Kunci yang Terlupakan: Mengapa Bahasa Arab Harus Jadi Prioritas Utama Umat Islam?

Ustad Firsta Yuliano, Lc., MH Bendahara PPUM Sumbar (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Ustad Firsta Yuliano

Pernahkah Anda menemukan sesuatu yang tampak sepele, tetapi diam-diam menyimpan pelajaran luar biasa?

Itulah yang penulis alami suatu malam ketika jari-jari tanpa sengaja berhenti pada sebuah unggahan di media sosial. Sebuah gambar sederhana: gantungan kunci dengan tulisan dalam bahasa Arab, anta himar. Di bawahnya, tercantum terjemahan yang membuat saya terbelalak. Bukan karena keindahan kata-katanya, melainkan karena kejanggalannya. Penerjemah dengan percaya diri menuliskan “You’re beautiful” sebagai padanan dari kalimat yang secara literal berarti “kamu adalah keledai.”

Saya tertawa. Tapi kemudian, tawa itu berubah menjadi keprihatinan yang menggelayut lama.

Betapa mudahnya sebuah makna hilang, berubah, bahkan terbalik seratus delapan puluh derajat hanya karena ketidakpahaman terhadap bahasa. Jika pada gantungan kunci yang tidak bernilai sakral saja kesalahan penerjemahan mampu menciptakan kekacauan makna, lalu bagaimana dengan teks-teks yang menyangkut keyakinan, ibadah, dan keselamatan hidup seorang muslim di akhirat? Bukankah Al-Qur’an dan hadis yang kita baca setiap hari justru jauh lebih layak untuk kita pahami secara tepat?

Di sinilah perjalanan pemahaman saya bermula. Bukan sekadar tentang pentingnya bahasa Arab, tetapi tentang betapa bahasa itu adalah nadi yang menghidupkan makna.

Pernahkah kita merenung sejenak: mengapa Allah SWT tidak menurunkan wahyu-Nya dalam semua bahasa sekaligus? Mengapa bahasa Arab yang dipilih sebagai medium firman-Nya?

Al-Qur’an sendiri memberikan jawaban yang begitu menyentuh:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kalian memahaminya.”
(QS. Yusuf: 12)

Subhanallah. Kata kuncinya bukanlah sekadar “membaca” atau “menghafal,” melainkan “memahami.” Allah menginginkan kita tidak hanya melantunkan ayat-ayat-Nya dengan merdu, tetapi juga meresapi setiap maknanya hingga ke relung hati. Dan untuk itu, Dia memilih bahasa Arab sebagai kendaraan wahyu.

Bayangkan jika Anda menerima surat cinta dari seseorang yang sangat Anda sayangi, tetapi surat itu ditulis dalam bahasa yang tidak Anda pahami. Anda mungkin bisa membaca huruf-hurufnya, tetapi akankah Anda merasakan getaran cinta yang ingin disampaikan? Akankah Anda memahami pesan tersirat di balik setiap pilihan kata?

Demikian pula dengan Al-Qur’an. Ia adalah surat cinta teragung dari Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Dan untuk menikmati surat cinta itu secara utuh, kita perlu belajar bahasa yang digunakan-Nya.

Sejarah mencatat betapa para sahabat Nabi ﷺ memahami urgensi bahasa Arab dengan cara yang tidak main-main.

Dalam sebuah suratnya kepada Abu Musa Al-Asy’ari RA, Umar bin Khattab RA menuliskan pesan yang hingga kini masih terasa relevansinya:

“Pelajarilah pemahaman agama melalui Sunnah, pelajarilah bahasa Arab, dan bacalah Al-Qur’an dengan bahasa Arab yang benar, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu berbahasa Arab.”

Perhatikan bagaimana Umar tidak memisahkan antara belajar bahasa Arab dengan belajar agama. Beliau bahkan menyandingkannya dengan anjuran mendalami Sunnah. Ini menunjukkan bahwa bahasa Arab bukanlah pelengkap yang bisa diabaikan, melainkan bagian tak terpisahkan dari proses tafaqquh fid-din—proses menjadi paham dalam agama.

Dalam riwayat lain, beliau bahkan bersabda:
“Pelajarilah bahasa Arab karena sesungguhnya ia merupakan bagian dari agama kalian.”

Bayangkan jika saat ini ada seorang muslim yang berkata, “Saya ingin memahami Islam secara mendalam, tetapi saya tidak peduli dengan bahasa Arab.” Bukankah itu terdengar seperti seseorang yang ingin menikmati kelezatan makanan tetapi menolak untuk membuka mulutnya?

