Sekolah Rakyat: Mimpi Anak Suku Talang Mamak Menggapai Bintang

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, ARTIKEL — Tiga pasang mata menatap penuh harap. Kevin Saputra (18), Rio Ardianto (18), dan Rido (20) menggenggam erat impian mereka di balik seragam baru yang mereka kenakan. Meski raut gugup masih terbayang, semangat membara terpancar dari ketiga pemuda Suku Talang Mamak ini.

Saat Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul datang berkunjung, pertanyaan sederhana mengguncang ruangan: “Cita-citamu mau jadi apa nanti?”

Kevin menjawab mantap: “Mau jadi TNI, Pak.”

Rido dengan lantang menyusul: “Saya polisi, Pak.”

Momen mengharukan ini terjadi di Sentra Alyatama, Kota Jambi, Jumat (5/6/2026). Baru dua hari menapaki kehidupan asrama, ketiga pemuda dari Dusun Semerantihan, Desa Suo-Suo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, menunjukkan tekad yang tak terbendung.

Dari Pedalaman yang Terlupakan

Bayangkan perjuangan mereka. Suku Talang Mamak, komunitas adat yang mendiami pedalaman Jambi di sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh, selama ini hidup dalam keterbatasan akses. Sekolah satu atap yang disediakan pemerintah hanya memiliki dua guru pengampu. Jalan terjal dan geografis sulit membuat proses belajar mengajar nyaris tak pernah maksimal.

Hariyanto, Program Officer KKI Warsi, mengungkapkan fakta memilukan: dari sekitar 30 siswa SD dan 50 siswa SMP, banyak yang akhirnya keluar karena pembelajaran tidak efektif. Namun kabar baiknya, minat anak-anak Talang Mamak untuk bersekolah tergolong tinggi dibandingkan kelompok masyarakat adat lain.

Tahun ajaran 2026 menjadi titik balik. Sebanyak 11 calon siswa dari Suku Talang Mamak akan bergabung dengan Sekolah Rakyat Kota Jambi. Delapan di antaranya menempuh SMP, tiga melanjutkan ke SMA. Ini adalah hasil penjaringan lapangan yang didorong oleh keinginan kuat para siswa dan dukungan penuh orang tua.

Sekolah Impian di Tengah Kota

Sembari menunggu gedung megah Sekolah Rakyat di Kelurahan Bagan, Kecamatan Alam Barajo, rampung, mereka tinggal di Asrama Sentra Alyatama. Berita menggembirakan datang dari Wali Kota Jambi Maulana: progres pembangunan kompleks seluas 5,56 hektare itu telah mencapai 70 persen!

Bayangkan, kompleks pendidikan terpadu ini akan menampung hingga 1.080 siswa dengan fasilitas lengkap: ruang kelas, asrama, sarana olahraga, dan berbagai fasilitas pendukung. Lebih dari seratus calon siswa telah mendaftar di tingkat SMP saja!

Menjangkau “The Invisible People”

Gus Ipul menyampaikan pesan presiden yang menyentuh hati: “Sekolah Rakyat adalah persembahan bagi masyarakat yang selama ini tidak terlihat penderitaannya—the invisible people.”

Program yang mulai berjalan sejak 14 Juli 2025 ini telah menjangkau 166 titik di seluruh Indonesia. Kini, lebih dari 100 gedung permanen baru sedang dibangun, masing-masing mampu menampung seribu siswa. Pemerintah bahkan membuka 3.053 formasi guru dan 5.127 tenaga kependidikan untuk mewujudkan mimpi ini.

Pendidikan sebagai Jalan Perubahan

Dr Sofyan, Ketua Program Studi Magister Teknologi Pendidikan Universitas Jambi, menilai program ini sebagai langkah afirmatif yang patut diapresiasi. Model pendidikan berbasis asrama memungkinkan negara tidak hanya menyediakan akses belajar, tetapi juga menjamin kebutuhan dasar, memperkuat karakter, dan menciptakan lingkungan belajar kondusif.

“Keberhasilan program ini sangat bergantung pada integrasi kebijakan sosial dan pendidikan, kualitas pendidik, serta keberlanjutan pendanaan dan pendampingan peserta didik,” jelasnya.

Di Jambi, dua Sekolah Rakyat sedang dalam pembangunan, empat lainnya masih proses. Gubernur Al Haris optimistis, legalitas lahan sudah ada, tinggal menunggu persetujuan Kementerian Sosial.

Dari Kevin, Rio, dan Rido, kita belajar bahwa mimpi tak mengenal batas. Di balik seragam rapi dan senyum gugup mereka, terbersit harapan bahwa suatu hari nanti, mereka akan kembali ke pedalaman dengan pangkat TNI dan Polisi di pundak—menjadi pahlawan bagi komunitasnya sendiri.

Selamat menimba ilmu, para calon pahlawan bangsa!
Oleh: Agus Suprayitno

Related posts