Air Mata Aljabar di Depan Pejabat: “Saya Tak Pernah Sekolah Seumur Hidup” – Misi Besar Negara Jemput Anak Jalanan

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, ARTIKEL — Ruangan itu sunyi. Hanya isak tangis yang bergema pelan di sudut gedung Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Pejompongan, Jakarta Pusat. Muhammad Aljabar Nur, pemuda asli Jakarta Timur, berdiri dengan tangan gemetar. Di hadapannya duduk para pejabat tinggi negara. Ia ingin bicara, tapi suaranya pecah berulang kali.

Lalu, ungkapannya meledak seperti bom waktu yang selama ini tertahan.

“Saya… belum pernah sekolah, Pak. Sekali pun tidak.”

Hening. Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet, menatapnya lekat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf ikut terdiam. Di luar, Jakarta sedang bersiap merayakan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026. Tapi di ruangan ini, perayaan itu terasa seperti tendangan keras ke dada. Sebab di usia remaja yang seharusnya penuh buku dan seragam, Aljabar hanya mengenal panasnya aspal dan teriknya lampu merah.

Aljabar bukan sendiri. Di sampingnya duduk Rizki Saputera Gonjalez, anak Jakarta Utara yang putus sekolah sejak kelas V SD. Ada pula Putri Nana Kurnia, siswi kelas IX SMP yang tak tahu akan melanjutkan ke mana setelah lulus. Ayahnya hilang kabar bertahun-tahun. Ibunya berjualan dengan penghasilan yang tak pernah cukup.

Mereka adalah wajah-wajah yang selama ini tak terlihat oleh sistem. Tersembunyi di balik gemerlap ibu kota. Tersingkir oleh tembok ekonomi yang tebal.

Dan data membenarkan itu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka partisipasi sekolah untuk usia remaja 16-18 tahun di Jakarta masih menyisakan celah hingga 22-24 persen. Hampir seperempat generasi emas ibu kota tidak lagi tercatat sebagai siswa. Sebagian bekerja. Sebagian lain hilang entah ke mana.

Tapi sore itu, negara memilih tidak lagi berpaling.

Tidak ada podium megah. Tidak ada meja panjang berlapis kain merah. Yang ada hanya deretan kursi biasa yang ditata melingkar. Teddy Indra Wijaya dan Mensos Saifullah Yusuf memilih duduk sejajar dengan Aljabar dan teman-temannya. Bukan sebagai atasan, tapi sebagai manusia yang ingin mendengar.

Sesekali Teddy menepuk bahu Aljabar yang masih terisak. Suaranya lembut, seperti kakak yang menghibur adiknya.

“Jangan nangis, di sini nggak boleh sedih lagi. Insya Allah bisa membanggakan keluarga. Cita-cita tercapai semua, amin.”

Aljabar mengusap matanya. Guncangan di bahunya perlahan mereda. Untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat.

Teddy menjelaskan bahwa gedung di kompleks LAN ini — yang sedang disulap menjadi Sekolah Rakyat — akan menjadi tempat tinggal sekaligus belajar bagi anak-anak seperti Aljabar. Bukan hanya gratis biaya. Mereka akan mendapat jaminan tempat tinggal layak, asupan gizi bergizi setiap hari, dan lingkungan yang mampu menumbuhkan kembali mimpi-mimpi yang mati suri di tengah hiruk-pikuk jalanan.

Ini adalah satu dari 10 titik rintisan di Jakarta yang dikhususkan untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem atau desil 1-2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Targetnya? Menjaring mereka yang selama ini tak tersentuh bangku sekolah.

Dan cara menjaringnya pun berubah drastis. Tidak lagi pasif menunggu laporan. Kementerian Sosial turun langsung ke perempatan jalan, pasar, kawasan kumuh, bahkan bawah jembatan. Mereka menyisir satu per satu anak-anak yang mengamen, mengasong, atau sekadar terdiam di pinggir jalan.

Hasilnya? Hingga kini tercatat 77 anak di Jakarta dan sekitarnya memenuhi kriteria. 29 di antaranya ditemukan sedang bekerja di jalanan.

Mensos Saifullah Yusuf menegaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah atensi khusus dari Presiden Prabowo. Bukan program seremonial. Bukan janji manis di atas kertas. Ini adalah gerakan jemput bola yang paling nyata.

“Kita harus berani jujur. Masih banyak anak bangsa yang belum bisa sekolah,” ujar Gus Ipul, sapaan akrabnya.

Kejujuran itu lalu disambut dengan langkah konkret: memanfaatkan aset-aset pemerintah yang sudah dinyatakan layak oleh Kementerian PU. Selain kompleks LAN, gedung milik Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertanian, BNN, hingga Tagana Center di Hambalang, Bogor, ikut disulap menjadi ruang-ruang kelas yang menghidupkan harapan.

Di wilayah Jakarta dan penyangga saja, kapasitas yang disiapkan mencapai 1.000 siswa.

Tapi yang membuat program ini berbeda dari sekolah umum adalah pendekatan terpadunya. Setiap siswa Sekolah Rakyat otomatis terintegrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), jaminan kesehatan PBI JKN, bahkan program 3 juta rumah bagi keluarga mereka.

Pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan urusan perut, kesehatan, dan papan. Sebab anak-anak miskin tidak bisa belajar dengan perut keroncongan atau hati yang cemas memikirkan biaya pengobatan ibu mereka.

Skalanya nasional. Pemerintah saat ini tengah membangun 166 Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar di 38 provinsi. Kapasitas total mencapai 15.900 siswa. Ribuan tenaga pendidik dan kependidikan telah disiapkan untuk mengajar dari jenjang SD hingga SMA.

Target jangka panjangnya bahkan lebih ambisius: 500 sekolah permanen hingga tahun 2029. Tahun ini saja, 101 sekolah permanen akan mulai dibangun di berbagai penjuru negeri.

Proses verifikasi dan penjangkauan ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Anak-anak seperti Aljabar, Gonjalez, dan Nana diharapkan sudah bisa mengikuti aktivitas belajar-mengajar pada tahun ajaran baru pertengahan Juli mendatang.

Tapi harapannya tidak berhenti di ijazah. Lulusan Sekolah Rakyat ditargetkan tidak hanya melek huruf dan angka, tapi juga mampu menjadi pemimpin masa depan. Mereka yang bercita-cita menjadi prajurit TNI, masuk sekolah kedinasan seperti STIP, atau menembus perguruan tinggi ternama — akan difasilitasi.

Sekolah Rakyat adalah jembatan paling nyata untuk menyeberangi jurang kemiskinan menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Pada peringatan Hardiknas 2026 ini, di sela-sela debu konstruksi dan tumpukan buku yang mulai tertata di Pejompongan, sebuah harapan baru lahir. Harapan bahwa tidak ada lagi anak Indonesia yang harus menangis hanya karena tidak punya kesempatan belajar.

Keadilan sosial sedang dijemput dari jalanan. Dibawa masuk ke dalam kelas. Dan dirajut menjadi masa depan yang lebih inklusif.

Aljabar sudah berhenti menangis sekarang. Matanya mulai berbinar. Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan lagi anak yang terbuang.

Ia kini punya alamat: Sekolah Rakyat, Pejompongan. Tempat di mana negara menepati janjinya.

Related posts