MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Suasana haru sekaligus semangat membara menyelimuti komplek pendidikan Muhammadiyah Padang Panjang, Sabtu (2/5/2026). Ratusan santri, alumni, dan tokoh Muhammadiyah berkumpul dalam satu titik: resepsi milad ke-98 Pesantren Muhammadiyah Padang Panjang. Namun perhatian utama tertuju pada satu sosok yang datang langsung meninjau pembangunan Surau Buya Hamka – sebuah proyek ambisius untuk menghidupkan kembali jejak sang ulama legendaris.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendi, tampak khusuk mengelilingi area konstruksi. Matanya tak lepas dari setiap sudut surau yang kelak akan menjadi pusat keteladanan. Di sampingnya, Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Bachtiar dan Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumbar Ade Herdiwansyah ikut mendampingi.
Namun satu pernyataan Ade Herdiwansyah sontak membuat suasana makin bergelora. Dengan penuh harap, ia berujar, “Kehadiran Surau Buya Hamka bukan sekadar bangunan bersejarah. Target kita adalah melahirkan Hamka-Hamka baru! Generasi yang melanjutkan perjuangan dan meneladani keteguhan Buya Hamka sebagai kepala sekolah pertama di Kauman Muhammadiyah Padang Panjang.”
Siapa tak kenal Buya Hamka? Pria kelahiran Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, 17 Februari 1908 ini bukanlah ulama biasa. Bergelar Datuk Indomo, namanya harum sebagai sastrawan, penulis, dan tokoh Islam dunia. Buya bahkan menerima gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar Mesir dan Universitas Kebangsaan Malaysia. Kiprahnya di Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang pada 1930–1936 menjadi salah satu periode emas yang kini terus dikenang.
Pantauan di lokasi, pembangunan Surau Buya Hamka sudah mulai dibangun, mengingatkan pada kesederhanaan namun keagangan jiwa Buya. Pesantren yang kini giat mengembangkan kawasan sejarah ini bertekad menjadikan surau tersebut sebagai laboratorium karakter dan pusat studi pemikiran Islam.
Muhadjir Effendi dalam sambutannya mengapresiasi langkah nyata Pesantren Muhammadiyah Padang Panjang. “Ini bukan nostalgia. Ini investasi peradaban. Hamka tidak lahir dari ruang ber-AC, tapi dari surau dan perjuangan. Semoga surau ini memantik ribuan Hamka di masa depan,” tegasnya.
Milad ke-98 pun ditutup dengan doa bersama dan tausiah singkat di kompleks pesantren. Sebuah pertanda: dari tanah Padang Panjang, gema perlawanan dan ilmu Buya Hamka tak akan pernah padam. Siap-siap menyambut Hamka-Hamka baru!






