MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Kabar gembira datang bagi keluarga prasejahtera yang selama ini gigit jari karena rumahnya berdiri di atas tanah orang lain. Pasalnya, bantuan renovasi rumah dari pemerintah kerap mentok di aturan administratif. Tapi kini, Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersatu padu mengerahkan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk menyasar mereka yang selama ini luput dari bantuan negara.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini adalah jawaban atas kegalauan banyak keluarga. “Bantuan Baznas menjadi penting, terutama bagi keluarga yang rumahnya berdiri di atas tanah bukan milik sendiri. Mereka tidak bisa memperoleh bantuan pemerintah secara formal,” ujar Gus Ipul saat ditemui di Jakarta, Kamis.
Dengan nada optimis, ia menjelaskan bahwa fokus kerja sama ini adalah hal-hal yang memungkinkan, seperti merenovasi rumah-rumah orang tua atau keluarga siswa dari Sekolah Rakyat agar lebih layak huni. “Nah, yang seperti ini kita perlu uluran tangan Baznas. Mereka bisa membantu meski rumah itu tidak berdiri di atas tanah sendiri,” tegasnya.
Salah satu bukti nyata sudah terlihat di Kabupaten Indramayu. Pada 2025, Kemensos, Baznas, dan Pemerintah Kabupaten Indramayu bergotong royong menyediakan lahan seluas satu hektare. Lokasi itu digunakan untuk merelokasi rumah-rumah nelayan di Desa Eretan yang sebelumnya tak layak huni. Bukan sekadar pindah tempat, Baznas turun tangan membangun infrastruktur, tempat ibadah, hingga pusat pemberdayaan UMKM. Bahkan, bantuan dari program tanggung jawab sosial (CSR) sebuah perusahaan ikut mengisi.
“Alhamdulillah, sekarang sudah selesai. 93 keluarga nelayan sudah menempati rumah baru mereka,” kata Gus Ipul dengan bangga. Tak berhenti sampai di situ, Kemensos meneruskan dengan program pendampingan dan pemberdayaan. Targetnya? Keluarga-keluarga itu bisa bangkit menjadi lebih mandiri.
Lokasi berikutnya sudah diincar. Kabupaten Mesuji di Provinsi Lampung menjadi sasaran berikutnya. “Lebih dari 100 keluarga nelayan yang masih tinggal di bantaran sungai akan kami relokasi. Kerja sama ini terus berlanjut,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Baznas, Sodik Mudjahid, menyambut hangat komitmen ini. Menurutnya, dana umat seperti zakat harus dikelola dengan adil, proporsional, dan berkelanjutan. “Pendekatan kita sekarang bukan cuma bagi-bagi langsung. Kita bangun ekosistem ekonomi,” jelas Sodik.
Ia memberi contoh nyata di Lombok, NTB. Baznas membina peternak sapi, ayam, dan kolam ikan. Hasil produksinya kemudian diserap oleh dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Begitu juga pascabencana di Aceh dan Sumatera, program pemberdayaan lewat bantuan modal tetap dilanjutkan setelah masa darurat usai.
Agar tepat sasaran, seluruh program kolaborasi ini akan mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Tak ada lagi alasan bantuan meleset. So, siap-siap, program keren ini bakal menjangkau kantong-kantong kemiskinan di seluruh Indonesia!






