Jaksa Masuk Sekolah di Padang: Di Balik Sosialisasi Hukum, Terungkap 90 Persen Perkara Ditangani Kejari Adalah Narkoba

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Suasana SMP Negeri 13 Padang mendadak berbeda, Senin pagi itu. Bukan hanya guru dan murid yang memenuhi aula, tetapi juga deretan aparat penegak hukum lengkap dengan pakaian dinas. Program Jaksa Masuk Sekolah (JMS) digelar, dan siapa sangka, di balik acara edukasi yang tampak biasa ini, terungkap fakta mencengangkan yang membuat semua yang hadir terdiam.

Kepala Kejaksaan Negeri Padang, Koswara, berdiri di depan para pelajar dengan ekspresi serius. Ia membuka data yang tak bisa dibantah. Dari seratus perkara yang ditangani Kejari Padang setiap bulannya, 90 persen di antaranya adalah kasus narkotika. Angka itu melesat bak petir di siang bolong.

“Hampir semuanya narkoba,” ujar Koswara lantang, sementara para siswa saling berpandangan.

Yang lebih mencengangkan lagi, Koswara mengungkapkan pihaknya telah menuntut hukuman mati terhadap seorang bandar yang kedapatan membawa 50 kilogram sabu. “Lima puluh kilo. Jika itu sampai beredar, generasi muda kita bisa hancur dalam sekejap,” tegasnya.

Namun ada sedikit kabar lega. Koswara mengakui bahwa keterlibatan pelajar dalam kasus narkotika masih tergolong kecil. Ancaman yang lebih nyata bagi mereka saat ini justru datang dari kenakalan remaja seperti tawuran dan perkelahian. Tapi ia memperingatkan, “Ancaman narkoba itu seperti bayang-bayang. Bisa kapan saja menerkam.”

Kegiatan yang digelar di SMPN 13 Padang itu bukan sekadar seremonial. Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Yopi Krislova, yang turut hadir mengakui bahwa angka kenakalan remaja mulai menunjukkan tren penurunan. Ia meyakini, kolaborasi antara pemerintah dan aparat hukum seperti inilah yang menjadi kuncinya. “Efek jera dari sosialisasi yang terus-menerus mulai terasa,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, yang juga menyoroti temuan 50 kilogram sabu tersebut, meminta semua pihak tidak boleh lengah. “Ini peringatan keras,” katanya.

Pernyataan mengejutkan justru datang dari Kepala SMPN 13 Padang, Zulfarno. Di hadapan para jaksa dan pejabat kota, ia membuka tabir pendanaan program Jaksa Masuk Sekolah. “Kegiatan ini sepenuhnya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Padang,” ujarnya tanpa ragu.

Ia juga menambahkan, selain sosialisasi bahaya narkoba dan hukum, pihak sekolah juga menggelar kampanye Anti Bullying secara berbarengan. “Ini paket lengkap untuk melindungi anak-anak kita. Bukan hanya dari narkoba, tapi juga dari perundungan yang kerap menggerogoti mental mereka,” katanya.

Dengan nada haru sekaligus bangga, Zulfarno kemudian menoleh kepada Koswara dan perwakilan Pemerintah Kota yang hadir. “Terima kasih, Pak Jaksa dan Pak Wali Kota, atas kepercayaannya memilih SMPN 13 sebagai lokasi peluncuran program Jaksa Masuk Sekolah. Ini kehormatan besar bagi kami,” tutupnya.

Raut serius siswa SMPN 13 itu perlahan berubah. Mereka mengangguk. Bukan lagi karena takut, tetapi karena mereka kini tahu: negara hadir dengan anggaran dan aparat hukumnya, bukan sekadar untuk menghukum, melainkan melindungi masa depan mereka.

Related posts