Pemahaman tentang korelasi antara bahasa Arab dan syariat mencapai puncaknya dalam pemikiran Imam Asy-Syathibi. Beliau dengan sangat brilian menjelaskan:

“Syariat itu berbahasa Arab. Karena ia berbahasa Arab, syariat tidak dapat dipahami dengan sebenar-benarnya kecuali oleh orang yang memahami bahasa Arab dengan sebenar-benarnya. Keduanya berjalan dalam pola yang sama, kecuali dalam aspek kemukjizatannya. Apabila seseorang masih pemula dalam memahami bahasa Arab, maka ia juga pemula dalam memahami syariat. Jika ia berada pada tingkat pertengahan dalam bahasa Arab, maka demikian pula tingkat pemahamannya terhadap syariat. Adapun jika ia telah mencapai tingkat yang tinggi dalam bahasa Arab, maka demikian pula tingkat pemahamannya terhadap syariat.”

Pernyataan ini seperti peta yang menunjukkan bahwa perjalanan memahami agama tidak bisa dipisahkan dari perjalanan memahami bahasa. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya saling melengkapi. Semakin dalam seseorang menyelami bahasa Arab, semakin dalam pula ia menyelami lautan makna syariat.

Di tempat lain, Syathibi kembali menegaskan:

“Tidak ada jalan untuk mencari pemahaman terhadap syariat selain melalui jalan tersebut.”

Tidak ada jalan alternatif. Ini bukan kesombongan intelektual, melainkan fakta metodologis. Bagaimana mungkin seseorang memahami teks tanpa memahami bahasa teks tersebut?

Mungkin sebagian pembaca berpikir, “Bukankah ada terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia? Mengapa masih harus susah-susah belajar bahasa Arab?”

Pertanyaan ini wajar, dan terjemahan memang sangat membantu. Namun, kita perlu jujur: terjemahan hanyalah sebuah jendela, bukan pintu masuk utama.

Coba bayangkan Anda membaca puisi cinta Rumi dalam terjemahan. Keindahannya mungkin masih terasa, tetapi akankah Anda merasakan irama aslinya? Akankah Anda menangkap permainan kata, pilihan diksi, dan kedalaman makna yang hanya terungkap dalam bahasa aslinya?

Dalam bahasa Arab, setiap kata, setiap perubahan bentuk, setiap susunan kalimat membawa pesan yang kadang tak tergantikan. Perhatikan perbedaan antara:

· Qatala (dia membunuh)
· Qattala (dia membunuh berulang-ulang)
· Aqtala (dia menyebabkan pembunuhan)
· Taqatala (saling membunuh)

Keempat kata ini berasal dari akar yang sama, tetapi masing-masing membawa nuansa makna yang berbeda. Dalam terjemahan, keempatnya mungkin hanya menjadi “membunuh.” Padahal, dalam konteks ayat, perbedaan ini sangat signifikan.

Belum lagi soal gaya bahasa, majas, taqdim-ta’khir (pendahuluan dan pengakhiran), hazf (pembuangan), dan berbagai aspek kebahasaan lainnya yang tidak selalu bisa diterjemahkan secara utuh.

Orang yang hanya mengandalkan terjemahan akan selalu berada satu tingkat di atas permukaan, sementara orang yang memahami bahasa Arab dapat menyelami kedalaman samudera makna.

Ketika Imam Asy-Syafi’i berkata:
“Barang siapa mendalam dalam ilmu nahwu, ia akan mendapatkan petunjuk menuju berbagai ilmu.”

Beliau tidak berbicara tentang kesombongan akademik, tetapi tentang realitas epistemologis. Nahwu—ilmu tata bahasa Arab—adalah alat bantu utama untuk memahami struktur kalimat, yang pada gilirannya membuka pintu pemahaman teks secara keseluruhan.

Seorang penuntut ilmu yang memahami nahwu dengan baik akan lebih mudah:

· Mengetahui perbedaan antara subjek dan objek dalam ayat
· Memahami hubungan antar kalimat
· Menangkap penekanan dan pengecualian yang disampaikan
· Membedakan antara perintah, larangan, berita, dan pertanyaan

Tanpa kemampuan ini, membaca teks Arab seperti berjalan di dalam kabut tebal. Kita mungkin melihat bentuk-bentuk di kejauhan, tetapi kita tidak bisa memastikan apa sebenarnya yang kita lihat.

Mari kita kembali ke gantungan kunci di awal tulisan ini. Jika kesalahan bahasa sepele saja dapat mengubah “keledai” menjadi “cantik,” lalu bagaimana jika kesalahan serupa terjadi pada ayat-ayat yang berbicara tentang:

· Hakikat ketuhanan?
· Rukun iman?
· Halal dan haram?
· Janji dan ancaman Allah?

Seorang muslim yang keliru memahami kata kafir bisa mengkafirkan sesama muslim. Seseorang yang keliru memahami kata taqwa bisa menganggapnya sekadar ritual, padahal hakikatnya adalah kesadaran ilahiah yang menyeluruh. Seorang yang keliru memahami kata rahman bisa menganggap Allah hanya kasih sayang, tanpa menyadari implikasi keadilan-Nya.

