Buya Gusrizal Bongkar Rahasia Besar: Posisi Allah Jangan Dibayangkan Seperti Tumpukan Bantal! Manusia Cuma ‘Lingkaran Kecil’ yang Gak Ada Artinya!”

  • Whatsapp
Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Perdebatan klasik soal “di mana Allah” selama ini dianggap para ulama sebagai pertanyaan kekanak-kanakan. Tapi bulan madu, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa—ulama kharismatik sekaligus Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat—membuat jemaahnya di Surau Bukittinggi terdiam seribu bahasa. Dengan santai beliau menjelaskan: langit dan bumi yang kita banggakan itu, di sisi kursi Allah, cuma seperti gelang kecil di tengah padang pasir. Lebih mencengangkan lagi, kursi itu sendiri hanya bagaikan satu lingkaran kecil dibandingkan dengan Arasy Allah. “Kita terlalu kecil untuk bicara Allah di mana,” tegas Buya. “Bahkan Nabi SAW tak pernah membatalkan orang yang bilang ‘Allah di sana’. Lalu kita masih ribut apa?”

Seorang ulama kharismatik yang juga Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, baru saja melempar pernyataan yang menggetarkan pemahaman umum tentang posisi Allah.

Dengan tenang, Buya menjelaskan sebuah analogi yang jarang terpikirkan. “Kursi Allah itu seluas langit dan bumi. Tapi sadarkah kita? Langit dan bumi beserta seluruh isinya itu, di sisi Allah, hanya bagaikan sebuah lingkaran kecil (halakah) di padang pasir yang luas,” ujarnya dalam pengajian tauhid yang berlangsung beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, betapa kecilnya dimensi manusia. “Bumi dan seluruh isinya, hanya berada dalam genggaman Allah. Bahkan langit yang tujuh lapis itu, akan digulung hanya dengan ilmu-Nya.”

Lantas, mengapa manusia masih saja sibuk berdebat soal di mana Allah? Buya dengan tegas menyebut perdebatan itu seolah tak berarti lagi.

“Allah jelas Aliyyun (Maha Tinggi). Keistimewaan Allah di atas Arasy tidak akan menjadi perdebatan lagi,” tegasnya.

Namun, sambung Buya, masalah muncul karena sebagian orang membayangkan hubungan antara bumi, kursi, dan arasy seperti lapisan-lapisan yang bertumpuk. Akibatnya, mereka pusing membayangkan ‘di atas’ secara fisik, seperti posisi dua tangan yang satu di atas lainnya. Padahal cara pikir seperti itu keliru karena mereka lupa bahwa Allah meliputi segala sesuatu dengan zat dan ilmu-Nya.

“Kita terlalu kecil untuk berbicara tentang di mana Allah. Karena itu, Nabi SAW sendiri tidak pernah membatalkan seorang pun yang mengatakan ‘Allah di sana’. Kenapa? Karena jika kita memaksakan logika ‘di atas berarti tidak di bawah’, maka kita terjebak pada anggapan bahwa ada jarak dan lapisan antara kita dengan Allah, seperti halnya dengan makhluk-Nya yang lain. Padahal tidak seperti itu,” pungkas Buya Gusrizal.

Pernyataan ini sontak mengundang perenungan mendalam, sekaligus meredakan debat klasik yang kerap memecah umat. Apakah selama ini perdebatan soal posisi Allah hanyalah karena keterbatasan analogi manusia? Wallahualam.

Related posts