Kauman, Buya Hamka, dan Gol A Gong: Perjumpaan Besar yang Menyalakan Api Literasi Generasi Muda

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Ada yang berbeda dari Rabu pagi di Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Udara sejuk kota kecil itu seolah menyimpan cerita. Di bawah naungan bangunan bersejarah, ratusan santri bersiap menyambut tamu istimewa: seorang pria yang kehilangan tangan kiri, namun tak pernah kehilangan mimpi.

Dia adalah Gol A Gong, Duta Baca Nasional. Kedatangannya ke Padang Panjang merupakan bagian dari Safari Literasi Sumatera Barat, setelah sebelumnya singgah di Kabupaten Dharmasraya. Tapi bagi Kauman, kedatangan ini bukan sekadar kunjungan resmi. Ini adalah perjumpaan antara masa lalu yang agung dan masa depan yang tengah tumbuh.

Rombongan tiba dan langsung disambut hangat oleh Mudir Pesantren, Dr. Derliana, MA., bersama jajaran pimpinan. Tampak hadir pula Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Padang Panjang, Januardi, S.S., M.Si. Gol A Gong tak datang sendirian; ia didampingi Muhammad Subhan, penulis dan pegiat literasi Sumatera Barat yang telah lama menyalakan api kata di ranah Minang.

Ketika Kauman Mengingat Buya Hamka

Dalam sambutannya, Dr. Derliana tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, kehadiran tokoh literasi nasional di tengah santri adalah momentum langka. “Ini bukan sekadar kunjungan, tetapi kesempatan menghadirkan inspirasi langsung kepada para santri,” ujarnya.

Ia lalu berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam: warisan intelektual Buya Hamka. Kauman, kata dia, adalah tanah tempat tradisi keilmuan dan literasi berakar kuat. Buya Hamka—ulama, sastrawan, cendekiawan—adalah bukti hidup bahwa membaca, menulis, dan berdakwah bisa membangun peradaban.

“Semangat itu harus terus kami hidupkan,” tegasnya.

Usai sambutan, Dr. Derliana menyerahkan buku Kulliyatul Muballighien kepada Gol A Gong. Buku itu bukan sekadar cendera mata. Ia adalah simbol pertemuan dua tradisi: warisan pesantren yang berusia panjang, dan semangat literasi yang terus digaungkan hingga hari ini.

Menyusuri Jejak Sang Ulama

Dari ruang pimpinan, rombongan bergerak menuju Museum Buya Hamka. Di sana, waktu seolah berhenti. Dipandu Wadir Bidang Humas dan SDM, Ustadz Surya Bunawan, mereka menyusuri setiap sudut: foto-foto lama, koleksi buku, majalah, hingga tulisan-tulisan yang tersimpan rapi.

Gol A Gong tampak terkesima. Museum itu bukan sekadar ruang penyimpanan benda bersejarah. Ia adalah ruang yang menghidupkan kembali gagasan, perjuangan, dan warisan literasi seorang tokoh bangsa. Setiap sudut seakan berbicara tentang masa ketika Buya Hamka memimpin dan mengembangkan tradisi keilmuan di Kauman.

Ketika Sebuah Kalimat Mengubah Segalanya

Suasana berubah haru ketika rombongan tiba di Aula AR Sutan Mansur. Di hadapan ratusan santri, Januardi menyampaikan pesan sederhana namun menusuk: “Manfaatkan masa muda dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Salah satu jalannya adalah dengan membaca.”

Lalu Gol A Gong mengambil alih panggung. Ia tidak hanya berbicara tentang buku. Ia membawa para santri masuk ke dalam hidupnya—tentang kehilangan tangan kirinya, tentang keterbatasan, tentang kegagalan, dan tentang bagaimana ia bertahan.

Ada satu kalimat dari sang ayah yang terus ia ingat: “Kamu boleh kehilangan tangan, tapi jangan pernah kehilangan cita-cita.”

Aula itu pun senyap. Ratusan santri menyimak, seolah baru menyadari bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Beberapa mata berkaca-kaca. Ada yang menunduk, merenung. Ada yang mencatat.

Gol A Gong lalu mengajak mereka berdialog. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Santri yang berhasil menjawab mendapat buku karyanya. Tangan-tangan terangkat. Antusiasme memenuhi ruangan. Literasi, yang kadang dianggap jauh dan membosankan, tiba-tiba terasa dekat, hidup, dan menyenangkan.

Api yang Tak Boleh Padam

Kunjungan itu menjadi pertemuan yang sarat makna. Di satu sisi, rombongan diajak menengok kembali jejak sejarah Buya Hamka dan tradisi intelektual Kauman. Di sisi lain, ratusan santri diajak menatap masa depan melalui budaya membaca, menulis, dan bermimpi.

Dari jejak Buya Hamka hingga kisah perjuangan Gol A Gong, pesannya sama: ilmu harus diwariskan, literasi harus terus dihidupkan, dan cita-cita harus diperjuangkan.

Safari literasi ditutup dengan foto bersama. Tapi sesungguhnya, sesuatu yang lebih besar baru saja dimulai. Di Kauman, di kota kecil yang pernah melahirkan tokoh besar, api literasi kembali dinyalakan. Dan siapa tahu, di antara ratusan santri yang menyimak dengan mata berbinar itu, kelak lahir Buya Hamka-Buya Hamka baru. (TR)

Pos terkait