Kerahkan Mahasiswa Turun ke Jalan, Civitas Akademika FH UM Sumbar Suarakan Pemilu Bersih Anti Politik Uang

  • Whatsapp
Ratusan Mahasiswa FH UM Sumbar turun ke jalan lakukan aksi damai kawal pemilu bersih dan anti politik yang di Jam Gadang Kota Bukittinggi, Kamis (1/2). (Foto: Ist)

MINANGKABAUNEWS.COM, BUKITTINGGI – Civitas Akademika Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat Kampus III (FH UM Sumbar) melakukan aksi damai serta deklarasi kawal pemilu bersih 2024 sambil menyuarakan anti politik uang sepanjang, Kamis (1/2) siang.

Aksi dimulai dengan jalan kaki dari pelataran kampus FH UM Sumbar di Jalan By Pass Aur Kuning, kemudian menuju pelataran Jam Gadang sebagai titik kumpul untuk melakukan orasi kawal pemilu bersih. Aksi tersebut turut diikuti ratusan mahasiswa yang tergabung dari berbagai organisasi kemahasiswaan kampus yang tersebar di Kota Bukittinggi.

Read More

Mulai dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), BEM Universitas Mohammad Natsir, serta BEM ITB HAS Bukittinggi. Turut dalam aksi itu Dekan FH UM Sumbar, Wendra Yunaldi, yang ikut melakukan long march bersama rombongan mahasiswa.

Usai aksi jalan kaki yang dikuti ratusan mahasiswa berbaju almamater merah, rombongan mahasiswa sempat melakukan aksi teatrikal hingga orasi, sambil memajang sejumlah spanduk berisi imbauan bahaya politik uang.

dalam orasinya mengatakan aksi damai kawal pemilu 2024 yang diinisiasi oleh Lembaga Kajian Hukum dan Korupsi (LuHak FH UM Sumbar) bertujuan untuk menjadikan Pemilu 2024 sebagai pintu masuk untuk menyaring kontestan pemilu yang bersih dari cengkraman politik uang.

“Tentunya pemilu yang bermartabat secara teologis dan sosiologis, serta punya integritas yang sangat tinggi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat,” ungkap Wendra Yunaldi.

Dia menekankan bahwa aksi damai dan deklarasi kawal pemilu bersih anti politik uang pemilu 2024 ini, merupakan salah satu bagian dari Rencana Tindak Lanjut atau follow up tema Kampus Merdeka-Merdeka Belajar-Program Kawal Pemilu Bersih (KALIBER) yang dibentuk oleh FH UM Sumbar dibawah naungan LuHaK FH UM Sumbar.

“Aksi ini merupakan salah satu bentuk nyata dari proses kampanye program tersebut agar lebih masif dan menjadi role model bagi kampus-kampus lainnya, dan keterlibatan seluruh civitas akademika FH UM Sumbar dalam mengawal pemilu 2024 anti politik uang,” sebutnya.

Adapun Direktur LuHak FH UM Sumbar, Raju Moh Hazmi, dalam orasinya menyampaikan bahwa, politik uang dalam pemilu memberangus pilar negara hukum dan demokrasi, kemudian politik uang bahaya laten tindak pidana korupsi.

“Politik uang mencabik akar historis daulat rakyat, serta keempat, politik uang adalah kultur yang melahirkan para cukong, demagog, dan para penghianat cita-cita kultus kemerdekaan dan reformasi,” sebut Raju dalam orasinya.

Oleh karena itu, ia melanjutkan, kita bisa lihat bahwa aksi dan gerakan ini murni berdiri di atas kesadaran dan keresahan kita sebagai masyarakat kampus (akademik) terhadap praktik culas politik uang yang kerap menyandera kita dalam pemilu.

Pemilu sebagai kanal sirkulasi pemimpin kerap disandera dan diracuni oleh ‘tuba politik uang’. Sehingga, tidak mengherankan jika rahim pemilu acapkali melahirkan para pemimpin yang mengidap penyakit korup yang akut, banal, nir-etik, minim program dan irasional.

“Praktik inilah yang kemudian secara sistemik merusak ‘tubuh’ bangsa ini,” tambah Raju Moh Azmi.

Politik uang mengakibatkan pemilu gagal menjadi instrumen dalam melahirkan pejabat publik yang berintegritas. Dalam sistem proporsional terbuka, pemilu menjadi arena pertarungan kekuatan finansial dan popularitas personal semata.

Relasi kuasa patronase bergumul dengan kultur pragmatisme yang justru semakin menambah runyamnya pemilu.

“Oleh karena itu, memutus mata rantai politik uang adalah suatu keniscayaan. Ini adalah tanggung jawab moral, sosial, dan akademik dari masyarakat kampus untuk menyuarakannya,” tegasnya.

Aksi ini juga menampilkan teatrikal dan pembacaan puisi pergerakan oleh Ridwan, salah satu mahasiswa FH UM Sumbar. Ridwan memulai teatrikalnya dengan mengatakan demokrasi telah mati yang disimbolisasi dengan penaburan bunga diatas nisan yang bertuliskan kematian demokrasi.

Ridwan dalam teatrikalnya ingin menunjukan bahwa kematian demokrasi sesungguhnya terjadi salah satunya oleh politik uang. Politik uang menjadi momok menakutkan bagi proses demokrasi (pemilu) karena kuasa uang telah membeli daulat rakyat.

“Sehingga tidak heran jika pemilu gagal menjaring sosok pemimpin yang berintegritas,” imbuhnya. (akg/rel)


Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Minangkabaunews.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Related posts