratnya terpenuhi.

Tentu itu yang membuat anggota DPRD Sumbar menganggap gertak Gubernur? (Lihat, https://covesia.com/news/113627/gertak-manajemen-mundur-gubernur-mahyeldi-dituding-berambisi-kuasai-bank-nagari. Akses, 8/3/2022.)

Hidayat mempertanyakan, soal Bank Nagari konversi ke Bank Syariah Nagari. Semua itu terletak di tangan Gubernur sebagai pemegang saham mayoritas.

Terlepas dari gertak menggertak, tetap saja akhir-akhir ini isu orang dalam masih berbelah hati tetap merebak.

Di kalangan mereka yang peduli dengan Sumbar Madani sebagai banner pembangunan masa kegubernuran dan wakil Mahyledi-Audy sekarang, isu itu menjadi pusaran kegelisahan.

Kata masyarakat madani selalu terkait dengan kosepsi prophetik kenabian. Oleh karena itu sudah saatnya konversi itu terealisasi.

Rasanya hal serupa sudah ada riak hati mendua sebelum ini di masa IP. Akan tetapi tak ada suara pernyataan di koran sekeras Gubernur Mahyeldi sekarang ini.

Maka dalam pikiran dan mungkin khayalan SSJ, puncak testimoni Gubernur di koran itu akan ada respon.

Dari internal Komisaris dan Direksi Bank Nagari sekarang akan ada klarifikasi. Bahwa tidak satupun di antara mereka yang ragu dan tidak setuju atas konversi tersebut.

Atau memang ada di antara mereka yang merasa dirinya tidak pantas lagi menjadi komisaris dan direksi karena memang tidak suka dan tidak sependapat dengan konversi yang dimaksud.

Di balik semua itu, bila memang mereka para petinggi Bank Nagari itu bijak, segera membereskan masalah ini.

Maka harapan SSJ hanya satu. Jangan mundur. Tetap maju dan segera konversi ini menjadi kenyataan. Wa Allah a’Lam.
/*Penulis adalah Ketua PW Muhammadiyah Sumbar

Related posts