Menjaga Warisan Ulama, Menyongsong Masa Depan: Semangat Khidmat li Turāts wa Tajdīd

Oleh: Aya Syophia Miza, M.A
(Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat)

Di sudut-sudut pesantren dan masjid, sering kita lihat jajaran kitab kuning berdebu di rak-rak kayu. Sampulnya lusuh, kertasnya menguning, dan aksara Arab gundulnya terlihat angker bagi sebagian orang. Namun bagi yang memahami, di balik debu-debu itu tersimpan lautan ilmu yang tak pernah surut.

Turāts—warisan intelektual para ulama—bukanlah barang antik yang hanya layak dikenang. Ia adalah peta jalan yang telah dilalui oleh ribuan cahaya keilmuan Islam. Di dalamnya terkandung metodologi berpikir yang membuat para ulama dahulu begitu tajam dalam memahami nash, begitu cermat dalam menyusun argumentasi, dan begitu bijak dalam menjawab persoalan umat di zamannya.

Tapi mari jujur: mencintai masa lalu bukan berarti tinggal di sana.

Saya sering mendengar kegalauan anak-anak muda yang belajar agama. Di satu sisi, mereka ingin setia pada kitab-kitab klasik. Di sisi lain, mereka hidup di zaman yang berbeda total—dengan media sosial, krisis ekologi, ekonomi digital, dan persoalan-persoalan yang tak pernah terbayang oleh ulama abad ke-9.

Maka muncul pertanyaan: bolehkah kita berpikir baru?

Jawabannya: tajdīd justru adalah kewajiban.

Tajdid bukanlah penggantian agama dengan sesuatu yang asing. Ia adalah napas segar yang membuat Islam tetap relevan tanpa kehilangan ruhnya. Ia adalah keberanian untuk membaca ulang pemahaman dengan kacamata kekinian, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar yang telah mapan.

Bayangkan seperti pohon. Akarnya harus kuat mencengkeram tanah—itu turāts. Namun ranting dan daunnya harus tumbuh menjangkau matahari zaman—itu tajdid. Pohon tanpa akar akan tumbang. Pohon tanpa pertumbuhan akan mati.

Lalu di mana letak pengabdian kita?

Khidmat adalah jembatan emas antara turāts dan tajdid. Ia adalah gerakan untuk tidak sekadar membaca, tetapi menghidupkan. Bukan hanya memahami, tetapi mengamalkan. Bukan hanya hafal pendapat ulama, tetapi menghadirkan solusi.

Bayangkan jika generasi muda Islam hanya sibuk berdebat soal status hadits, namun tak peduli dengan pengangguran di sekitarnya. Atau sebaliknya, terlalu sibuk dengan tren kekinian hingga melupakan dasar-dasar fiqih ibadah.

Khidmat adalah menyadari bahwa ilmu yang dipelajari di majelis taklim harus sampai ke masjid, ke madrasah, ke kampus, ke pasar, ke ruang-ruang kebijakan, dan ke hati masyarakat.

Kita tidak butuh kader yang sekadar pandai berdebat dalil. Kita butuh kader yang bisa membaca konteks.

Kita tidak butuh kader yang hanya menghafal pendapat ulama. Kita butuh kader yang menguasai metodologi.

Kita tidak butuh kader yang bangga dengan gelar dan ijazah. Kita butuh kader yang rendah hati menghadirkan ilmu untuk kemaslahatan umat.

Kader yang dibangun dengan semangat Khidmat li Turāts wa Tajdīd adalah mereka yang:

· Berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam, sehingga tidak mudah goyah oleh arus pemikiran asing yang merusak.
· Berwawasan luas terhadap perkembangan zaman, sehingga tidak kaku dan tertinggal.
· Berani berpikir kritis namun santun, karena tahu bahwa perbedaan adalah rahmat.
· Mampu menerjemahkan kitab-kitab klasik ke dalam bahasa kehidupan sehari-hari.
· Teguh pendirian namun lembut hati, karena dakwah adalah kasih sayang.

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat, kita sering kehilangan pegangan. Di sisi lain, ketika terlalu asyik dengan masa lalu, kita kehilangan momentum.

Khidmat li Turāts wa Tajdīd adalah jalan tengah yang penuh berkah. Ia mengajarkan bahwa:

· Turāts adalah akar yang membuat kita tetap kokoh.
· Tajdīd adalah arah yang membuat kita tetap bergerak.
· Khidmat adalah makna yang membuat perjalanan ini terasa ringan karena dilakukan untuk umat, bukan untuk diri sendiri.

Coba renungkan: peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaan ketika para ulama dan ilmuwan tidak memisahkan antara warisan klasik dan inovasi baru. Mereka membaca Aristoteles dan Ibnu Sina, lalu mengembangkannya. Mereka menghafal Al-Qur’an dan Hadits, lalu menafsirkannya sesuai konteks.

Mereka tidak pernah bertanya, “Apakah ini bid’ah?” sebelum bertanya, “Apakah ini membawa manfaat bagi umat?”

Semangat itulah yang kita rindukan saat ini. Bukan semangat yang mematikan kreativitas dengan dalih “itu tidak pernah dilakukan sebelumnya.” Bukan juga semangat yang membuang tradisi dengan dalih “itu kuno dan usang.”

Kepada para santri, mahasantri, aktivis dakwah, dan siapa pun yang merasa terpanggil untuk mengabdi pada Islam:

Jangan pernah takut untuk menjadi generasi yang berbeda. Jadilah generasi yang tahu sejarah tapi tidak terperangkap di dalamnya. Jadilah generasi yang melek teknologi tapi tidak kehilangan nilai. Jadilah generasi yang kuat berargumentasi tapi tetap rendah hati.

Warisan ilmu adalah amanah. Pembaruan adalah kebutuhan. Pengabdian adalah panggilan jiwa.

Semoga semangat Khidmat li Turāts wa Tajdīd terus menyala dalam dada kita, menerangi langkah dakwah, dan melahirkan generasi ulama yang tidak hanya pandai bicara, tetapi juga mampu memberi solusi nyata bagi umat.

نَخْدُمُ التُّرَاثَ بِالْعِلْمِ، وَنُجَدِّدُ بِالْحِكْمَةِ، وَنَبْنِي الْمُسْتَقْبَلَ بِالْإِيمَانِ

“Kita berkhidmat kepada turats dengan ilmu, melakukan tajdid dengan hikmah, dan membangun masa depan dengan iman.”

Selamat berkhidmat. Selamat memperbaharui. Selamat membangun masa depan.

Related posts