Inilah mengapa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam memahami teks. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga mempelajari bahasa, konteks, asbabun nuzul, dan berbagai perangkat keilmuan lainnya. Mereka sadar bahwa setiap kata dalam Al-Qur’an dipilih dengan presisi Ilahi yang tidak bisa ditafsirkan seenaknya.

Belajar bahasa Arab memang membutuhkan waktu dan usaha. Tidak sedikit orang yang putus asa di tengah jalan karena menghadapi rumitnya nahwu dan sharaf. Tapi izinkan saya bertanya: apakah ada investasi keilmuan yang lebih berharga dari ini?

Ketika seseorang belajar bahasa Arab dengan sungguh-sungguh, ia tidak hanya mendapatkan kemampuan membaca kitab kuning. Ia juga:

1. Mendapat pahala dari setiap usaha memahaminya. Setiap huruf yang dipelajari, setiap kaidah yang dihafal, adalah ibadah jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memahami agama-Nya.
2. Mampu mengakses khazanah keilmuan Islam secara langsung. Jutaan kitab ulama selama berabad-abad menunggu untuk dibaca. Mereka tidak semuanya diterjemahkan, dan tidak semuanya bisa diterjemahkan dengan baik. Dengan bahasa Arab, pintu-pintu ilmu itu terbuka lebar.
3. Memiliki kemampuan untuk memverifikasi pemahaman. Di era informasi yang berantakan ini, banyak klaim agama yang beredar. Dengan kemampuan bahasa Arab, seorang muslim dapat kembali ke sumber primer dan memeriksa kebenaran klaim tersebut.
4. Merasakan keindahan Al-Qur’an secara langsung. Ada kenikmatan spiritual yang tidak tergantikan ketika kita membaca ayat Al-Qur’an dan langsung memahami maknanya, tanpa perantara terjemahan. Getaran kata-kata Allah yang menyentuh jiwa secara langsung adalah pengalaman yang tak ternilai.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan yang lain dengannya.” (HR. Muslim)

Maka menjadi pertanyaan bagi kita semua: maukah kita termasuk orang-orang yang diangkat derajatnya karena kitab suci ini, atau justru sebaliknya?

Bahasa Arab adalah kunci. Dan kunci itu telah tergeletak di hadapan kita. Ia menunggu untuk diambil, dipelajari, dan digunakan untuk membuka pintu-pintu kebijaksanaan yang selama ini terkunci.

Bayangkan jika seluruh umat Islam memiliki semangat yang sama dengan para salaf dalam mempelajari bahasa Arab. Bayangkan jika setiap muslim bisa membaca Al-Qur’an sambil langsung memahami maknanya. Bayangkan jika generasi muda kita tumbuh dengan kecintaan terhadap bahasa wahyu. Bukankah umat ini akan menjadi jauh lebih kuat, lebih paham, dan lebih mampu menghadapi tantangan zaman?

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Mungkin Anda saat ini sudah berusia lanjut dan merasa sulit belajar. Tapi ingatlah, setiap huruf yang Anda pelajari adalah pahala. Dan pahala tidak pernah mengenal usia.

Mungkin Anda masih muda dan memiliki banyak waktu. Manfaatkanlah. Belajarlah bahasa Arab dengan sungguh-sungguh. Jadikan ia bagian dari kurikulum hidup Anda.

Semua berawal dari sebuah gambar lucu di media sosial. Sebuah gantungan kunci dengan terjemahan yang keliru. Tapi dari situlah kita belajar bahwa bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi. Ia adalah pembawa makna. Ia adalah penjaga pesan. Dan ketika pesan itu adalah wahyu dari Tuhan semesta alam, maka menjaga ketepatannya adalah kewajiban setiap muslim.

Bahasa Arab bukanlah bahasa asing yang asing bagi umat Islam. Ia adalah bahasa ibu ruhani kita. Ia adalah bahasa surga. Dan siapakah yang tidak ingin berbicara dengan bahasa penghuni surga?

Maka, marilah kita mengambil kunci yang telah Allah letakkan di hadapan kita. Marilah kita belajar, memahami, dan menghidupkan bahasa Arab dalam kehidupan kita. Bukan karena ia adalah tujuan akhir, tetapi karena ia adalah jalan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan hidup kita yang sesungguhnya: mengenal Allah, mencintai Rasul-Nya, dan mengamalkan ajaran Islam dengan benar.
Wallahu a’lam bish-shawab.

*/ Penulis adalah seorang Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat.
Anggota Komisi Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat dan juga Bendahara Pusat Perkaderan Ulama Muhammadiyah (PPUM) Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar

Pos terkait