Nyesel Kalau Gak Baca! Gara-gara Ngopi Bareng, Desa-desa di Sidoarjo Ini Kini Berubah Jadi Primadona

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, ARTIKEL — Siapa sangka, secangkir kopi panas ternyata bisa menjadi obat ampuh untuk membangkitkan desa-desa tertinggal di Sidoarjo. Ya, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo punya cara unik yang bikin penasaran: ngopi sama warga, lalu dengerin curhatan mereka. Program itu namanya Kopilaborasi.

Konsepnya sederhana tapi brilian. Para pemuda, perangkat desa, hingga wartawan duduk santai sambil menyeruput kopi. Tak ada formalitas kaku, yang ada justru ide-ide gila meluncur deras. Hasilnya? Dua desa sudah membuktikan: potensi yang selama ini terpendam tiba-tiba meletup jadi fenomena.

Coba tebak, Desa Jogosatru dulu punya stigma negatif: disangka sarang preman, plus heboh kasus seorang nenek yang viral karena buang hajat di halaman tetangga. Sekarang? Desa itu berubah 180 derajat. Siapa dalangnya? Seorang pemuda bernama Ilyas.

Dengan modal ponsel dan segudang kreativitas, Ilyas mulai mengabadikan Pasar Legi Jogosatru—pasar rakyat yang cuma buka di hari-hari Legi menurut kalender Jawa, dari subuh hingga menjelang Zuhur. Di sana ada lontong kupang, aneka jajanan lawas, hingga hiruk-pikuk pedagang yang otentik.

Video dan fotonya di media sosial mendadak viral. Orang-orang Sidoarjo yang gak pernah dengar desa itu mendadak penasaran. Kini, setiap hari Legi, pengunjung membludak. Stigma “desa preman” perlahan ludes tergantikan oleh citra desa wisata kuliner yang eksotis. Ilyas tersenyum: “Konten kita akhirnya membuka mata warga sendiri tentang kekayaan yang mereka miliki.”

Tapi cerita manis tak berhenti di situ. Kegiatan Kopilaborasi kedua seminggu kemudian mengupas tema “Sport Tourism”. Kali ini, giliran pemuda Desa Keloposepuluh yang angkat bicara. Mereka punya lapangan bola. Dulu lapangan itu becek, ilalang, nyaris tak terpakai. Tapi lima tahun terakhir, desa nekat merombaknya total.

Berkat alokasi anggaran desa yang dikelola profesional lewat BUMDes, lapangan itu kini mulus, dicat kinclong, bahkan difasilitasi Wi-Fi berkecepatan tinggi. Hasilnya? Sistem penyewaan lapangan mendatangkan pundi-pundi rupiah untuk kas desa. Tak cuma itu, lapangan itu juga menjadi pusat kegiatan pemuda, kompetisi sepak bola antarsekolah, hingga destinasi wisata olahraga.

M. Taufik, Ketua Forum Wartawan Sidoarjo yang juga pemain bola aktif, memanaskan suasana. Ia membeberkan fakta mengejutkan: meski hampir tiap desa punya sekolah sepak bola (SSB), banyak yang tak punya lapangan sendiri. “Ini peluang kolaborasi antardesa!” serunya. Idealnya, lapangan desa yang sudah bagus bisa disewa lintas-SSB, sekaligus melahirkan kompetisi terstruktur. Bayangkan jika bibit pemain lokal Sidoarjo menembus nasional—itu bukan mimpi.

Tak cuma wacana, pemerintah bergerak cepat. Kepala Diskominfo Sidoarjo, Eri Sudewo, yang hadir di dua forum itu, berjanji bakal memasang Wi-Fi di setiap lapangan bola desa. Ia juga mendorong pemuda memanfaatkan AI untuk promosi desa, serta bergabung dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). “Internet sudah kami pasang di tiap desa. Sekarang giliran anak muda yang bergerak,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD Sidoarjo, Wawan, memberi lampu hijau. “Asal tidak melanggar hukum dan norma, kami dukung penuh. Jangan berpangku tangan. Ceritakan desamu, maka ekonomi akan mengikutinya.”

Kopilaborasi telah membuktikan satu hal: kemajuan desa tak perlu menunggu proyek raksasa. Cukup dengan kopi, keterbukaan, dan nyali untuk memulai. Sidoarjo kini menjadi laboratorium hidup bahwa kolaborasi adalah kunci. Penasaran dengan desa-desa lain yang bakal tersentak bangun? Pantau terus. Bisa jadi desamu berikutnya.

Oleh: Astrid Faidlatul Habibah/Fahmi Alfian

Related posts