MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Wacana penggantian nama Bandara Internasional Minangkabau (BIM) kembali mencuat ke permukaan. Kali ini, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman dikabarkan berencana mengusulkan nama Syekh Burhanuddin sebagai nama baru bandara kebanggaan Sumatera Barat tersebut.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat, Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo, angkat bicara. Dengan tegas ia menyatakan sikap: STOP menggantikan nama Bandara Internasional Minangkabau dengan nama tokoh lainnya.
Niat Mulia, Tapi…
Buya Ki Jal mengakui bahwa niat memuliakan ulama besar seperti Syekh Burhanuddin adalah niat yang mulia. Syekh Burhanuddin dikenal sebagai ulama sufi dan pilar penyebaran Islam di Minangkabau. “Kita semua hormat kepada beliau,” ujarnya.
Namun dengan segala hormat dan takzim, ia menegaskan bahwa mengganti nama bandara bukanlah cara yang tepat. Ada alasan mendasar yang harus dipahami bersama.
Minangkabau Sudah Mewakili Semua Tokoh
Inilah argumentasi paling fundamental menurut Buya Ki Jal. Ketika kita menyebut nama Minangkabau, di dalamnya sudah terkandung nama Syekh Burhanuddin, Tuanku Imam Bonjol, Buya Hamka, Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, Sutan Mohammad Rasjid, dan ribuan tokoh besar lainnya.
“Minangkabau adalah payung besar yang menaungi semua. Tidak ada satu tokoh pun yang namanya tidak tercakup di dalamnya,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Minangkabau adalah suku bangsa Indonesia yang sudah sangat mendunia. Nama Minangkabau bukan sekadar nama suku, tetapi telah menjadi brand dunia. Dunia internasional mengenal Rumah Gadang, Randang, dan falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah — semuanya melalui nama Minangkabau.
“Tidak ada suku bangsa lain di Indonesia yang sekuat Minangkabau gaung internasionalnya. Maka mengganti nama Minangkabau dengan satu nama tokoh, sehebat apapun tokoh tersebut, sama dengan mengecilkan yang besar menjadi kecil, dan membatasi yang universal menjadi sektoral,” paparnya.
Simbol Pemersatu yang Tak Ternilai
Buya Ki Jal juga menyoroti posisi unik Bandara Internasional Minangkabau. Ini adalah satu-satunya bandara internasional di Sumatera yang menggunakan nama entitas kebudayaan, bukan nama tokoh. Keunikan ini adalah kebanggaan bersama.
“Nama ini milik orang Padang, milik orang Pariaman, milik orang Bukittinggi, milik orang Pesisir, milik perantau di seluruh dunia. Ia adalah perekat,” ujarnya penuh semangat.
Ia mengingatkan potensi konflik yang bisa timbul jika nama bandara diganti. “Jika hari ini diganti dengan nama tokoh A, besok kabupaten lain akan menuntut diganti dengan tokoh B, dan kita akan terus bertengkar soal nama, padahal yang seharusnya kita bangun adalah pelayanannya,” tambahnya.
Buya Ki Jal menawarkan solusi yang jauh lebih bijak. Cara terbaik memuliakan tokoh adalah dengan menambah, bukan mengganti.
“Beri nama Terminal 2 dengan nama Syekh Burhanuddin, beri nama gedung VIP dengan nama tokoh lain, bangun universitas atau jalan tol dengan nama beliau. Itu jauh lebih elegan dan tidak menghapus identitas kolektif kita,” sarannya.
Di akhir pernyataannya, Buya Ki Jal mengajak seluruh elemen masyarakat Sumatera Barat untuk menjaga marwah Minangkabau.
“Mari kita jaga marwah Minangkabau. Jangan karena ingin mengangkat satu tokoh, kita menghilangkan nama induk yang telah membesarkan semua tokoh tersebut,” pungkasnya.
Pertahankan Bandara Internasional Minangkabau.







