MINANGKABAUNEWS.com, PASAMAN BARAT — Suasana di kantor Titik Nol Pasaman Barat, Sabtu (16/5/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar pertemuan biasa, di sanalah semangat perubahan besar mulai digaungkan. Para pemuda, mahasiswa, dan aktivis duduk melingkar, tak hanya datang untuk mendengar—mereka datang untuk menggugat.
Dialog bertajuk “Pasaman Barat dalam Kacamata Kemajuan” itu berlangsung panas, tapi tetap penuh gagasan segar. Di panggung narasumber, empat anak muda handal bergantian melempar fakta yang mengundang geleng-geleng kepala.
Andika Adi Saputra, jurnalis Pasaman Barat, menjadi yang pertama membuka tabir. Dengan tegas ia menyoroti satu luka yang selama ini jarang tersentuh: minimnya keterbukaan publik. “Transparansi bukan sekadar wacana. Tanpa itu, masyarakat buta arah kebijakan, buta anggaran, buta pembangunan. Akibatnya? Kepercayaan publik luntur, partisipasi rakyat mati suri,” ujarnya. Lebih lanjut, ia mengkritik dua sisi persoalan: ada pihak yang sulit terbuka, dan masyarakat yang kerap menerima informasi mentah-mentah tanpa pemahaman utuh. Hasilnya? Polemik di mana-mana.
Lalu giliran Rizki Aulia, anggota DPRD Pasaman Barat, yang tak kalah blak-blakan. Ia mengungkapkan bahwa angka kemiskinan di Pasaman Barat masih menjadi pekerjaan rumah yang mengerikan. “Jangan hanya program seremonial atau narasi pembangunan di atas kertas. Rakyat butuh langkah nyata. Kebijakan yang berpihak, penguatan ekonomi kecil, dan informasi yang sampai ke akar rumput,” tegasnya. Kata-katanya seperti tamparan halus bagi siapa pun yang selama ini merasa pembangunan sudah berjalan baik.
Tak berhenti di situ, Muhammad Guntara—seorang politikus Pasaman Barat—menambahkan satu lagi titik kritis: birokrasi yang stagnan. “Banyak kebijakan dan mutasi pejabat yang minim pemberitahuan ke publik. Masyarakat lelah. Mereka minta birokrasi yang profesional, transparan, responsif. Jangan lupa, kemajuan daerah bukan cuma soal gedung-gedung megah, tapi bagaimana pemerintah membangun kepercayaan,” katanya dengan nada bersemangat.
Ade Herdiwansyah, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumbar yang bertindak sebagai pemantik dialog, kemudian melontarkan pertanyaan reflektif yang membuat ruangan hening sejenak: “Apakah pembangunan hari ini benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat Pasaman Barat?” Baginya, kantor Titik Nol bukan sekadar tempat, tapi simbol. “Dari sini, mari kita tak hanya jadi pendengar. Beri gagasan, kritik, solusi. Perubahan besar selalu dimulai dari keberanian bicara jujur tentang keadaan yang sebenarnya,” pesannya.
Dialog yang dipandu Denni Meilizon (pegiat literasi sekaligus Redaktur Pelaksana Syarikat Mu Com) dan dibuka oleh Imsar (Sekretaris PDPM Pasaman Barat) ini berlangsung hidup. Para aktivis muda yang hadir tak cuma duduk manis—mereka ikut menyuarakan keprihatinan dan harapan. Acara ini sendiri digagas oleh Pemuda Muhammadiyah Pasaman Barat dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pasaman Barat.
Dari forum itu, lahir satu kesepakatan tak tertulis: kolaborasi, keberanian menyampaikan kebenaran, dan komitmen bersama untuk mewujudkan Pasaman Barat yang lebih maju, transparan, dan berkeadilan. Karena kemajuan bukan hanya tanggung jawab pemerintah—tapi tanggung jawab kita semua.
Apakah perubahan besar benar-benar akan terjadi? Waktu yang akan menjawab. Tapi yang jelas, dari Titik Nol ini, suara-suara lantang telah mulai terdengar. Dan tak akan bisa dibungkam lagi.






