EKONOMI – Di sudut Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, berdiri sebuah usaha kuliner yang tak sekadar menjual makanan, tetapi juga merawat identitas budaya. Usaha tersebut adalah Randang Zara, produsen rendang yang lahir dari kecintaan terhadap masakan Minangkabau.
Berdiri sejak 2019, di inisiasi pria Minang bernama Rafdinal, Randang Zara berawal dari hobi memasak yang kemudian berkembang menjadi usaha serius. Berbeda dari banyak pelaku usaha lain, motivasi utama Rafdinal bukanlah keuntungan semata, melainkan keinginan untuk melestarikan rendang sebagai warisan budaya.
“Sejak awal saya bukan berorientasi pada uang, tapi bagaimana rendang ini tetap hidup sebagai bagian dari budaya Minangkabau,” ungkap Rafdinal, Kamis (26/03/26) saat berada di Outlet Randang Zara .
Komitmen tersebut membuahkan hasil. Pada akhir 2019, Randang Zara mendapat perhatian dari Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Padang. Melalui program bantuan senilai Rp.176 juta, dapur produksi usaha ini direnovasi hingga memenuhi standar nasional, bahkan setara dengan standar BPOM. Usaha ini juga telah mengantongi berbagai legalitas, mulai dari NIB, sertifikat halal, PIRT, hingga BPOM/MD dan HAKI.
Peresmian dapur produksi tersebut bahkan dilakukan langsung oleh Wali Kota Padang saat itu, Mahyeldi Ansharullah, sebagai bentuk apresiasi terhadap keseriusan dan kualitas usaha ini.
Inovasi di Tengah Tradisi
Randang Zara menghadirkan beragam varian rendang yang tidak biasa. Selain rendang daging, tersedia pilihan seperti rendang ikan bilis, udang rebon, ikan lais, ikan asin, jengkol, telur, hingga singkong. Keberagaman ini menjadi daya tarik tersendiri di tengah persaingan usaha rendang di Sumatera Barat.
Proses produksinya tetap mempertahankan cara tradisional, yakni menggunakan tungku kayu, meskipun sebagian juga memanfaatkan kompor modern. Menariknya, rendang yang dihasilkan mampu bertahan lebih dari satu tahun tanpa bahan pengawet.
Hal ini didukung oleh standar operasional yang ketat, pemilihan bahan baku berkualitas, serta penerapan kebersihan tinggi. Dalam proses produksi, pekerja menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan celemek untuk menjaga higienitas.
“Setiap hari kami menjaga kualitas, mulai dari bahan sampai kebersihan dapur. Itu yang membuat produk kami bisa tahan lama tanpa pengawet,” ungkap salah seorang karyawan Randang Zara.
Dari sisi kemasan, Randang Zara juga mengadopsi teknologi modern. Produk dikemas menggunakan aluminium foil, divakum, lalu melalui proses autoclave untuk memastikan sterilitas. Kemasan ini dinilai menjadi salah satu yang paling menarik di Kota Padang.
Menjangkau Pasar Lebih Luas
Produk Randang Zara telah dipasarkan di berbagai pusat oleh-oleh di Kota Padang, termasuk Christine Hakim. Bahkan, usaha ini pernah menjangkau pasar luar daerah seperti Batam, Pekanbaru, hingga Malaysia.
Promosi dilakukan secara aktif melalui platform digital seperti Instagram, Shopee, YouTube, dan TikTok. Selain itu, Randang Zara juga kerap mengikuti berbagai bazar nasional, salah satunya Pekan Nasional Petani dan Nelayan (PENAS).
Tidak hanya menjual produk, Randang Zara juga menghadirkan pengalaman budaya melalui layanan makan bajamba di lokasi usaha. Tradisi makan bersama khas Minangkabau ini bahkan pernah menarik perhatian tamu dari Amerika Serikat yang ingin mempelajari budaya lokal.
“Saya pertama kali mencoba rendang di sini, dan ada keinginan untuk Kembali mencicipinya. Rasanya autentik sekali,” sampai Tsabat (19 th), salah satu pelanggan Randang Zara yang siang itu tampak sedang memilih produk Rendang itu.
Menggerakkan Ekonomi Lokal
Saat ini, Randang Zara mempekerjakan enam orang, termasuk pemilik, dengan pembagian tugas mulai dari produksi hingga pemasaran. Menariknya, bahan baku yang digunakan sebagian besar berasal dari sumber lokal, seperti daging dari usaha potong setempat, bumbu dari pasar tradisional, serta ikan dari wilayah Riau.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung perputaran ekonomi masyarakat sekitar. Ke depan, Randang Zara berencana untuk terus berkembang dengan memanfaatkan teknologi, baik dalam proses produksi maupun pemasaran. Meski menghadapi persaingan ketat, usaha ini optimistis dapat bertahan dengan mengandalkan kualitas dan inovasi.
Dengan perpaduan antara tradisi dan modernisasi, Randang Zara membuktikan bahwa usaha kecil pun mampu naik kelas tanpa meninggalkan akar budayanya.
Oleh : Muhammad Zidan
Penulis adalah Mahasiswa Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Semester 2






