Seni Mural Sebagai Medium Penyeimbang Lingkungan Untuk Konteks Konservasi

  • Whatsapp
foto ist : Seni Mural

SENI BUDAYA – Berbicara tentang seni, tentu bagi kita tidak asing lagi dengan kata “seni”. Seni sendiri bentuk ungkapan berupa ide atau gagasan serta perasaan yang dituangkan pencipta lewat sebuah karya yang bermakna. Makna yang tercipta dari sebuah karya di dapatkan dari hasil perenungan yang begitu dalam dan luas tentang dampak yang akan di timbulkan dari terciptanya karya tersebut.

Mural adalah suatu karya seni yang berkaitan langsung dengan masyarakat dan dapat memberi aspek keindahan untuk masyarakat melalui konsep penciptaan artistiknya terhadap kebutuhan masyarakat. Seni mural ditampilkan pada ruang yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat. Mural sendiri ditampilkan di pinggir jalan yang bertembok serta taman kota.

Read More

Hal yang dapat kita lihat pada saat ini, kota menjadi tempat habitat manusia untuk berkumpul, melakukan sosial- ekonomi, dan sosial-budaya. Berbagai macam aktivitas dilakukan dikota yang membuat mereka bertemu di suatu ruang yang bernama ruang publik. Dimana ruang publik ini menjadi tempat masyarakat untuk bertemu, saling sapa, berolahraga, berdagang, serta beraktivitas keseharian.Kota diharapkan menjadi tempat yang nyaman, dengan situasi dan kondisi lingkungan yang bersih, sehat, dengan pemandangan yang indah, rapi dan tertata membuat kota memiliki ciri khas ruang yang membedakannya dengan desa.

Namun, harapan kita sangat berbanding terbalik dengan kondisi yang terjadi. Seperti yang kita lihat di beberapa kota yang ada pada indonesia sangat miris. Baik itu dari segi kebersihan, lingkungan maupun kenyamanan kota itu sendiri. Seperti yang kita tahu bahwa tiap tahunnya masalah indonesia itu sendiri terletak pada sampah.

Hal ini disebabkan kurangnya tingkat kesadaran serta kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar terutama pada kota. Selain sampah, adapun permasalahan lingkungan hidup yaitu adanya kerusakan ekologi yang terjadi pada kota yang disebabkan oleh asap dari kendaraan bermotor. Ketika mural dihubungkan dengan keseimbangan lingkungan, maka mural diharapkan mampu membawa dampak yang cukup besar pada perkembangan kota.

Sekarang di tengah arus budaya urban yang sangat tinggi serta tingkat kepadatan masyarakat kota, perkembangan mural bisa dihubungkan dengan memperindah sudut pandang kota yang ‘hilang’ akibat padatnya pengguna jalan raya, tingginya pemilik kendaraan bermotor hingga kemacetan yang terjadi. Begitu pula dengan lingkungan yang tidak seimbang akibat penebangan pohon yang sebenarnya difungsikan sebagai paru-paru kota menambah panasnya hunian serta tingkat polusi yang tinggi.

Hal demikian dimanfaatkan oleh mural dengan ‘menawarkan’ alternatif bagi mata untuk menangkap kesan estetik ketika hal itu tidak ditawarkan oleh bangunan kota, papan iklan maupun estetiknya mobil keluaran terbaru. Dalam politik kota yang semrawut, penggagas proyek mural berbicara tentang kota yang memerlukan sentuhan seni rupa mutakhir.

Hal ini menunjukkan kegelisahan para perupa kontemporer untuk mencari kaitan antara wacana seni rupa dan kehidupan kota sebagai representasi keseharian. Kota sebagai salah satu tujuan dalam seni mural berupaya dihidupkan lagi setelah ‘dimatikan’ oleh perkembangan industri dan berbagai dampak yang mengikutinya. Kerusakan ekologi yang dimunculkan dalam bentuk kepulan asap kendaraan bermotor, panasnya cuaca akibat tidak adanya lagi pohon-pohonan, dinding kota yang tak terawat serta segala bentuk kebisingan ‘disegarkan’ kembali oleh mural yang kaya warna dan kaya interpretasi dalam segala aspek visualnya.

Seni mural menjadi salah satu alternatif yang dapat dijadikan sebagai penyeimbang lingkungan ketika lingkungan kota tidak memberi lagi kesegaran bagi panca indera secara lengkap, namun dengan kehadiran mural, minimal mata sudah menjadi indera yang dapat menikmati keindahan kota yang dihiasi dengan segala macam imajinasi yang tergambar dalam mural.

Mural yang divisualkan oleh seniman mampu menggiring masyarakat yang melihat akan menikmati nilai estetis yang terdapat pada dinding atau ruang publik yang telah berisi gambar mural, maka dengan sendirinya masyarakat yang melihat mural tersebut akan menjaga keindahan ruang publik tersebut karena masyarakat telah mampu merasakan kenyamanan dan tentunya kebersihan tata ruang publik.

Mural yang divisualkan di ruang-ruang publik tentu harus sejalan dengan keadaan lingkungan dan budaya kota, maka perang penting seniman yaitu dibutuhkan konsep yang matang, dan hasil karya yang dihasilkan bukan hanya ekspresi diri pribadi seniman, tapi lebih mengarah pada suasana yang selaras atau sesuai dengan suasana lingkungan kota.

Tapi dalam hal ini kebebasan seniman dalam menyalurkan imajinasinya tidak serta merta dikekang atau ruang geraknya dibatasi, asalkan tidak keluar dari gagasan yang ingin di gambarkan pada ruang publik tersebut. Maksudnya, seniman tetap bebas berekspresi tapi dalam kaidah-kaidah tema yang telah disepakati, agar gagasan atau isi yang ingin disampaikan pada khalayak di ruang publik yang notabenenya tempat berkumpul masyarakat lebih muda dipahami.

Dapat kita ketahui berbagai macam gambar mural yang ditampilkan di pinggi jalan, dari segi etisnya tentu mural tersebut memberi pesan mulai dari gambar yang ditampilkan yaitu tong sampah dan sampah (sampah organik dan sampah non organik), secara langsung orang yang akan melihat gambar akan sadar akan pentingnya membuang sampah ditempatnya, selanjutnya gambar yang ditampilkan yaitu “sampah masyarakat”, secara umum gambar ini memberi pesan pada masyarakat agar menjadi masyarakat yang bisa menjaga kenyamanan dan ketentraman dalam bermasyarakat.

Dalam mural itu juga telah diperjelas dengan adanya tulisan “benahi kota, rumah kita bersama”, pesan ini mendorong masyarakat agar tetap menjaga dan memelihara lingkungan. Dengan demikian mural yang divisualkan oleh seniman secara tidak langsung pemeliaharaan lingkungan sekitar ruang publik akan ikut terjaga, ini dikarenakan mural yang divisualkan seniman tentu memiliki pesan-pesan konservasi lingkungan. Karena karya seni mural bertujuan sebagai tempat berkomunikasi antara seniman, karya dan masyarakat secara langsung tanpa ada batasan dan bernilai positif agar mudah dipahami oleh masyarakat.

Oleh : Mela Oktaviani
Penulis adalah Mahasiswi Semester 5
Jurusan Biologi Universitas Andalas Padang

Related posts