MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Dalam pengkajian rutin di Surau Buya Gusrizal, ulama kharismatik Minangkabau yang kini menjabat sebagai Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mengupas tuntas bahaya laten dua sifat tercela yang kerap beriringan: bakhil (kikir) dan riya (pamer).
Mengawali tausiyahnya, Buya mengingatkan kembali pesan penting dari QS An-Nisa ayat 37 yang telah dikaji pekan lalu. Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa orang bakhil memiliki karakter unik: pantang berbagi namun tetap haus pujian.
“Orang yang bakhil itu kalau dipanggil ‘bakhil’, pasti marah. Padahal kadang memang benar. Ini pertanda hati kecilnya sebenarnya tahu bahwa itu perbuatan buruk,” jelas Buya. Ia menambahkan, fitrah manusia memang telah diberi Allah kemampuan membedakan mana takwa dan mana fujur (keburukan). Sayangnya, keserakahan nafsu dan bisikan setan yang memanfaatkan gemerlap dunia kerap memenangkan manusia untuk tetap menempuh jalan tercela.
Puncak kajian pagi itu adalah tafsir QS An-Nisa ayat 38. Buya membacakan firman Allah:
“Walladzina yunfiquuna amwalahum ri-aa-an-nasi wa la yu’minuna billahi wa la bil-yaumil-akhiri, wa may yakunisy-syaitanu lahu qarinan fa-saa-a qarina.”
(Dan orang-orang yang menafkahkan harta mereka karena riya kepada manusia, dan tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari akhir. Dan barangsiapa yang menjadikan setan sebagai temannya, maka setan itu adalah seburuk-buruk teman).
Di sinilah letak “bonus buruk” yang dimaksud Buya. Kebakhilan dan riya bagaikan saudara kembar yang tak terpisahkan.
“Kenapa orang bakhil suka ria? Karena dia tidak mau direndahkan. Dia tetap ingin disanjung. Nah, bagaimana caranya agar sanjungan tetap kepadanya? Pemberiannya yang sedikit itu mesti dia jadikan tontonan orang, supaya kebakhilannya tidak terlihat,” paparnya.
Buya kemudian menjelaskan perbedaan antara riya dan sum’ah. Riya berasal dari kata raa-yaro (melihat), yaitu mempertontonkan amal agar dipandang mata orang dan mendapat pujian. Sementara sum’ah berasal dari kata sam’un (mendengar), yaitu sengaja memperdengarkan atau menceritakan amal agar orang yang mendengar memujinya. Dua-duanya sama buruknya.
“Kalau bahasa zaman sekarang, ini namanya pencitraan,” tegas Buya.
Lebih jauh, Buya mengingatkan bahwa dua penyakit hati ini sangat berbahaya jika masuk dalam ibadah. “Hati-hati kalau dia hadir dalam salat, zakat, puasa, haji. Riya ini bisa merusak ibadah, bahkan bisa menghabisi pahalanya,” ujarnya.
Dengan demikian, ayat ini mengajarkan bahwa berinfak bukan sekadar soal mengeluarkan harta, tetapi juga soal niat dan keikhlasan. Sebab, amal yang dilakukan karena riya tidak hanya sia-sia di sisi Allah, tetapi juga menjadikan setan sebagai teman akrab—dan itulah seburuk-buruk teman.
Buya Gusrizal yang dikenal sebagai ulama lulusan Universitas Al-Azhar Kairo dan juga seorang penyair ini rutin mengasuh pengajian “An-Nadwah li ‘Izzat al-Islam” di Kota Bukittinggi. Kajian Fiqh Keluarga di Masjid Surau Buya Gusrizal ini menjadi salah satu wadah bagi masyarakat untuk mendalami pesan-pesan Al-Qur’an secara lebih mendalam.






