Ayah-Anak Makin Dekat! Gerakan Mengantar Sekolah Digulirkan di Sumbar, ASN Boleh Terlambat Demi Anak

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Ada pemandangan berbeda yang mulai terlihat di sekolah-sekolah Sumatera Barat. Di gerbang pagi hari, kini tak hanya ibu-ibu sibuk melepas putra-putrinya, tapi juga para ayah dengan kemeja rapi, sesekali merapikan tas ransel anak sambil menyematkan pesan terakhir, “Belajar yang baik, Nak.”

Itulah secuil gambaran dari gerakan yang baru saja diluncurkan Pemprov Sumbar: Gerakan Ayah Mengambil Rapor dan Mengantar Anak ke Sekolah. Sebuah langkah kecil yang ternyata menyimpan makna besar bagi masa depan generasi muda.

Lebih dari Sekadar Antar-Jemput

Selama ini, urusan mengantar dan mengambil rapor sering dianggap ranah ibu. Tapi Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, mengajak semua ASN untuk mematahkan anggapan itu.

“Peran ayah dalam pendidikan anak tidak hanya penting untuk mendukung proses belajar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun karakter, kepercayaan diri, dan masa depan anak yang lebih baik,” ujarnya penuh harap, Jumat (19/6/2026).

Bagi Arry, kehadiran seorang ayah di sekolah bukan soal formalitas. Ini tentang simbol. Ketika seorang ayah meluangkan waktu di pagi yang sibuk, berdiri di gerbang sekolah, atau duduk di ruang guru menerima rapor—itu adalah pesan bisu yang terdengar keras oleh anak: Ayah peduli. Ayah ada untukmu.

Menjawab Krisis Kehadiran Ayah

Di balik gerakan ini, ada kegelisahan tentang fenomena fatherless—hilangnya peran ayah dalam pengasuhan—yang masih menjadi tantangan di banyak daerah. Anak-anak tumbuh dengan sosok ayah yang hadir secara fisik, tapi absen secara emosional.

Padahal, penelitian demi penelitian membuktikan: kehadiran ayah yang aktif berkorelasi dengan prestasi akademik yang lebih baik, rasa percaya diri yang lebih tinggi, dan kemampuan sosial yang lebih kuat pada anak.

Maka gerakan ini adalah jawaban. Dan Pemprov Sumbar memulainya dari lingkungan paling teratur: Aparatur Sipil Negara.

Ada “Hadiah” Manis untuk Para Ayah

Gerakan ini resmi mengacu pada Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah. Ini bagian dari program prioritas nasional bernama Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

Targetnya jelas: anak usia sekolah dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA.

Yang menarik, untuk mendukung gerakan ini, aturan dibuat lebih ramah. Para ayah ASN yang mengantar anak di hari pertama sekolah atau mengambil rapor, boleh diberikan dispensasi keterlambatan masuk kerja. Tentu dengan ketentuan yang berlaku di masing-masing instansi.

Kebijakan ini seperti angin segar. Selama ini ayah-ayah sibuk sering terbentur jam kerja. Kini, ada ruang yang diberikan untuk menjadi ayah tanpa mengabaikan tanggung jawab sebagai pegawai.

Jadi Teladan dari Hal Sederhana

Arry menekankan bahwa gerakan ini bukan sekadar anjuran, tapi ajakan untuk menjadikan ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan daerah.

“Ketahanan keluarga merupakan fondasi pembangunan daerah. Karena itu, kita mengajak seluruh ASN untuk menjadi teladan dalam keluarga, dimulai dari hal sederhana namun bermakna, yakni hadir mendampingi anak pada momen penting pendidikan mereka,” pesannya.

Bayangkan, jika ribuan ASN di Sumbar mulai membiasakan diri mengantar anak di hari pertama sekolah, lalu mengambil rapor, dan pulang sambil mengobrol santai tentang pelajaran—maka itu bukan sekadar rutinitas. Itu adalah investasi emosional. Anak-anak akan tumbuh dengan memori indah: “Ayah selalu ada di momen-momen pentingku.”

Momentum yang Tak Akan Terulang

Gerakan ini akan mulai terasa pada masa pembagian rapor akhir Tahun Ajaran 2025/2026 dan hari pertama masuk Tahun Ajaran 2026/2027.

Tapi esensinya, ini bukan tentang satu atau dua hari. Ini tentang mengubah budaya. Tentang menyadarkan bahwa anak-anak hanya tumbuh sekali. Dan kehadiran ayah di waktu-waktu krusial mereka adalah hadiah yang tak ternilai.

Ayah mungkin bukan sosok yang sempurna. Tapi dengan hadir di momen-momen kecil seperti ini, mereka sedang membangun kenangan besar. Dan Sumatera Barat, melalui gerakan ini, sedang menulis ulang narasi tentang bagaimana seharusnya seorang ayah—bukan hanya pencari nafkah, tapi juga pendamping jiwa.

Karena di balik setiap anak yang berprestasi, ada ayah yang tak pernah lelah hadir, setia mengantar, dan bangga mengambil rapornya.

Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah bukan sekadar program. Ini adalah awal dari perjalanan panjang membangun generasi yang lebih kuat, satu langkah ayah di pagi hari.

Related posts