Dari Podcast Pesantren Kauman Muhammadiyah ke Indonesia Emas 2045: Ketika BKKBN Duduk Bareng Santri di Padang Panjang

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Ada pemandangan tak biasa di Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, Selasa (6/10). Bukan karena ada tamu penting—itu biasa. Tapi karena seorang pejabat BKKBN Pusat tiba-tiba duduk di depan mikrofon, ditemani seorang santriwati berprestasi, dan mulai berbicara tentang masa depan remaja.

I Made Yudhistira Dwipayama, Direktur Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan BKKBN, datang jauh-jauh ke Padang Panjang. Bukan sekadar seremonial. Ia bersama tim BKKBN Provinsi Sumatera Barat ingin melihat langsung bagaimana Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) hidup di MA KM Kauman Muhammadiyah.

Kedatangan mereka disambut hangat oleh Mudir Pesantren beserta jajaran pimpinan. Kepala Dinsos PPKBPPPA Kota Padang Panjang, Dr. Winarno, SE., ME, juga hadir. Suasana akrab langsung terasa. Di ruang pesantren, mereka berbincang santai tentang program kependudukan yang selama ini berjalan di lingkungan madrasah. Tidak ada jarak antara pejabat dan pihak pesantren.

Kepala MA KM Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, Dr. Derliana, MA, mengaku senang dengan kunjungan ini. Baginya, SSK bukan sekadar program tempelan. “SSK adalah bagian dari proses pendidikan untuk membangun kesadaran santri agar memahami persoalan kependudukan dan melihat dirinya sebagai bagian penting dari masa depan bangsa,” ujarnya.

Ia menambahkan, generasi hari ini adalah generasi yang akan menentukan wajah Indonesia pada 2045. “Mereka harus dibekali bukan hanya ilmu, tetapi juga karakter, kemampuan mengambil keputusan, kepedulian sosial, dan kesadaran terhadap persoalan kependudukan,” lanjutnya.

Setelah mengecek pelaksanaan SSK, rombongan bergeser ke ruang Bimbingan dan Konseling. Di sinilah suasana berubah lebih hidup. Zahra, seorang siswa berprestasi, memandu podcast singkat. Tema yang diangkat sangat relevan: problematika remaja dan tantangan menuju Indonesia Emas 2045.

I Made Yudhistira terlihat menikmati sesi itu. Ia berbicara ringan tapi dalam. Mulai dari tantangan pergaulan remaja, tekanan sosial, hingga pentingnya membangun kualitas diri. Zahra sebagai host mampu menjaga dialog tetap komunikatif. Tidak kaku. Tidak menggurui. Justru mengalir seperti obrolan sehari-hari.

Sesi itu membuktikan satu hal: ruang pendidikan bisa menjadi tempat terbuka bagi generasi muda untuk berdialog tentang persoalan aktual yang mereka hadapi. Bukan hanya mendengar ceramah, tapi ikut bicara.

Kunjungan ditutup dengan foto bersama santri PIK-R Qowiyyun Aamiin. Mereka adalah wajah-wajah muda yang selama ini aktif belajar dan berdiskusi tentang isu remaja dan kependudukan. Keberadaan PIK-R menjadi ruang strategis bagi santri untuk mengambil peran, bukan sekadar jadi penonton.

Kunjungan BKKBN Pusat ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara pesantren, BKKBN, dan pemerintah daerah. Lebih dari sekadar cek lapangan, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya program, pendidikan, dan suara generasi muda.

Dari ruang kelas, ruang BK, hingga ruang podcast, pesannya jelas: mempersiapkan generasi hari ini berarti mempersiapkan Indonesia untuk masa depan. Dan menuju Indonesia Emas 2045, generasi muda bukan hanya objek pembangunan—mereka adalah aktor utamanya. (TR)

Pos terkait