MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Suasana Auditorium Universitas Andalas (Unand) mendadak berubah menjadi lautan semangat, Kamis (30/4/2026). Ratusan pasang mata, hadir secara Offline, tertuju pada panggung tempat harapan baru ditebar. Di sinilah, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama ParagonCorp resmi mengokohkan kolaborasi dahsyat untuk pendidikan mahasiswa kurang mampu, khususnya yang terdampak bencana hidrologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Bukan angka biasa. ParagonCorp menyalurkan dana zakat perusahaan dan CSR mencapai Rp1,5 miliar. Dana raksasa itu langsung disalurkan untuk berbagai program, tapi yang paling menyentuh adalah Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB). Sebanyak 214 mahasiswa asal Aceh dan Sumatera yang sebelumnya terpuruk akibat bencana, kini bisa kembali menatap layar kuliah.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Pembangunan SDM butuh sinergi,” tegas KH. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, di hadapan Rektor Unand Dr. Efa Yonnedi, jajaran BAZNAS Provinsi Sumatera Barat, serta para mentor.
Lebih mencengangkan, Idy mengungkap fakta pahit: potensi zakat nasional mencapai Rp327 triliun per tahun, namun tergadai karena banyak muzaki yang belum taat pajak dan sadar zakat. Ia pun mengutip pengingat ilahi dari Surat At-Taubah ayat 103: “Khuz min amwalihim sadaqatan tuthahhiruhum” — ambillah zakat dari harta mereka untuk membersihkan dan mensucikannya.
Rektor Unand, Efa Yonnedi, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Tidak boleh ada lagi alasan ekonomi untuk tidak kuliah!” serunya. Ia bahkan mengaktifkan unit pengumpul zakat dan wakaf di kampusnya sebagai bentuk komitmen.
Sementara itu, Human Resource Business Partner Lead DC Padang dan Bukittinggi ParagonCorp, Elsa Mayori, menegaskan bahwa kepercayaan mereka kepada BAZNAS tidak pernah salah. Selain beasiswa, dana Rp1,5 miliar juga mengalir ke program Musholla Berseri, 1000 Ramadhan Bahagia untuk 250 penerima manfaat, bantuan hunian tetap bagi 300 korban bencana, serta revitalisasi masjid.
Yang paling membanggakan? Program BCB ini telah menjangkau 223 lembaga pendidikan dalam negeri hingga ke Rusia dan Timur Tengah. Bahkan, alumni BCB kini banyak yang menjadi muzaki baru. “Dari mustahik jadi pemberi zakat. Inilah siklus kebaikan sejati,” tutup Idy.
Astaga, kolaborasi ini bukan cuma soal uang, tapi perubahan sistem! Apa kabar pendidikan Indonesia ke depan? Pantau terus.





